HUT ke-81 RI, Warga Wringin Bondowoso Bangkitkan Kembali Tradisi Karapan Sapi
Thoriq August 17, 2026 09:56 PM

TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Bondowoso - Pemerintah Kecamatan Wringin menggelar pertunjukan budaya Karapan Sapi pada momen HUT ke-81 RI, Senin (17/8/2026).

​Budaya Karapan Sapi ini sejak dulu dilaksanakan secara turun-temurun oleh warga Kecamatan Wringin. Tradisi ini biasanya digelar sebagai ritual meminta hujan dan menggemburkan tanah sawah menjelang musim tanam.

Setelah sekian lama vakum, pertunjukam budaya ini akhirnya kembali diselenggarakan. Antusiasme masyarakat sangat luar biasa hingga ribuan warga memadati lokasi pertunjukan di Lapangan Kecamatan Wringin.

Baca juga: Tembok Pembatas Lapangan Karapan Sapi Roboh di Sumenep, Satu Orang Meninggal dan Tiga Terluka

​Camat Wringin, Misyono, menyampaikan bahwa pihaknya ingin kembali menghidupkan tradisi tersebut agar tetap lestari sebagai khazanah bangsa.

​"Khususnya di Kecamatan Wringin ini, budaya Karapan Sapi adalah tradisi yang sangat menarik, utamanya dalam menghadapi musim tanam," jelasnya.

​Ia menambahkan, selain membawa misi pelestarian budaya, kegiatan ini bertujuan memutar roda perekonomian masyarakat.

Sebab, banyak pedagang kaki lima (PKL) dan pelaku UMKM lokal Wringin yang ikut berjualan di sekitar arena.

​"Bagaimana pergerakan perekonomian, sampeyan bisa lihat hari ini banyak pelaku UMKM dan PKL berjualan," terangnya.

​Terdapat total 13 komunitas Karapan Sapi dari Desa Banyuwulu dan Desa Gubrih yang ikut serta. Masing-masing peserta membawa dua ekor sapi pedet jantan.

​Sapi-sapi tersebut dirias menggunakan pelbagai atribut berwarna-warni, kemudian diikat pada pangonong, yaitu sebatang kayu melintang yang diletakkan di atas leher sepasang sapi. 

Alat ini berfungsi menyatukan dan menyelaraskan gerak kedua sapi agar dapat berlari bersamaan. Pangonong tersebut dihubungkan ke kaleles, yakni kereta kayu kecil tempat joki berdiri mengendalikan laju sapi.

​Saat pertunjukan dimulai, musik saronen mengiringi joki yang berusaha menyelaraskan gerakan sapi di tengah kecepatan. Sapi-sapi ini beradu cepat di lintasan sepanjang sekitar 80 meter.

​Kades Gubrih, Abdul Bari, mengatakan desanya mengirimkan 5 pasang sapi dari komunitas lokal. Partisipasi ini lahir dari semangat warga yang ingin membangkitkan kembali gairah budaya daerah.

​"Ini memang budaya turun-temurun, jadi kegiatan ini bertujuan untuk menggairahkan desa lain," terangnya.

​Ia juga menyebut Karapan Sapi khas dengan iringan musik saronen dan tarian khusus saat mengantar sapi menuju arena pertandingan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.