58 Mahasiswa Terdampak Gempa Flores, Untag Surabaya Beri Relaksasi Akademik
Titis Jati Permata August 19, 2026 04:32 PM

 

SURYA.co.id, SURABAYA - Gempa bumi magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), tidak hanya menyisakan persoalan kerusakan dan pemulihan di daerah terdampak.

Sejumlah mahasiswa asal NTT yang tengah menempuh pendidikan di Surabaya juga ikut merasakan dampaknya, terutama karena keluarga mereka berada di wilayah bencana.

Merespons kondisi tersebut, Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya menyiapkan sejumlah kebijakan khusus bagi mahasiswa asal NTT.

Mulai dari penundaan pembayaran biaya Kartu Rencana Studi (KRS), pembelajaran daring, fleksibilitas bimbingan tugas akhir, hingga pendampingan psikologis.

Rektor Untag Surabaya Dr. Harjo Seputro, S.T., M.T., mengatakan hasil pendataan kampus menunjukkan terdapat 108 mahasiswa asal NTT.

Dari jumlah tersebut, 58 mahasiswa terdampak langsung gempa.

“Berdasarkan pendataan hingga pukul 12.00, ada 108 mahasiswa kami yang berasal dari NTT. Dari jumlah tersebut, 58 mahasiswa terdampak langsung sehingga perlu mendapatkan relaksasi dalam administrasi akademik,” kata Harjo, Rabu (19/8/2026).

Pembayaran KRS Ditunda hingga Oktober

Salah satu bentuk relaksasi yang diberikan adalah penundaan pembayaran biaya KRS hingga akhir Oktober 2026.

Mahasiswa yang terdampak tetap dapat melakukan pengisian KRS meskipun belum menyelesaikan pembayaran.

Baca juga: Pakar ITS Imbau Warga Flores Waspadai Gempa Susulan hingga Dua Pekan

“Pembayaran kami tunda hingga akhir Oktober. Jadi, mahasiswa tetap bisa melakukan KRS meskipun belum melakukan pembayaran,” ujarnya.

Kebijakan tersebut diharapkan memberi ruang bagi mahasiswa dan keluarganya untuk memprioritaskan kebutuhan pemulihan pascabencana tanpa harus terbebani urusan administrasi akademik.

36 Mahasiswa Difasilitasi Kuliah Daring

Dari 58 mahasiswa yang terdampak langsung, sebanyak 36 mahasiswa membutuhkan relaksasi dalam proses pembelajaran.

Untag Surabaya akan memfasilitasi mereka mengikuti perkuliahan secara daring melalui Learning Management System (LMS) kampus.

“Dari 58 mahasiswa tersebut, ada 36 yang tidak memiliki kendala keuangan, tetapi membutuhkan relaksasi dalam proses pembelajaran. Karena itu, kami akan memfasilitasi mereka mengikuti pembelajaran secara daring melalui LMS,” jelas Harjo.

Kebijakan serupa juga berlaku bagi mahasiswa yang tengah menyelesaikan tugas akhir.

Kampus memberikan fleksibilitas dalam jadwal maupun mekanisme bimbingan dengan dosen pembimbing.

“Dalam kondisi seperti ini, fokus mahasiswa tentu bisa terganggu. Karena ada target waktu penyelesaian tugas akhir, kami memberikan fleksibilitas dalam proses pembimbingan,” katanya.

Mahasiswa di Surabaya Tetap Dapat Pendampingan

Dari 58 mahasiswa yang terdampak langsung, sebanyak 14 orang saat ini berada di Surabaya. Mereka dalam kondisi aman dan tidak membutuhkan relaksasi akademik.

Meski demikian, kondisi keluarga mereka di NTT tetap menjadi perhatian kampus.

Untag Surabaya menyiapkan pendampingan psikologis dan psikososial bagi mahasiswa yang membutuhkan dukungan.

“Bagi mahasiswa yang sudah berada di Surabaya tetapi keluarganya terdampak, kami akan memberikan pendampingan psikologis dan psikososial. Mereka akan kami kumpulkan untuk mendapatkan layanan psikologi agar memiliki kekuatan menghadapi kondisi ini,” ujar Harjo.

Dua Pekan Awal Kuliah Digelar Online

Kampus juga mempertimbangkan kondisi mahasiswa yang masih berada di NTT. Dua pekan pertama perkuliahan pada awal September 2026 direncanakan berlangsung secara daring.

Langkah tersebut memberikan waktu bagi mahasiswa untuk memulihkan kondisi sekaligus kembali ke Surabaya.

“Perkuliahan dimulai pada awal September. Dua pekan pertama masih dilakukan secara daring sehingga ada waktu bagi mahasiswa untuk kembali ke Surabaya setelah kondisinya pulih,” kata Harjo.

Bantuan komunikasi juga dilakukan kampus untuk menghubungkan mahasiswa dengan keluarga mereka di daerah terdampak.

Harjo mengaku masih mengalami kendala berkomunikasi dengan keluarga di Manggarai akibat kondisi pascagempa.

“Kami juga membantu agar mahasiswa dapat berkomunikasi dengan keluarganya. Saya sendiri masih belum bisa berkomunikasi dengan saudara dan keluarga saya di Manggarai,” ungkapnya.

Tim Psikologi Siapkan Psychological First Aid

Selain memberikan pendampingan kepada mahasiswa, Fakultas Psikologi Untag Surabaya juga menyiapkan tim relawan untuk memberikan Psychological First Aid (PFA) kepada masyarakat terdampak bencana.

Dekan Fakultas Psikologi Untag Surabaya Dr. Diah Sofiah, S.Psi., M.Si., Psikolog, mengatakan tim akan melibatkan dosen dan mahasiswa.

“Kami turut prihatin, sedih, dan peduli terhadap apa yang dialami saudara-saudara kita di NTT. Bentuk kepedulian kami adalah menurunkan tim relawan untuk memberikan Psychological First Aid atau PFA,” kata Diah.

Dalam pelaksanaannya, relawan menggunakan pendekatan look, listen, and link.

Tahap pertama dilakukan dengan mengamati kondisi penyintas dan mengidentifikasi mereka yang membutuhkan dukungan.

“Kami akan mengobservasi terlebih dahulu apakah ada saudara-saudara kita di sana yang membutuhkan bantuan,” jelasnya.

Selanjutnya, relawan membuka ruang bagi penyintas yang membutuhkan tempat untuk bercerita.

“Kami akan menginformasikan bahwa kami ada di sana. Jika ada yang membutuhkan tempat untuk bercerita, tentu kami siap mendengarkan,” ujarnya.

Apabila ditemukan penyintas yang membutuhkan penanganan lebih lanjut, relawan akan menghubungkan mereka dengan layanan yang sesuai, baik konseling, intervensi psikologis, maupun bantuan medis.

“Jika ditemukan ada yang membutuhkan bantuan, misalnya intervensi psikologis seperti konseling atau bantuan medis lainnya, tentu akan kami hubungkan dengan layanan yang sesuai,” kata Diah.

Alumni Siapkan Bantuan Hampir Rp100 Juta

Kepedulian juga datang dari keluarga besar alumni Untag Surabaya.

Wakil Rektor III Untag Surabaya Dr. Sumiati, M.M., mengatakan sebagian dana alumni dari kegiatan wisuda pada 22 dan 23 Agustus 2026 akan dialokasikan untuk membantu korban gempa di NTT.

“Sebagian, atau sekitar separuh, dana alumni dari wisuda pada 22 dan 23 Agustus nanti akan diperuntukkan bagi korban bencana di NTT,” kata Sumiati.

Wisuda periode tersebut diikuti hampir 2.000 wisudawan. Dari alokasi separuh dana alumni, jumlah bantuan diperkirakan mendekati Rp100 juta.

“Jumlahnya cukup besar. Karena wisuda periode ini diikuti hampir 2.000 wisudawan, separuh dana alumni yang dialokasikan diperkirakan mendekati Rp100 juta,” ujarnya.

Bantuan akan diserahkan secara simbolis melalui Ikatan Alumni (IKA) Untag Surabaya saat prosesi wisuda.

Sumiati berharap bantuan alumni dapat digabungkan dengan donasi dan kontribusi kampus sehingga manfaatnya lebih besar bagi masyarakat terdampak.

“Mudah-mudahan bantuan dari IKA, ditambah donasi dan kontribusi Untag Surabaya, dapat bermanfaat dan meringankan beban saudara-saudara kita yang terdampak di NTT,” katanya.

Beasiswa Ikut Menjadi Instrumen Bantuan

Selain bantuan langsung, Untag Surabaya juga menyiapkan program beasiswa yang bersumber dari ikatan alumni.

Program tersebut sebelumnya ditujukan untuk membantu mahasiswa yang mengalami kendala biaya pendidikan, khususnya mahasiswa tingkat akhir. Dengan adanya bencana di NTT, skema tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk membantu mahasiswa asal NTT yang terdampak.

Berbagai kebijakan itu, menurut Harjo, merupakan bentuk dukungan kampus agar mahasiswa dan keluarga mereka tidak merasa menghadapi bencana seorang diri.

“Semoga masyarakat terdampak diberi kesabaran dan kekuatan. Mereka harus tahu bahwa mereka tidak sendiri. Kami di Untag Surabaya, bersama masyarakat di seluruh Indonesia, insyaallah akan terus memberikan dukungan kepada mereka yang terdampak,” pungkas Harjo.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.