Malam-Malam Panjang di Tenda Darurat, Warga Dhawe Nagekeo NTT Menanti Rumah Kembali
Hilarius Ninu August 17, 2026 10:47 PM

 

Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Albert Aquinaldo

TRIBUNFLORES.COM, MBAY — Warga Kelurahan Dhawe, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, masih bertahan di tenda-tenda darurat setelah gempa bumi kuat mengguncang wilayah Nagekeo dan sejumlah daerah di Flores, Sabtu (15/8/2026) pagi.

Malam demi malam sejak gempa Flores hingga Senin (17/8/2026), warga Kelurahan Dhawe masih tidur di tenda darurat dan mengaku belum mendapatkan bantuan dari pemerintah maupun pihak lainnya. 

Mereka pun mendesak Pemerintah Kabupaten Nagekeo, khususnya Dinas Sosial dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), segera turun ke lokasi untuk mendata kerusakan sekaligus menyalurkan bantuan bagi masyarakat terdampak.

Agus, warga RT 02 Kelurahan Dhawe, mengatakan sejak gempa pertama terjadi hingga Minggu (16/8/2026), warga masih menunggu kedatangan pemerintah untuk melihat secara langsung kondisi mereka.

 

Baca juga: Di Balik Tenda Pengungsian, Ada Bayi Satu Bulan di Nagekeo yang Menggigil Menahan Dingin

 

“Sejak gempa awal sampai saat ini belum ada pihak pemerintah yang turun ke lapangan dan memberikan bantuan,” ujar Agus, Senin (17/8/2026).

Menurut Agus, warga masih diliputi ketakutan dan kecemasan karena guncangan susulan masih dirasakan. 

Kondisi tersebut membuat sebagian warga memilih tidak kembali beraktivitas seperti biasa.

Warga juga mengaku belum memperoleh informasi yang cukup mengenai kondisi pascagempa, termasuk kemungkinan terjadinya gempa susulan.

“Saat ini kami masih takut dan cemas karena tidak ada informasi yang jelas dari pemerintah terkait kondisi gempa. Apakah masih ada susulan atau tidak. Jadi kami tidak bisa beraktivitas seperti biasa,” katanya.

Agus berharap pemerintah segera menyalurkan kebutuhan dasar, terutama makanan dan bantuan darurat lainnya.

“Kami minta kalau ada bantuan makanan, bisa diberikan kepada kami,” ujarnya.

Keluhan serupa disampaikan Hendrika Bai. 

Ia meminta pemerintah tidak hanya memusatkan perhatian pada wilayah perkotaan atau lokasi yang lebih mudah dijangkau.

Menurutnya, masyarakat di Kelurahan Dhawe juga mengalami dampak serius akibat gempa. 

Sejumlah rumah bahkan disebut mengalami kerusakan berat.

“Jangan hanya di kota menjadi pusat perhatian pemerintah. Kami di Kelurahan Dhawe juga terdampak. Banyak rumah yang rusak berat,” kata Hendrika.

Pasca-gempa, warga memilih mengungsi dan mendirikan tenda darurat secara mandiri. 

Sebagian warga bertahan di lapangan terbuka, sementara lainnya berada di badan jalan karena khawatir kembali ke rumah yang mengalami kerusakan.

Kondisi pengungsian semakin sulit karena jaringan komunikasi dilaporkan terganggu. 

Warga kesulitan menghubungi keluarga maupun kerabat. Aliran listrik juga dilaporkan padam.

“Kami di sini ada yang di lapangan, ada juga yang di jalan. Sampai saat ini jaringan hilang, kami tidak bisa berkomunikasi dengan keluarga. Listrik juga mati,” ungkapnya.

Mereka berharap pemerintah daerah maupun pemerintah pusat segera datang ke Kelurahan Dhawe untuk melihat langsung kondisi masyarakat terdampak.

“Kami berharap pemerintah daerah maupun pusat turun langsung meninjau lokasi dan melihat kondisi kami. Banyak rumah yang hancur. Kami tidak tahu harus berharap kepada siapa lagi,” keluhnya.

Warga Kelurahan Dhawe juga mengetahui adanya agenda kunjungan Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena bersama sejumlah pejabat pemerintah pusat ke wilayah terdampak gempa.

Mereka berharap kunjungan tersebut tidak hanya dilakukan di wilayah tertentu, tetapi juga menjangkau Kelurahan Dhawe yang disebut mengalami kerusakan cukup parah.

“Saya mendengar hari ini ada kunjungan Gubernur NTT dan beberapa menteri terkait. Kami berharap mereka datang sampai di sini dan melihat langsung kondisi kami,” pinta Agus dan Henderika.

Kerugian material akibat kerusakan rumah dan fasilitas warga diperkirakan mencapai miliaran rupiah. Namun, angka tersebut masih membutuhkan pendataan dan verifikasi resmi dari pemerintah maupun BPBD.

Gempa yang mengguncang Flores pada Sabtu (15/8/2026) dilaporkan berkekuatan Magnitudo 7,7 dengan kedalaman sekitar 15 kilometer.

Pusat gempa berada di laut, sekitar 30 kilometer timur laut Nagekeo.

Gempa tersebut tergolong gempa dangkal dan memiliki kemiripan lokasi serta mekanisme dengan gempa Flores pada 1992.

Gempa tersebut juga sempat memicu peringatan dini tsunami dari BMKG. 

Sejumlah wilayah kemudian mengalami gelombang tsunami. 

Masyarakat di wilayah terdampak pun diminta tetap memperhatikan informasi resmi terkait gempa susulan dan perkembangan kondisi kebencanaan.

Di tengah situasi tersebut, warga Kelurahan Dhawe berharap pemerintah bergerak cepat. Mereka meminta pendataan kerusakan segera dilakukan, disusul penyaluran makanan dan kebutuhan dasar, layanan kesehatan, serta penyediaan tempat pengungsian yang layak.

Bagi warga Dhawe, kebutuhan mereka saat ini sederhana tetapi mendesak: pemerintah hadir, melihat langsung kondisi mereka, dan memastikan masyarakat yang terdampak tidak dibiarkan menghadapi situasi pascagempa seorang diri. (Bet)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.