TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Puluhan Koperasi Kelurahan Merah Putih di Kota Yogyakarta terpantau mulai menggulirkan aktivitas perekonomian di tengah masyarakat.
Kendati demikian, meski sebagian besar sudah mampu berjalan, Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta tidak menampik, ada beberapa yang tertatih-tatih.
Kepala Dinas Perindustrian Koperasi dan UKM Kota Yogyakarta, Tri Karyadi Riyanto Raharjo, mengungkapkan, terdapat total 45 Koperasi Merah Putih di wilayahnya.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 30 koperasi atau sekitar 70 persen di antaranya sudah aktif menjalankan roda usaha dengan berbagai jenis layanan untuk masyarakat.
"Dari 45 Koperasi Merah Putih di Kota Yogyakarta, yang sudah beroperasional dan bertransaksional ada sekitar 30 koperasi. Sudah sekitar 70 persen beroperasional," katanya, Jumat (21/8/2026).
Tri Karyadi menyampaikan, meski ada panduan usaha mandatory seperti klinik, apotek, hingga toko grosir, pihaknya tidak mematok model yang kaku.
Bagaimanapun, dinas tetap mendorong setiap koperasi untuk mengembangkan unit-unit bisnis yang adaptif dan berbasis pada kearifan lokal setempat.
Guna mengoptimalkan peran ekonomi di tingkat bawah, pihaknya pun mengarahkan Koperasi Merah Putih supaya mengambil peran strategis sebagai agregator sekaligus offtaker bagi para pelaku UMKM setempat.
Baca juga: Mengenal Wuku dalam Kalender Jawa, Ternyata Ada 30 Wuku dalam Pawukon
Dengan peran ini, koperasi bisa menyerap produk-produk UMKM anggotanya terlebih dahulu sebelum disalurkan ke pembeli skala besar, sehingga para pelaku mendapatkan kepastian pembayaran tanpa perlu menunggu proses dari mitra eksternal.
"Banyak UMKM selama ini bergerak sendiri-sendiri saat bertemu buyer atau hotel. Lewat koperasi, produk UMKM ditampung dan dibayar dulu oleh koperasinya. Jadi UMKM tidak perlu menunggu pembayaran dari pihak hotel atau mitra," ujarnya.
"Sekarang banyak koperasi yang sudah melakukan MoU (Memorandum of Understanding) untuk menyuplai berbagai kebutuhan fasilitas operasional SPPG hingga deretan hotel di sekitarnya. Seperti Koperasi Merah Putih di Purwokinanti," urai Tri Karyadi.
Sementara, menanggapi 15 Koperasi Merah Putih yang belum menjalankan aktivitas transaksi, ia tak memungkiri, terdapat tantangan Sumber Daya Manusia (SDM) dan pemetaan rencana bisnis.
Untuk mengatasi hal tersebut, dinas memfokuskan pendampingan pada penyusunan business plan serta mendorong kerja sama layanan keuangan sederhana menyasar kebutuhan warga.
"Pengurusnya memang harus dipastikan profesional. Maka, yang 15 ini kami fokuskan pendampingannya pada pembuatan business plan," tandas Tri Karyadi
"Sambil jalan, kami dorong jalankan bisnis sederhana dulu, seperti menjadi mitra agen billing, berkolaborasi dengan BRI Link, Pegadaian, hingga PT Pos untuk mendekatkan pelayanan ke masyarakat," imbuhnya. (aka)