Kawasan Kishangarh di Rajasthan, India, punya pemandangan yang tidak biasa. Hamparan putih yang terlihat seperti salju itu ternyata merupakan limbah dari industri pengolahan marmer dan granit.
Kishangarh merupakan salah satu pusat pengolahan marmer di India. Limbah berupa lumpur putih dan potongan batu dari proses pemotongan serta pemolesan marmer dibuang di kawasan tersebut.
Dilansir dari , Jumat (21/8/2026) lokasi pembuangan itu memiliki luas sekitar 33 hektare. Setiap hari, lebih dari 5.500 ton limbah dikirim ke sana dari lebih dari 1.200 unit pengolahan marmer.
Dengan jumlah tersebut, kawasan itu menjadi salah satu tempat pembuangan limbah marmer terbesar di Asia. Namun, pemandangan yang tidak biasa justru membuatnya dilirik wisatawan.
Pasangan yang akan menikah datang ke sana untuk melakukan pemotretan prewedding. Kru film dan video musik juga memanfaatkan gundukan putih tersebut sebagai latar pengambilan gambar.
Wisatawan bahkan bisa menunggang kuda melintasi kawasan yang dipenuhi tumpukan limbah. Pemandangan putih yang membentang membuat lokasi ini semakin populer setelah foto-fotonya ramai di media sosial.
Kawasan pembuangan limbah marmer di Kishangarh, India. (Himanshu Sharma/AFP
|
Pengunjung kerap membandingkan lanskap Kishangarh dengan Pegunungan Alpen yang tertutup salju. Setelah hujan, air yang menggenang di antara tumpukan limbah membentuk kolam berwarna biru cerah sehingga menciptakan pemandangan yang semakin unik.
Namun, di balik daya tariknya, kawasan tersebut memiliki persoalan lingkungan. Otoritas setempat telah berulang kali memperingatkan dampak pembuangan limbah marmer, mulai dari debu di udara hingga potensi pencemaran air tanah.
Sejumlah penelitian menemukan kadar salinitas dan mineral yang tinggi, serta beberapa logam berat dalam air di sekitar kawasan tersebut.
Pada Januari, pengadilan lingkungan tertinggi India memerintahkan sejumlah langkah perbaikan. Salah satunya adalah mendorong penggunaan kembali lumpur marmer dan menghentikan praktik pembuangan limbah secara tidak terkendali.
"Tidak ada sistem lapisan pelindung yang direkayasa, tidak ada sumur dekantasi, tidak ada mekanisme pengendalian debu, tidak ada pemantauan udara atau air tanah, dan tidak ada sabuk hijau pelindung," terang pengadilan dalam putusannya.
Meski persoalan lingkungan masih menjadi perhatian, hal itu belum membuat wisatawan berhenti datang. Mereka tetap tertarik melihat langsung lanskap putih yang sekilas menyerupai pegunungan bersalju tersebut.






