Curhatan Eks Buruh Sritex Sukoharjo, 27 Tahun Abdikan Diri, Kini Berjualan Es Teler di Pinggir Jalan
Vincentius Jyestha Candraditya August 17, 2026 06:31 PM

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Anang Ma'ruf

TRIBUNSOLO.COM, SUKOHARJO – Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di kompleks bekas PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex), Sukoharjo, Jawa Tengah, Senin (17/8/2026), menjadi momen penuh ironi bagi ratusan eks buruh perusahaan tekstil tersebut. 

Di tengah semangat kemerdekaan, mereka justru kembali menyuarakan nasib yang hingga kini belum menemukan kepastian, yakni pembayaran pesangon pasca pemutusan hubungan kerja.

Keresahan para eks pekerja semakin dalam lantaran sebagian dari mereka harus menunggu terlalu lama. Bahkan, sejumlah mantan karyawan disebut telah meninggal dunia sebelum hak-haknya dibayarkan.

TAK MERASA MERDEKA - Ratusan eks karyawan PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex) menggelar upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di kompleks PT Sritex, Jalan KH Samanhudi, Sukoharjo, Jawa Tengah, Senin (17/8/2026). Bagi mereka, kemerdekaan belum sepenuhnya dirasakan selama hak pesangon pasca-PHK masih belum dibayarkan.
TAK MERASA MERDEKA - Ratusan eks karyawan PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex) menggelar upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di kompleks PT Sritex, Jalan KH Samanhudi, Sukoharjo, Jawa Tengah, Senin (17/8/2026). Bagi mereka, kemerdekaan belum sepenuhnya dirasakan selama hak pesangon pasca-PHK masih belum dibayarkan. (TribunSolo.com/Anang Maruf Bagus Yuniar)

Ketua Solidaritas sekaligus koordinator aksi, Agus Wicaksono, mengatakan upacara kemerdekaan yang digelar para eks buruh bukan sekadar seremoni tahunan. Kegiatan itu menjadi cara untuk mengingatkan publik, pemerintah, dan kurator bahwa persoalan pesangon masih belum terselesaikan.

“Ini sebenarnya bentuk kekesalan kami yang kami bungkus dalam upacara. Tuntutan kami agar proses pemberesan dan pembayaran pesangon segera dipercepat. Hak-hak kami masih tersandera, sehingga kami belum merdeka, tanda kutip,” kata Agus.

Menurut Agus, kemerdekaan bagi para eks buruh tidak hanya dimaknai sebagai terbebasnya bangsa dari penjajahan, tetapi juga terpenuhinya hak-hak pekerja yang telah puluhan tahun mengabdi di perusahaan.

Baca juga: Jeritan Eks Buruh Sritex Sukoharjo di HUT ke-81 RI : "Kami Masih Ada", Pesangon Belum Juga Cair

“Kami dari eks karyawan Sritex menggelar upacara 17 Agustus sebagai bentuk kecintaan kepada negeri. Kedua, kami ingin menginformasikan kepada dunia bahwa kami masih ada dan tetap menunggu pesangon yang belum dibayarkan,” ujarnya.

Ia menilai proses penyelesaian pesangon yang berjalan lambat telah menimbulkan beban berat bagi para mantan pekerja. Bahkan, ada rekan-rekan mereka yang tidak sempat menikmati haknya karena meninggal dunia lebih dulu.

“Sudah banyak teman-teman kami yang meninggal dalam penantian pesangon yang belum cair,” katanya.

Agus juga meminta kurator mempercepat proses pemberesan aset perusahaan agar pembayaran pesangon dapat segera direalisasikan. Menurutnya, para eks buruh selama ini merasa diabaikan meski persoalan mereka belum juga tuntas.

“Eks buruh Sritex masih ada. Selama ini kami seperti tidak dianggap dan diabaikan, baik oleh negara maupun kurator. Karena itu kami tetap meneriakkan bahwa kami masih ada,” tegasnya.

Puluhan Tahun di Sritex, Kini Berjualan Es Teler

Harapan serupa disampaikan Indriyati (45), mantan karyawan yang telah bekerja selama 27 tahun di Sritex. Baginya, peringatan kemerdekaan tahun ini menjadi momentum untuk kembali mengingatkan bahwa hak para pekerja belum dipenuhi.

“Sudah 27 tahun bekerja, tetapi kami belum merdeka karena hak-hak kami belum dibayarkan,” ujarnya.

Baca juga: Ratapan Eks Buruh Sritex: Sudah Banyak Teman Kami Meninggal dalam Penantian Pesangon Belum Cair

Setelah tidak lagi bekerja di Sritex, Indriyati kini berjualan es teler di pinggir jalan untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Ia berharap pesangon yang menjadi haknya, dengan nilai lebih dari Rp10 juta, dapat segera dibayarkan.

“Selain memperingati hari kemerdekaan Indonesia, kami juga berharap hak-hak kami segera bisa terselesaikan. Saya sudah 27 tahun bekerja dan sekarang berjualan es teler di jalan,” ungkap Indriyati.

Bagi para eks buruh, peringatan HUT ke-81 RI bukan hanya tentang mengenang perjuangan bangsa. Di balik kibaran Merah Putih, mereka masih menanti perjuangan lain yang belum usai: kepastian pembayaran hak yang telah lama mereka tunggu.

“Bagi kami, kemerdekaan itu ketika hak-hak kami sudah diselesaikan. Selama hak kami masih tersandera, kami merasa belum merdeka,” pungkas Agus.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.