BANGKAPOS.COM, BANGKA - Sebagai salah satu wilayah yang berada di pesisir Pulau Bangka, Desa Baskara Bakti, Kecamatan Namang, Bangka Tengah, dikenal memiliki masyarakat yang majemuk.
Selain dihuni oleh warga dari Suku Melayu, Tionghoa ataupun Bugis, terdapat pula kelompok yang merupakan bagian dari keturunan Suku Sawang.
Meksi begitu, Anggota BPD Baskara Bakti sekaligus kerabat dekat dari warga Suku Sawang Andi Putra menerangkan, perkembangan zaman membuat jejak serta peninggalan asli kelompok yang juga sering disebut Suku Sekak itu saat ini sulit ditemui.
Andi menyampaikan, berpulangnya tokoh adat atau biasa mereka sebut sebagai "Pawang" bernama Batman tahun 2025 kemarin, membuat tradisi Suku Sawang semakin tergerus.
Ia menyebutkan, masih terdapat sebuah kesenian yang menjadi jejak peninggalan asli Suku Sawang di Desa Baskara Bakti, yakni seni bernama "Campak Dalong.
Baca juga: Suku Sawang Bangka Selatan Tergerus Zaman
Menurut Andi, kesenian ini dimainkan dengan alat musik berupa Gendang dilengkapi sebuah dengan Gong seta seorang penyanyi dan beberapa penari.
Secara pribadi sejak usia sekolah dasar, Andi ikut serta dalam rombongan Campak Dalong yang dipimpin oleh sosok Batman saat tampil dalam berbagai kegiatan.
Dikatakan Andi, Campak Dalong memiliki banyak ragam lagu yang diciptakan oleh Batman sebagai keturunan asli Suku Laut untuk memanggil roh nenek moyang.
"Campak Dalong ini ada pemain Gong satu, kemudian pemain Gendang itu satu, kemudian Gendang pengiring bisa satu, bisa dua. Kemudian ada penari, ada penyanyi juga," kata Andi kepada Bangkapos.com, Rabu (12/8/2026).
Andi menuturkan, Campak Dalong awlanya diciptakan Suku Sawang dari kebiasaan mereka yang banyak menghabiskan waktu di atas laut sehingga mereka dikenal juga dengan sebutan suku Laut.
Berdasarkan catatan yang berisi rangkuman penjelasan dari Batman, Campak Dalong berasal dari kaya Campak, dalam bahasa Orang Laut berarti ‘menyepak’ yang dimaknai sebagai gerakan menyepak gelombang laut yang datang ke pesisir pantai sehingga terdengar bunyi "Pak".
Sementara ‘Dalong’ adalah ‘kalung’ yang terbuat dari kerang kecil yang di rangkai dalam seutas benang.
Bunyi inilah yang kemudian diiringi dengan tepukan gendang. Kemudian bunyi alunan disempurnakan xengan nyanyian, yang umumnya diciptakan ketika mereka dalam lamunan ombak, merenung di atas perahu.
"Jadi bahasanya bahasa Suku Sawang juga," sebutnya.
Akan tetapi Andi menjelaskan, setelah meninggalnya sosok Batman selaku Pawang, seni Campak Dalong memang semakin jarang dimainkan, kecuali dalam acara-acara besar tertentu.
"Kalau sekarang, sejak almarhum tidak ada, jarang ditampilkan, jarang latihan juga. Kecuali acara besar desa, seperti Festival Menuang kemarin. Padahal ini salah satu peninggalan yang masih ada," terangnya.
Oleh karena itu, sebagai upaya pelestarian Andi mengaku mulai berusaha mengangkat lagi Campak Dalong dengan mengajak anak-anak di wilayah Baskara Bakti.
"Biar tradisi Campak Dalong sebagai ikonnya Baskara Bakti ini juga terangkat, orang jadi tahu. Jadi saya coba mengangkat lagi, mengajak anak-anak sekolah," kata dia.
Terlebih lagi ia mengaku memiliki modal pengetahuan soal Campak Dalong karena juga sering mendampingi Pawang Batman saat mengisi pelatihan di beberapa kesempatan.
"Dulu saat masih ada almarhum, ngajarin ini ke sekolah-sekolah, sampai ke Sungailiat, Gabek (Pangkalpinang), di SD, SMP, SMA, dulu sempat ikut mendampingi almarhun mengajar ini," paparnya. (w4)