BANGKAPOS.COM, BANGKA - Jejak kebudayaan Suku Sawang atau Suku Sekak di Bangka Belitung masih tersisa di Desa Baskara Bakti, Kecamatan Namang, Kabupaten Bangka Tengah, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Namun, sejumlah adat dan kesenian perlahan tergerus zaman. Sebagian bahkan kini hanya hidup dalam ingatan para tetua.
Salah satunya tradisi Buang Jong atau Bong Jong. Ritual tersebut berhenti digelar di Baskara Bakti setelah Batman, Pawang terakhir Suku Sawang di desa itu, meninggal pada 2025.
Anggota BPD Baskara Bakti sekaligus kerabat Suku Sawang, Andi Putra, mengatakan Batman bukan sekadar pemimpin ritual, tetapi sosok yang memahami tata cara adat yang tidak dapat dilakukan sembarang orang.
Baca juga: Suku Sawang Bangka Selatan Tergerus Zaman
"Jadi prosesi itu hanya bisa dipimpin oleh Atok Batman. Alasannya karena Pawang ini hanya orang-orang tertentu, tidak bisa sembarangan orang," ujar Andi kepada Bangkapos.com, Selasa (18/8/2026).
Semasa hidup, Batman juga kerap dipanggil untuk memimpin Bong Jong di Tanjung Sangkar, Bangka Selatan, hingga sejumlah wilayah di Belitung. Setelah ia tiada, tradisi tersebut ikut terhenti.
Andi masih mengingat sejumlah tahapan ritual, mulai dari persiapan di Tanjung Sangkar, ritual malam, pencarian kayu yang disebut kayu jeruk antu, pembakaran kemenyan, hingga tabuhan gendang dan nyanyian. Namun, pengetahuan itu belum cukup untuk menggantikan peran seorang Pawang.
Baca juga: Campak Dalung Sisa Peninggalan Suku Sawang di Bangka
"Kalau seingat saya itu sebenarnya harus dilakukan setiap tahun, di Tanjung Sangkar itu," katanya.
Di tengah terhentinya Bong Jong, masyarakat masih berupaya mempertahankan kesenian Campak Dalong. Anak-anak dan generasi muda dilatih untuk tampil dalam berbagai kegiatan desa.
"Kalau Campak Dalong itu bisa kita lakukan. Meski jarang, tapi kalau ada acara-acara besar di Desa, itu kami tampilkan juga, agar orang tahu ikon Desa Baskara Bakti ini," ujarnya.
Ancaman regenerasi membuat Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mulai mendorong pemetaan suku dan kebudayaan.
Kepala Disparbudkepora Babel Eko Kurniawan mengatakan pemetaan diperlukan untuk mengetahui kondisi, kebiasaan, serta potensi budaya yang masih bertahan.
"Ke depan melakukan semacam pemetaan, dalam arti, melihat sebetulnya suku-suku yang ada di Babel ini. Dari kebiasaan unik yang ada sampai sekarang, itu harus kita intervensi dalam bentuk pendampingan," kata Eko.
Menurutnya, budaya dapat menjadi kekuatan pariwisata, tetapi pelestarian tidak boleh berhenti sebagai tontonan. Tantangan terbesar justru memastikan pengetahuan adat diwariskan kepada generasi muda.
"Persoalan sekarang itu mungkin saja penerus sudah berkurang. Jadi itu persoalannya. Karena memang artinya tergerus karena internal. Harusnya ditularkan ke yang muda-muda dan sangat disayangkan," ujarnya.
Jika pewarisan itu tak segera dilakukan, kepergian Batman bisa menjadi penanda bahwa satu per satu tradisi Suku Sawang hanya akan tersisa sebagai cerita masa lalu. (w4/u1/riu)