Menempatkan Indonesia secara proporsional dalam sejarah manusia sudah cukup untuk menggugurkan anggapan bahwa kita hanya penerima pengaruh dan penonton perjalanan dunia
Jakarta (ANTARA) - Di sebuah gua di Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, cap tangan yang tertera di dinding cadas bertahan melampaui zaman. Pemiliknya tidak meninggalkan nama atau kisah. Namun pigmen yang mengelilingi jari-jarinya telah berusia sedikitnya 67.800 tahun.
Di Leang Karampuang, Sulawesi Selatan, manusia kemudian menggambar figur-figur menyerupai manusia yang berinteraksi dengan seekor babi. Adegan berusia sedikitnya 51.200 tahun itu menjadi contoh tertua yang diketahui dari seni representasional berbentuk cerita.
Semua itu sebagai bukti bahwa jauh sebelum tulisan lahir, manusia di wilayah yang sekarang menjadi Indonesia telah berusaha meninggalkan tanda dan menyampaikan pengalaman kepada sesamanya.
Setiap 17 Agustus, tangan-tangan lain mengerek Merah Putih di halaman rumah, sekolah, kantor, dan ruang publik. Kita merayakan kemerdekaan politik yang diperjuangkan dengan darah dan pengorbanan.
Namun, kemerdekaan juga menuntut keberanian membaca Indonesia dari sudut pandang yang tidak mengecilkan diri, tanpa meninggalkan disiplin ilmu dan keterbukaan terhadap bukti. Sejarah perjalanan manusia, pertukaran maritim, dan perjumpaan kebudayaan tidak lengkap apabila kepulauan Indonesia terus ditempatkan sebagai pinggiran.
Fosil gigi dari Gua Lida Ajer, Sumatra Barat, menunjukkan keberadaan Homo sapiens sekitar 73.000–63.000 tahun lalu. Temuan itu memperlihatkan betapa panjangnya kehadiran manusia modern di kawasan ini.
Kedalaman waktu tentu bukan dengan sendirinya bukti adanya kota, kerajaan, atau peradaban maju. Ia adalah lapisan pertama dari perjalanan panjang yang kemudian melahirkan kebudayaan, jaringan pertukaran, bahasa, dan institusi politik di Nusantara.
Mereka belum mengenal Indonesia dan tidak dapat begitu saja disebut sebagai bangsa Indonesia. Sebagian, bahkan belum tentu merupakan leluhur langsung penduduk Indonesia hari ini.
Namun, jejak mereka berada dalam bentang sejarah yang kini menjadi wilayah Republik Indonesia. Kita bukan pemilik masa lalu mereka, melainkan penjaga pengetahuan dan penerus tanggung jawab untuk mempelajari, merawat, serta memperkenalkannya kepada dunia.
Sekitar 20 ribu tahun lalu, peta kawasan ini belum menyerupai Indonesia sekarang. Ketika muka laut jauh lebih rendah, Sumatera, Jawa, Kalimantan, Bali, dan Semenanjung Malaya terhubung dalam bentang daratan luas yang dikenal sebagai Sundaland.
Setelah zaman es berakhir, permukaan laut naik sekitar 122 meter. Lebih dari separuh daratan tersebut terendam, populasi terpisah, dan tekanan demografis turut mendorong perpindahan manusia.
Atlantis
Gagasan Atlantis di Nusantara memang memikat imajinasi. Akan tetapi, Indonesia tidak perlu menggantungkan kebesarannya pada sebuah imperium yang belum ditemukan. Atlantis masih merupakan spekulasi. Sundaland adalah kenyataan geologis yang dapat dipetakan dan diteliti.
Sebagian jejak lanskap, hunian, dan perjalanan manusia sangat mungkin berada di kawasan Paparan Sunda yang kini terendam, meskipun bentuk serta tingkat perkembangan kebudayaannya masih harus dibuktikan melalui penelitian.
Di sebelah timur Sundaland terbentang Wallacea, kawasan kepulauan yang tidak pernah tersambung sepenuhnya dengan daratan Asia maupun Australia. Untuk mencapainya, manusia harus menyeberangi laut.
Kajian genom manusia purba menunjukkan bahwa wilayah ini kemudian menjadi ruang perjumpaan populasi yang berkaitan dengan Papua, Austronesia, dan Asia Tenggara daratan.
Polanya berbeda dari satu pulau ke pulau lain. Keragaman Indonesia tidak muncul kemarin; ia memiliki sejarah panjang pergerakan dan pertemuan manusia.
Laut tidak membuat penduduk kepulauan ini terkurung. Laut berubah menjadi jalan yang membawa manusia, komoditas, agama, bahasa, teknologi, dan pengetahuan.
Di Situs Bongal, pantai barat Sumatera, sisa perahu kuno, koin Abbasiyah, serta berbagai artefak memperlihatkan hubungan dengan jaringan maritim lintas kawasan sejak abad-abad awal Masehi. Jauh sebelum kapal kolonial Eropa datang, pesisir Nusantara telah terhubung dengan arus perdagangan Samudra Hindia.
Jejak tersebut kemudian berkembang melalui berbagai pusat maritim. Sriwijaya tumbuh di salah satu persimpangan perdagangan Asia. Pala dan cengkih dari kepulauan rempah menghubungkan wilayah pedalaman, pelabuhan, dan pasar lintas benua.
Aceh, Jawa, Maluku, dan banyak pusat lain menjadi ruang bertemunya pedagang, pelaut, ulama, utusan politik, serta masyarakat dari berbagai kebudayaan. Dunia tidak sekadar datang mengambil hasil bumi. Dunia juga bertemu, bertukar, dan berunding di kepulauan ini.
Kemampuan mengolah perjumpaan tersebut menjadi salah satu warisan terbesar Nusantara. Bahasa Melayu berkembang sebagai bahasa penghubung dalam jaringan perdagangan dan pergaulan kawasan, lalu menjadi fondasi Bahasa Indonesia.
Kakawin Sutasoma mewariskan ungkapan Bhinneka Tunggal Ika. Berabad-abad kemudian, para pendiri bangsa mengangkatnya menjadi salah satu sumber moral bagi proyek politik yang jauh lebih modern dan berani: menyatukan keragaman kepulauan dalam sebuah republik.
Keunggulan Indonesia lahir dari kemampuan menerima dunia tanpa kehilangan diri. Pengaruh India, Tiongkok, Arab, Persia, Eropa, serta tradisi lokal tidak menetap sebagai lapisan-lapisan yang sepenuhnya terpisah.
Masyarakat Nusantara menerjemahkan, menyesuaikan, dan mengolahnya menjadi bentuk baru. Dalam pengertian itulah Nusantara pernah menjadi salah satu nadi yang menghubungkan peradaban bukan sumber tunggal tempat segala sesuatu berasal, melainkan ruang tempat banyak arus bertemu dan memperoleh makna baru.
HUT Kemerdekaan
Pada HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, tema "Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur" menemukan konteksnya dalam perjalanan tersebut. Identitas visual peringatan tahun ini digali dari keragaman motif tradisional Nusantara dan menempatkan keberagaman sebagai fondasi kedaulatan rakyat.
Keterhubungan bentuk angka 81 dapat dibaca sebagai gotong royong, sinergi, dan gerak menuju tujuan bersama. Perbedaan menjadi kekuatan ketika tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan dipertemukan dalam satu cita-cita.
Kedaulatan, keadilan, dan kemakmuran, karena itu tidak dapat berdiri terpisah. Kedaulatan yang kehilangan persatuan akan rapuh. Keadilan menjadi kosong ketika kesempatan hanya berputar pada kelompok tertentu.
Kemakmuran tidak akan bertahan apabila hasil pembangunan tidak dirasakan bersama. Filosofi tersebut bukan sekadar bahasa perayaan kemerdekaan, tetapi ujian bagi cara Indonesia mengelola seluruh kekayaan sejarah, budaya, dan manusianya.
Kebanggaan terhadap masa lalu tetap menyimpan jebakan. Keinginan membesarkan Indonesia dapat berubah menjadi perlombaan mengklaim yang paling tua, paling agung, atau sumber seluruh peradaban. Nasionalisme semacam itu mudah menyala, sekaligus mudah dipatahkan.
Kebanggaan juga tidak boleh menjadi hak eksklusif satu suku, pulau, agama, atau kerajaan. Warisan Nusantara memperoleh makna nasional ketika dibaca sebagai pengalaman bersama dalam segala keragamannya.
Menempatkan Indonesia secara proporsional dalam sejarah manusia sudah cukup untuk menggugurkan anggapan bahwa kita hanya penerima pengaruh dan penonton perjalanan dunia.
Tantangan yang jauh lebih berat adalah mengubah warisan tersebut menjadi kemampuan masa kini. Warisan hanyalah bahan mentah. Institusi, pengetahuan, dan daya cipta yang bisa mengubahnya menjadi kekuatan.
Pekerjaan itu membutuhkan tiga langkah. Penelitian memberi kredibilitas dengan menguji situs, artefak, dan manuskrip secara disiplin. Penceritaan mengubah pengetahuan menjadi pengalaman yang hidup melalui pendidikan, museum, buku, film, gim, dan karya seni.
Dari proses itulah dapat lahir kekayaan intelektual baru, nilai ekonomi, dan soft power yang memperluas pengaruh Indonesia.
Dunia seharusnya tidak hanya mengenal pertunjukan kita, tetapi juga ingin membaca gagasan, mempelajari pengalaman, dan bekerja sama dengan manusia Indonesia.
Di sinilah sejarah bertemu dengan cita-cita Indonesia Emas 2045. RPJPN 2025–2045 menetapkan visi Indonesia sebagai negara yang bersatu, berdaulat, maju, dan berkelanjutan. Agenda tersebut melampaui satu periode pemerintahan; ia merupakan pekerjaan lintas generasi.
Seratus tahun kemerdekaan tidak dapat dicapai melalui pertumbuhan ekonomi dan pembangunan fisik saja. Indonesia juga membutuhkan kedaulatan pengetahuan, kepercayaan kebudayaan, institusi yang kuat, serta kemampuan menghasilkan ilmu, teknologi, karya, dan gagasan yang dihargai dunia.
Hampir 68.000 tahun lalu, sebuah tangan meninggalkan jejak di dinding gua Pulau Muna. Setiap 17 Agustus, tangan-tangan lain mengerek Merah Putih. Di antara keduanya terbentang perjalanan manusia, kepulauan, dan sebuah bangsa yang terus mencari maknanya.
Tugas generasi ini bukan sekadar mengagumi tanda yang diwariskan. Menjelang Indonesia Emas 2045, kita harus melahirkan karya yang menunjukkan bahwa Indonesia tidak hanya menyimpan sejarah, tetapi ikut membentuk masa depan peradaban.
*) Kolonel Inf Muchlis Gasim SH MSi MHi CHMP adalah Kepala Sub-Dinas Penerangan Khusus Dinas Penerangan Angkatan Darat





