TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Kebiasaan remaja yang memiliki kecenderungan mencari jalan pintas untuk mengatasi kebingungan psikologis melalui kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) memicu kewaspadaan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sleman.
Dinkes mengingatkan agar masyarakat tidak menjadikan platform digital nir-sumber sebagai rujukan kesehatan jiwa.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinkes Sleman, dr Seruni Angreni Susila, mengungkapkan tren anak muda yang menjadikan kecerdasan buatan sebagai tempat berkeluh kesah sudah berada di tingkat yang perlu diwaspadai.
Menurutnya, banyak platform digital atau komunitas AI anonim yang justru memberikan respons keliru dan memperburuk kondisi psikologis pengguna yang sedang mengalami tekanan mental.
"Iya. Jadi kadang-kadang banyak AI tidak bertuan yang buatan-buatan entah siapa, yang pernah kami coba lihat adalah sebuah komunitas yang isinya jawaban-jawaban yang justru mungkin malah tidak menyelesaikan solusi depresi masalah mental yang dihadapi, tetapi malah mendorong mereka masuk ke dalam jurang yang kian dalam," kata Seruni, Selasa (18/8/2026).
Menurutnya, AI bisa dimanfaatkan, asalkan di tangan orang yang tepat dan telah berstandard.
Sebagai langkah pencegahan, ia mengimbau masyarakat, apabila mengalami gejala depresi agar tidak mengambil jalan pintas dengan mencari solusi mandiri melalui internet atau AI nir-sumber.
Apabila membutuhkan referensi valid, warga disarankan mengakses tautan resmi dari lembaga terpercaya seperti perguruan tinggi atau institusi kesehatan.
Seruni menyarankan agar memanfaatkan fasilitas kesehatan resmi yang mudah dijangkau bagi warga yang membutuhkan pendampingan psikologis.
Apalagi layanan konsultasi kesehatan jiwa kini dapat diakses secara cuma-cuma maupun dengan biaya yang sangat terjangkau di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas).
"Kami dorong masyarakat Sleman, yang masih merasa konsultasi kesehatan jiwa mahal, ini di Puskesmas bisa akses dan gratis. Silakan gunakan BPJS-nya. Kalau tidak punya BPJS cuma bayar Rp26 ribu, sudah bisa konsultasi sepuasnya," jelas dia.
Tidak hanya menyasar kalangan remaja, Dinkes Sleman menilai literasi digital dan pemahaman etika penggunaan AI yang bijak juga penting diberikan kepada seluruh lapisan masyarakat, termasuk Aparatur Sipil Negara (ASN).
Upaya kolaboratif lintas sektor pun tengah disiapkan untuk membekali masyarakat dengan kesadaran teknologi yang lebih sehat.
"Jangankan anak muda, ASN kita juga sepertinya perlu (diedukasi penggunaan AI). Kebetulan BKN buat program untuk ASN menggunakan AI ini dengan bijak dan benar, sedang berproses. Kami juga berkolaborasi dengan Diskominfo, Disdik, dan Dispora, nanti masing-masing dengan sasaran masing-masing bagaimana menggunakan AI dengan bijak," ujar dia.
Baca juga: Dinkes Sleman Ungkap Penyebab Keracunan 25 Anak SD di Prambanan
Sebagaimana diketahui, upaya promotif dan preventif terus dilakukan Dinkes Sleman untuk mempersiapkan generasi muda Sleman yang sehat sejak dini.
Selain proteksi imunisasi, dilakukan juga skrining kesehatan fisik dan mental bagi anak usia sekolah maupun remaja.
Dari total 56.140 anak usia sekolah dan remaja yang menjalani skrining, baik di sekolah formal, non-formal, maupun anak-anak yang tidak bersekolah, Dinkes Sleman mencatat sejumlah data kesehatan fisik yang memerlukan perhatian.
Antara lain, tekanan darah tinggi ditemukan pada sekitar 18,42 persen anak usia sekolah.
Sebanyak 0,73 % anak mengalami gula darah tinggi meskipun belum terdiagnosis diabetes mellitus, sementara 3,62 % atau setara 674 anak berada dalam kondisi pre-diabetes.
Bukan hanya itu, pada skrining tahun ini juga menemukan data 4,14 % anak pemula di Sleman yang melakukan kegiatan merokok.
Menurut dr. Seruni, temuan kasus gula darah yang meningkat, bahkan sempat ditemukan mencapai angka 300 saat skrining di sekolah maupun komunitas seperti mal dan kampus, disebabkan oleh pola makan yang kurang seimbang.
Selain kesehatan fisik, Dinkes Sleman juga memprioritaskan skrining kesehatan jiwa menggunakan perangkat instrumen standar Kementerian Kesehatan yang terdiri dari 15 pertanyaan, serta pemanfaatan alat Heart Rate Variability (HRV) mesin skrining berbasis detektor.
Saat ini, mesin HRV telah tersedia di 4 Puskesmas dan 1 unit di Dinas Kesehatan.
Dari 18.845 anak yang menjalani skrining kesehatan mental, ditemukan 5,6 % mengalami gejala depresi ringan dan 2,38 % mengalami gejala depresi berat.
Adapun 5,25 % mengalami gejala kecemasan ringan dan 2,06 % mengalami gejala kecemasan berat.
Seruni menegaskan bahwa naiknya angka temuan ini bukan berarti kasus gangguan jiwa mengalami lonjakan drastis dari tahun-tahun sebelumnya, melainkan karena sistem deteksi dini dan literasi masyarakat yang kini jauh lebih aktif.(*)