TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Istilah "turun berok" dan "turun kandungan" masih sering dianggap sama oleh masyarakat awam. Padahal, secara medis keduanya merupakan kondisi yang berbeda.
Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan sekaligus Anggota Tim Bedah Robotik Indonesia, dr. Sita Ayu Arumi, Sp.OG, M.Sc (Humrepro), MIGS, menjelaskan bahwa kondisi rahim yang merosot ke arah vagina dikenal dengan istilah prolaps uteri.
Baca juga: Benarkah Kucing Penyebab Keguguran dan Sulit Hamil? Ini Penjelasan Spesialis Kandungan
Kondisi ini dipicu oleh melemahnya jaringan otot panggul yang bertugas menopang organ reproduksi perempuan.
"Di masyarakat, turun berok lebih sering dikaitkan dengan hernia pada laki-laki. Sementara pada perempuan, jika rahim turun hingga menonjol melalui vagina, itu disebut prolaps. Namun, bukan berarti rahimnya terlepas dari tubuh, melainkan jaringan otot penopangnya yang melemah," ujar dr. Sita dalam Diskusi Kesehatan Reproduksi Wanita di Tebet, Jakarta, Selasa (18/8/2026).
Dokter Sita mengungkapkan bahwa kehamilan dan proses persalinan memberikan beban yang sangat besar pada otot perut serta panggul.
Oleh karena itu, perempuan yang memiliki riwayat melahirkan banyak anak atau yang sudah berusia lanjut lebih berisiko mengalami prolaps.
Meski demikian, perempuan usia muda tetap bisa terkena gangguan ini, meski umumnya masih berada pada stadium awal (derajat 1 atau 2).
"Semakin sering melahirkan, beban otot panggul semakin berat. Namun, pasien muda juga ada yang mengalami, walau biasanya belum sampai tahap berat," tambahnya.
Untuk mencegah kondisi memburuk, perempuan dianjurkan melatih kekuatan otot panggul seusai melahirkan. Salah satu metode yang dinilai efektif adalah latihan atau senam Kegel.
Akan tetapi, dr. Sita mengingatkan agar latihan Kegel dilakukan sebagai upaya pencegahan sejak dini, bukan saat rahim sudah menonjol keluar dari vagina.
"Latihan Kegel itu solusinya, tetapi jangan menunggu sampai rahimnya sudah keluar. Biasanya untuk prolaps derajat 1 atau 2, Kegel sangat membantu," tegasnya.
Apabila prolaps sudah memasuki tahap berat (derajat 3 atau 4), tindakan medis khusus sangat diperlukan. Dokter dapat mengambil langkah operasi sacrocolpopexy, yaitu tindakan pemasangan penyangga khusus untuk menopang kembali posisi rahim ke atas, hingga prosedur pengangkatan rahim (histerektomi) sesuai indikasi medis.
Masyarakat imbau untuk tidak menganggap benjolan atau rasa mengganjal pada vagina sebagai hal lumrah akibat penuaan. Deteksi dini menjadi kunci utama agar prolaps dapat ditangani tanpa harus melalui tindakan operasi besar.
(Tribunnews.com/ Aisyah Nursyamsi)