Gempa Magnitudo 5,8 Guncang Ruteng, Warga Panik Berhamburan Keluar Rumah
Gordy Donovan August 20, 2026 08:47 AM

Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Robert Ropo

TRIBUNFLORES.COM, RUTENG - Gempa bumi susulan dengan magnitudo 5,8 kembali terjadi di darat, berjarak 34 kilometer timur laut Ruteng, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis, 20 Agustus 2026 pagi.

Gempa tersebut sangat dirasakan oleh warga di sejumlah kabupaten, yakni Kabupaten Manggarai, Manggarai Timur, Manggarai Barat, Ngada, dan Nagekeo.

Guncangan gempa bumi membuat warga panik dan berlari keluar rumah untuk melindungi diri dari potensi runtuhnya bangunan. 

Baca juga: BMKG Catat 3.394 Gempa Susulan hingga Kamis 20 Agustus 2026 Pagi Pascagempa Flores M 7,7

Listrik Padam

Gempa juga mengakibatkan aliran listrik padam sehingga berdampak pada melemahnya sinyal Telkomsel.

Pantauan TRIBUNFLORES.COM pada Kamis pagi di Reo, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai, menunjukkan warga panik dan berhamburan keluar rumah sambil berteriak, "Gempa! Gempa!"

Mereka kemudian berdiri di jalan umum dan menghindari bangunan-bangunan tinggi.

Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Dr. Wijayanto, menerangkan bahwa gempa tersebut terjadi pada pukul 05.45.20 WIB.

Hasil analisis BMKG menunjukkan bahwa gempa bumi tersebut memiliki parameter yang telah diperbarui, dengan magnitudo M5,8 dan kedalaman 10 kilometer.

Episenter gempa bumi terletak pada koordinat 8,35° LS dan 120,63° BT, atau tepatnya di darat, pada jarak 34 kilometer arah timur laut Ruteng, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur.

Hasil pemodelan tsunami menunjukkan bahwa gempa bumi tersebut tidak berpotensi menimbulkan tsunami.

Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan gempa dangkal akibat aktivitas Flores Back-Arc Thrust.

Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi tersebut memiliki mekanisme pergerakan turun atau normal fault.

Berdasarkan laporan masyarakat, gempa bumi tersebut dirasakan dengan skala intensitas V–VI MMI di Kabupaten Manggarai. Getaran dirasakan oleh hampir seluruh penduduk. Sebagian besar warga terkejut dan berlari keluar rumah. Plester dinding dilaporkan jatuh dan cerobong asap pada salah satu pabrik mengalami kerusakan. Kerusakan ringan juga dilaporkan terjadi di Kabupaten Manggarai.

Sementara itu, intensitas IV MMI dirasakan oleh banyak orang yang berada di dalam rumah pada siang hari di Kabupaten Nagekeo.

Intensitas III–IV MMI dirasakan oleh banyak orang yang berada di dalam rumah pada siang hari di Kabupaten Manggarai Barat.

Adapun intensitas III MMI dirasakan di Kabupaten Sikka. Getaran dirasakan secara nyata di dalam rumah dan terasa seperti truk yang sedang melintas.

Wijayanto juga menerangkan bahwa gempa bumi tersebut merupakan rangkaian gempa susulan dari gempa bumi bermagnitudo 7,7 di Flores, Nusa Tenggara Timur, yang terjadi pada 15 Agustus 2026 pukul 05.58.23 WIB.

Hingga 20 Agustus 2026 pukul 06.00.00 WIB, hasil pemantauan BMKG menunjukkan telah terjadi 3.422 aktivitas gempa bumi susulan (aftershock), dengan magnitudo terbesar mencapai M6,2.

Masyarakat diimbau agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Pastikan informasi resmi hanya bersumber dari BMKG melalui kanal komunikasi resmi yang telah terverifikasi, seperti Instagram dan Twitter @infoBMKG, situs web BMKG, InaTEWS, Telegram Channel InaTEWS_BMKG, serta aplikasi WRS-BMKG atau InfoBMKG untuk perangkat iOS dan Android.

Sebelumnya, gempa bumi susulan berkekuatan M5,7 juga terjadi pada Rabu, 19 Agustus 2026 malam. Gempa tersebut juga dirasakan sangat kuat oleh warga sehingga mereka panik dan berhamburan keluar rumah.

Wijayanto menerangkan bahwa gempa tersebut terjadi pada pukul 23.17.40 WIB dengan kedalaman 10 kilometer.

Episenter gempa bumi terletak pada koordinat 8,24° LS dan 120,55° BT, atau tepatnya di laut, pada jarak 43 kilometer arah utara Ruteng, Kabupaten Manggarai.

Hasil pemodelan tsunami menunjukkan bahwa gempa bumi tersebut tidak berpotensi menimbulkan tsunami.

Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi tersebut merupakan gempa dangkal akibat aktivitas Flores Back-Arc Thrust.

Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi tersebut memiliki mekanisme pergerakan turun atau normal fault.

Gempa bumi tersebut merupakan rangkaian gempa susulan dari gempa bumi bermagnitudo 7,7 di Flores, Nusa Tenggara Timur, yang terjadi pada 15 Agustus 2026 pukul 04.58.23 WIB. (rob)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.