Di Tengah Keterbatasan, Dokter Novi Bertahan Layani Korban Gempa di Sambi Rampas
Hilarius Ninu August 19, 2026 01:40 AM

 

Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Tari Rahmaniar

TRIBUNFLORES.COM, POTA – Di tengah kepanikan warga pascagempa yang mengguncang wilayah Flores salah satunya Kecamatan Sambi Rampas, Kabupaten Manggarai Timur, seorang dokter memilih tetap bertahan di garis depan pelayanan kesehatan.

Dokter Regina Novita B. Jehalu yang disapa Dokter Novi dari Puskesmas Pota bersama puluhan tenaga kesehatan bergantian menjaga Posko Central di SMK Muhammadiyah Sambi Rampas. 

Sejak hari pertama gempa, posko tersebut menjadi tempat warga mencari pertolongan ketika luka, sakit, hingga gangguan kesehatan mulai muncul setelah beberapa hari tinggal di tenda pengungsian.

Pelayanan di posko tidak hanya untuk pasien rawat jalan. Sebagian ruangan SMK Muhammadiyah disulap menjadi ruang UGD sekaligus tempat rawat inap. 

 

Baca juga: Sehari di Maumere, Frater Leonardus Pergi untuk Selamanya dalam Gempa Flores

 

Dalam sehari, jumlah pasien yang datang meningkat tajam. Novi mencatat, pada hari sebelumnya hanya dua pasien yang ditangani, sedangkan hari berikutnya jumlahnya melonjak menjadi sembilan pasien.

“Untuk malam ini yang pasti opname ada enam. Ada satu pasien yang dirujuk dan sudah sampai di Rumah Sakit Borong. Tadi ada satu pasien anak yang pulang, kemudian dua pasien juga sudah pulang. Jadi hari ini kami sembilan,” ujar Novi, Selasa (18/8/2026). 

Namun, angka itu bukan gambaran seluruh warga yang membutuhkan pertolongan. Sebagian korban masih berada di wilayah yang belum terevakuasi. Karena itu, selain Posko Sentral, tenaga kesehatan juga membuka sejumlah anak posko di Biting dan Pacipanda.

 Perawat dan bidan ditempatkan di sana untuk mendekatkan pelayanan kepada warga yang masih takut meninggalkan tempat pengungsian.Bagi Novi dan timnya, bekerja dalam situasi bencana bukan perkara mudah. 

Alat kesehatan dan bahan medis habis pakai masih terbatas. Set infus, peralatan untuk menjahit luka, hingga nasal kanul untuk membantu pemberian oksigen menjadi sejumlah kebutuhan yang masih kurang.

Kendati demikian, Novi dan tim tetap berusaha memberikan pelayanan dengan persediaan yang ada. Bantuan obat mulai berdatangan dari relawan, organisasi profesi, keluarga, instansi, Dinas Kesehatan hingga PMD.

Di tengah keterbatasan itu, keluhan pasien pun mulai berubah. Pada awalnya, sebagian besar pasien datang dengan luka akibat tertimpa material bangunan, kayu, atau benturan saat gempa. Kini, penyakit yang muncul akibat kondisi pengungsian mulai menghantui warga.

“Paling banyak sekarang hematom atau memar, kemudian luka robek, luka ringan, bekas tertindih bahan bangunan atau kayu. Di luar itu, penyakit yang berkaitan dengan stres seperti gastritis juga lumayan,” ungkap Novi.

Kondisi anak-anak juga mulai menjadi perhatian. Hidup beberapa hari di tenda dengan kondisi cuaca dan lingkungan yang tidak ideal membuat anak-anak mulai mengalami batuk, demam, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), hingga diare.

Di tengah situasi tersebut, Novi tidak hanya berperan sebagai dokter yang mengobati pasien. Ia juga menjadi salah satu orang yang terus mengingatkan warga agar tidak menyerah menghadapi situasi bencana.

Ia memahami sebagian warga masih diliputi trauma. Ada yang takut keluar dari tempat pengungsian bahkan ketika tubuh mulai terasa sakit. Akibatnya, mereka memilih menunggu hingga petugas datang.

“Jangan sungkan kalau ada yang sakit atau mulai ada keluhan untuk datang ke posko. Kalau tidak bisa mengakses posko utama, kabari petugas. Kami bisa melakukan kunjungan rumah,” ujarnya.

Pesan itu disampaikan Novi karena bagi dirinya, dalam situasi bencana, menyelamatkan warga bukan hanya soal obat dan peralatan medis. Yang tak kalah penting adalah memastikan tidak ada warga yang merasa sendirian menghadapi ketakutan.

Di posko itu pula, Novi tidak bekerja sendiri. Selama tiga hari terakhir, ia bergantian bersama dokter-dokter dari IDI Manggarai Timur yang datang secara sukarela. Bantuan dokter dari Crisis Center Jakarta dan NTB juga dijadwalkan tiba. Sementara tenaga perawat dan bidan datang dari sejumlah puskesmas.

 Puskesmas Mano mengirim enam tenaga kesehatan, sementara bantuan juga datang dari Puskesmas Lebi dan Nalang. Dari Puskesmas Pota sendiri, sekitar 10 hingga 15 petugas bergantian menjaga pelayanan.


Secara keseluruhan, ada sekitar 20 tenaga kesehatan yang terlibat, namun mereka tidak semuanya berada di satu tempat. Sebagian harus menyebar ke anak-anak posko dan sebagian lainnya juga menghadapi persoalan keluarga masing-masing yang terdampak gempa.

Di tengah semua keterbatasan itu, Novi memilih menyampaikan satu pesan sederhana kepada warga Sambi Rampas  tetap bertahan dan saling menguatkan.

“Bencana ini adalah ujian untuk kita semua. Jangan jadikan duka ini sebagai cobaan yang mematahkan semangat. Di tengah duka, bencana dan kekurangan ini, kita harus bersatu. Jika kita bersatu, pasti akan ada bantuan yang datang,” ujarnya. (Iar) 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.