TRIBUNNEWS.COM - Kelompok Houthi atau Ansar Allah Yaman kembali meluncurkan rudal ke arah Selat Bab al-Mandab dan pesisir Laut Merah, Yaman pada Senin (17/8/2026).
Informasi tersebut disampaikan pemerintah Yaman yang berbasis di Aden. Dalam laporannya, militer Yaman menyebut serangan tersebut melibatkan rudal balistik yang diklaim memiliki kemampuan hipersonik.
Komando militer Taiz mengatakan pihaknya mendeteksi dua rudal balistik hipersonik yang diluncurkan Houthi menuju wilayah Mocha di barat daya Yaman dan kawasan pesisir Laut Merah.
Rudal tersebut disebut diluncurkan dari bekas markas Brigade Pertahanan Udara ke-170 di Gunung Oman, yang berada di sebelah timur Kota Taiz dan kini berada di bawah kendali Houthi.
Selat Bab al-Mandab merupakan jalur laut strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan Samudra Hindia.
Jalur tersebut menjadi salah satu rute penting dalam perdagangan internasional. Kapal yang berlayar antara Asia, Timur Tengah, dan Eropa dapat melewati kawasan ini sebagai bagian dari jalur pelayaran utama.
Karena itu, peningkatan aktivitas militer di sekitar Bab al-Mandab dapat menimbulkan risiko terhadap kapal komersial dan mengganggu kelancaran perdagangan internasional.
Baca juga: Arab Saudi Bentuk Armada Gabungan, 13 Negara Bersatu Lindungi Laut Merah dari Ancaman Houthi
Pihak Houthi juga belum memberikan komentar resmi mengenai laporan peluncuran rudal tersebut.
Eskalasi terbaru terjadi sehari setelah Pasukan Perlawanan Nasional Yaman mengklaim Houthi telah menargetkan Kota Mocha dengan sedikitnya tujuh drone.
Mocha merupakan kota pelabuhan di pesisir Laut Merah yang memiliki posisi strategis karena lokasinya berdekatan dengan jalur menuju Selat Bab al-Mandab.
Serangan rudal dan drone secara beruntun menunjukkan meningkatnya aktivitas militer di wilayah pesisir barat Yaman.
Meski demikian, belum ada informasi independen yang dapat memastikan dampak serangan drone tersebut, termasuk apakah terdapat korban jiwa maupun kerusakan material.
Mengutip dari Anadolu, konflik antara Houthi dan pemerintah Yaman telah berlangsung selama lebih dari satu dekade.
Pada 2014, kelompok Houthi yang didukung Iran berhasil menguasai sebagian besar wilayah Yaman, termasuk ibu kota Sanaa.
Pengambilalihan tersebut kemudian memicu perang berkepanjangan antara Houthi dan pasukan pemerintah Yaman.
Pemerintah Yaman kemudian mendapatkan dukungan dari koalisi yang dipimpin Arab Saudi dalam menghadapi kelompok Houthi.
Konflik tersebut membuat Yaman mengalami ketidakstabilan politik dan krisis kemanusiaan yang berkepanjangan.
Sementara kterlibatan Houthi dalam konflik regional semakin meningkat setelah perang Israel-Gaza pecah pada 2023.
Kelompok tersebut kemudian melancarkan serangkaian serangan menggunakan rudal dan drone terhadap Israel serta kapal-kapal komersial yang mereka klaim memiliki hubungan dengan Israel di kawasan Laut Merah.
Serangan terhadap kapal dagang meningkatkan risiko pelayaran di salah satu jalur perdagangan internasional tersebut.
Sejumlah perusahaan pelayaran bahkan memilih menghindari Laut Merah dan Selat Bab al-Mandab untuk mengurangi risiko serangan. Perubahan rute dapat membuat perjalanan kapal menjadi lebih panjang dan meningkatkan biaya pengiriman.
Eskalasi terbaru di Yaman juga terjadi ketika konflik Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali meningkatkan ketegangan di Timur Tengah.
Houthi memiliki hubungan dekat dengan Iran dan selama beberapa tahun menjadi salah satu kelompok bersenjata yang aktif dalam konflik regional.
Meningkatnya aktivitas rudal dan drone memunculkan kekhawatiran situasi di Yaman dapat kembali berkembang menjadi konflik yang lebih luas.
Setiap peningkatan serangan di sekitar Laut Merah dan Bab al-Mandab juga berpotensi memberikan dampak langsung terhadap keamanan pelayaran internasional.
Bagi Yaman, situasi tersebut menjadi perhatian serius karena negara itu telah mengalami perang panjang dan krisis kemanusiaan.
Hingga kini, belum ada laporan korban jiwa maupun kerusakan material akibat peluncuran rudal terbaru. Namun, meningkatnya aktivitas militer menunjukkan bahwa kondisi keamanan di pesisir Laut Merah dan sekitar Selat Bab al-Mandab masih rentan terhadap eskalasi.
(Tribunnews.com / Namira)