Sosok Queensha Aulia Tarwoto, Bintang DBL Dance yang Bermimpi Jadi Electrical Engineer
Pipit Maulidya August 19, 2026 01:32 PM

 

SURYA.co.id - Nama Queensha Aulia Tarwoto mungkin lebih dikenal sebagai salah satu pilar tim dance SMA Ciputra Surabaya di ajang AQUA DBL Dance 2026 East Java-North.

Namun, jika menelisik lebih dalam, remaja berusia 16 tahun ini memiliki profil yang luar biasa di luar panggung seni. Ia adalah seorang peneliti muda berbakat yang bercita-cita menaklukkan dunia teknologi.

Perjalanan Queensha tidaklah instan. Sejak kecil, ia adalah sosok yang memiliki rasa ingin tahu tinggi terhadap berbagai bidang, mulai dari debat, robotik, softball, hingga olimpiade.

“Aku dari kecil memang sering penasaran sama hal-hal baru dan aku juga sering ikut banyak kegiatan,” ungkap Queensha membuka ceritanya.

Menemukan Passion di Bidang Research and Innovation

Queensha Aulia Tarwoto, dancer SMA Ciputra Surabaya
Queensha Aulia Tarwoto, dancer SMA Ciputra Surabaya

Meski aktif di banyak hal, Queensha sempat mempertanyakan arah tujuannya.

“Kok aku banyak banget hal yang aku lakukan, ya, tapi aku belum punya satu kegiatan yang benar-benar aku tekuni dan bisa support aku di masa depan?” tanyanya pada diri sendiri.

Pertanyaan itu terjawab saat ia terjun ke dunia research and innovation. Berawal dari ketertarikan pada alat pendeteksi gelombang otak dari China yang ia temukan di internet, Queensha mulai bereksperimen.

“Awalnya aku tertarik karena konsepnya menurut aku keren banget. Dari situ aku mulai cari tahu cara kerjanya, komponen yang dibutuhkan, sampai akhirnya coba develop (mengembangkan) versiku sendiri,” ujarnya.

Inovasi pertamanya adalah alat pendeteksi fokus belajar siswa berbasis AI yang terhubung ke aplikasi orang tua. Kerja keras ini membuahkan Medali Emas dan Special Innovation Award di AISEEF 2024.

“Itu juga salah satu momen yang bikin aku sadar kalau research ternyata bisa jadi sesuatu yang benar-benar aku tekuni,” tuturnya.

Filosofi di Balik Kegagalan

Profil Queensha bukan hanya soal kemenangan, tapi juga tentang ketangguhan.

Saat mengerjakan proyek Algae Carbon Capture, ia harus belajar biologi dari nol dan sempat merasa jenuh karena eksperimennya gagal selama lima bulan.

“Waktu itu aku cukup capek karena hasilnya nggak sesuai ekspektasi, ditambah aku harus belajar banyak hal yang sebelumnya bukan bidangku terutama biologi,” kenangnya.

Namun, ia memegang prinsip kuat “Quitters never win, winners never quit.”

Baginya, gagal adalah bagian dari proses belajar.

“Gagal itu normal banget. Yang penting bukan selalu berhasil di percobaan pertama, tapi kita mau belajar dari kegagalan itu,” lanjutnya. Kegigihan itu membawanya meraih Medali Emas di I2ASPO 2025.

Keseimbangan Seni dan Ambisi Engineering

Di tengah kesibukan risetnya, Queensha tetap totalitas di dunia dance. Sebagai anggota tim dance SMA Ciputra, ia bahkan mendesain kostum tim dengan tema "100 persen Indonesia", memadukan ornamen Garuda dan batik.

“Aku mix antara ornamen Garuda, batik dan lain-lain, tapi tetap memberi kesan modern. I really love it,” jelasnya.

Menatap masa depan, Queensha telah menetapkan target untuk menjadi seorang electrical engineer. Ia tertarik pada pengembangan AI, IoT, hingga energi terbarukan seperti kendaraan listrik.

“Aku suka banget kalau bisa membangun sesuatu yang benar-benar bisa membantu sekitar dan menyelesaikan masalah yang sekarang ada using technology,” pungkasnya.

Ajang basket pelajar terbesar ini hadir di 31 kota di 22 provinsi. Selain pertandingan basket, kompetisi ini juga dimeriahkan oleh AZA 3X3 Competition dan AQUA DBL Dance 2026-2027 dengan tema "100 % Indonesia".

Seluruh laga dapat disaksikan di kanal YouTube DBL Play dan YouTube Good Day ID untuk babak final.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.