Limbah Ikan Jadi Pupuk, UMP Berdayakan Perempuan Nelayan Sentolo Kawat Cilacap Makin Mandiri
abduh imanulhaq August 18, 2026 10:56 AM

TRIBUNJATENG.COM, PURWOKERTO - Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) mendorong pemberdayaan perempuan nelayan Kampung Sentolo Kawat, Cilacap, melalui pengembangan keterampilan produktif dan pemanfaatan potensi pesisir berbasis ekonomi biru.

Upaya tersebut menjadi bagian dari inisiasi pengembangan wisata panorama pesisir yang melibatkan masyarakat setempat.

Program ini memperoleh hibah dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) Tahun 2026.

Baca juga: 18 Mahasiswa dari Mali hingga India UMP Purwokerto Nyanyikan Tanah Airku

Program ini dilaksanakan oleh tim lintas disiplin yang terdiri atas Itsna Nurrahma Mildaeni, M.A. dari Program Studi Psikologi, Dr. Endar Puspawiningtyas, S.T., M.T. dari Program Studi Teknik Kimia, dan Mukti Agung Wibowo, S.T., M.T. dari Program Studi Teknik Sipil.

Selain itu, kegiatan juga melibatkan mahasiswa Susy Susiati, Daffa Imam Hanif, Layli Rahmawati, dan Njawa Nur Fauziyah.

Kolaborasi tersebut memadukan pendekatan psikologis, keterampilan teknis, pemanfaatan limbah, serta pengembangan potensi kawasan pesisir.

Dr. Endar Puspawiningtyas, S.T., M.T. salah satu Anggota Tim Pengabdian menjelaskan, program yang dilaksanakan di Kampung Sentolo Kawat, Kelurahan Cilacap, Kecamatan Cilacap Selatan, Kabupaten Cilacap, pada 25 Juli 2026 lalu itu menyasar perempuan nelayan sebagai kelompok strategis dalam penguatan ketahanan dan kemandirian ekonomi keluarga, kegiatan diawali dengan pelatihan peningkatan kesadaran dan penguatan mental.

Baca juga: Program Cofiesa UMP Purwokerto Dorong Kemandirian Ekonomi Penerima PKH lewat Serabut Kelapa

"Melalui pelatihan ini, peserta didorong untuk mengenali potensi diri dan sumber daya di lingkungan sekitar, membangun kepercayaan diri, serta meningkatkan kesadaran mengenai peluang pengembangan potensi lokal sebagai aktivitas produktif," ungkap Dr. Endar. 

Lebih lanjut Ia menjelaskan pada hari yang sama, kegiatan dilanjutkan dengan pelatihan diversifikasi makanan olahan.

Peserta memperoleh pengetahuan dan keterampilan untuk mengolah bahan pangan menjadi produk yang lebih beragam dan bernilai tambah. 

"Kegiatan tersebut menjadi langkah awal untuk menerapkan kesadaran dan kepercayaan diri yang telah dibangun ke dalam keterampilan praktis yang dapat dikembangkan sebagai aktivitas produktif berbasis potensi lokal sekaligus mendukung penguatan ekonomi keluarga," ungkapnya.

Rangkaian pelatihan keterampilan kemudian dilanjutkan dengan pelatihan pembuatan Pupuk Organik Cair (POC) berbahan dasar limbah ikan pada 31 Juli 2026.

Pelatihan ini mengintegrasikan pemberdayaan ekonomi dengan kepedulian terhadap lingkungan melalui pemanfaatan sumber daya lokal.

"Peserta diperkenalkan pada proses pengolahan limbah ikan yang berpotensi menjadi persoalan lingkungan menjadi produk yang bermanfaat dan bernilai guna. Kegiatan tersebut sekaligus mendorong pemanfaatan sumber daya di lingkungan sekitar secara lebih optimal dan berkelanjutan," jelasnya.

Baca juga: Mahasiswa Internasional UMP Ngajar di Pesantren, Santri MBS Wanayasa Belajar Bahasa dan Budaya

Dr. Endar menamahkan pelatihan diversifikasi makanan olahan dan pembuatan POC menjadi rangkaian yang saling melengkapi dalam pemberdayaan perempuan nelayan.

Diversifikasi pangan memberikan keterampilan untuk mengolah potensi pangan lokal menjadi produk bernilai tambah, sedangkan pelatihan POC memperkenalkan pemanfaatan limbah ikan sebagai bagian dari upaya menjaga lingkungan.

Kedua keterampilan tersebut menjadi bekal praktis yang dapat dikembangkan setelah peserta memperoleh penguatan kesadaran, mental, dan kepercayaan diri.

Bekali Keterampilan Dasar

Ketua Tim Pengabdian UMP, Itsna Nurrahma Mildaeni, M.A. dari Program Studi Psikologi mengatakan, pemberdayaan perempuan nelayan perlu memadukan keterampilan praktis dengan penguatan mental dan kepercayaan diri.

“Kami berharap program ini dapat membekali perempuan nelayan dengan keterampilan dasar yang dapat dikembangkan untuk meningkatkan ekonomi keluarga. Selain keterampilan, penguatan mental juga penting agar para perempuan nelayan memiliki kepercayaan diri untuk mengembangkan potensi yang ada di lingkungannya,” ungkap Itsna.

Melalui konsep ekonomi biru, program diarahkan untuk memanfaatkan potensi pesisir secara produktif dengan tetap memperhatikan keberlanjutan lingkungan.

Pengembangan keterampilan pengolahan pangan dan pemanfaatan limbah ikan menjadi POC menjadi tahap awal dalam membangun ekosistem pemberdayaan yang menghubungkan potensi pesisir, penguatan ekonomi keluarga, dan kepedulian terhadap lingkungan.

Upaya tersebut sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) poin 12, yaitu Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab (Responsible Consumption and Production), khususnya melalui penerapan prinsip pengelolaan limbah dan pemanfaatan kembali sumber daya agar memiliki nilai guna serta nilai ekonomi.

Pada tahap berikutnya, inisiasi wisata panorama pesisir diarahkan menjadi embrio pengembangan destinasi berbasis masyarakat yang membuka ruang lebih luas bagi perempuan nelayan untuk terlibat dalam aktivitas ekonomi lokal secara produktif dan berkelanjutan.

Integrasi antara pengelolaan limbah, pemberdayaan masyarakat, dan pengembangan potensi wisata diharapkan dapat mendorong terciptanya kawasan pesisir yang tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga mampu menjaga kelestarian lingkungan bagi generasi mendatang. (*/muh/chy)

Baca juga: Dosen UMP Purwokerto Gelar Sosialisasi dan Pelatihan Sistem Informasi Desa Wisata Panembangan

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.