TRIBUNJATIM.COM - Memelihara kucing kerap dikaitkan dengan risiko gangguan kesuburan dan keguguran pada perempuan.
Kekhawatiran ini terutama muncul karena toksoplasmosis, infeksi parasit yang selama ini dianggap dapat mengganggu kehamilan.
Namun, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar.
Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan, dr. Sita Ayu Arumi, Sp.OG, menjelaskan bahwa keberadaan kucing bukan menjadi penyebab utama perempuan sulit hamil maupun mengalami keguguran.
Baca juga: Cuma Cuci Luka di Rumah, Ibu Meninggal Sebulan setelah Digigit Kucing saat Jemur Baju
Menurut dr. Sita, pemeriksaan terhadap kondisi janin justru menjadi hal pertama yang perlu dilakukan ketika terjadi keguguran. Salah satu faktor yang harus diperhatikan adalah kualitas sperma dan sel telur.
"Paling besar pertama adalah dari janinnya dulu yang tidak baik, artinya dari kualitas sperma dan kualitas telur. Yang kedua, baru dilihat apakah ada infeksi atau kelainan bawaan dari ibu," ungkap dr. Sita dalam media briefing di Tebet, Jakarta, Selasa (18/8/2026).
Dengan demikian, memelihara kucing tidak serta-merta membuat seorang perempuan sulit mendapatkan kehamilan atau meningkatkan risiko keguguran.
Faktor yang lebih perlu diperhatikan adalah apakah terdapat infeksi atau kondisi medis tertentu.
Toksoplasmosis sendiri dapat terjadi ketika seseorang terpapar parasit penyebab infeksi.
Pada kucing, risiko tersebut dapat meningkat apabila hewan tidak mendapatkan perawatan yang baik, belum divaksinasi, atau kerap mengonsumsi makanan mentah yang berpotensi terkontaminasi parasit.
Sebaliknya, kucing yang dirawat dengan baik memiliki risiko penularan yang sangat rendah. Kebersihan setelah beraktivitas bersama hewan peliharaan juga menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko paparan.
"Sebenarnya tidak perlu khawatir karena angkanya kecil, asal kucingnya dirawat dengan baik. Hal yang krusial adalah menjaga kebersihan, seperti mencuci tangan dengan sabun setelah bermain dengan kucing," tambahnya.
Hal yang perlu dibedakan adalah aktivitas memelihara kucing dengan kondisi ketika ibu hamil benar-benar mengalami infeksi toksoplasmosis.
Menurut dr. Sita, risiko terhadap kehamilan berkaitan dengan infeksi aktif yang terjadi ketika kehamilan berlangsung. Dalam kondisi tersebut, toksoplasmosis memang berpotensi menimbulkan masalah pada janin.
Infeksi aktif toksoplasmosis pada ibu hamil dapat meningkatkan risiko kelainan bawaan pada janin hingga keguguran. Meski demikian, dr. Sita menegaskan bahwa kejadian tersebut tergolong jarang.
Toksoplasmosis juga tidak secara langsung menyebabkan seorang perempuan menjadi mandul atau mengalami kesulitan untuk hamil.
Bagi perempuan yang sedang merencanakan kehamilan, keberadaan kucing di rumah pada dasarnya bukan alasan untuk meninggalkan hewan peliharaan. Perawatan kucing secara rutin, penerapan kebersihan yang baik, serta pemeriksaan kesehatan reproduksi menjadi langkah yang dapat dilakukan untuk menjaga kehamilan tetap sehat.