Liputan6.com, Manggarai - Dua hari beroperasi Rumah Sakit Lapangan Ruteng yang didirikan di Stadion Golo Dukal, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT) telah memberikan pelayanan terhadap enam pasien.
Tiga pasien telah mendapatkan pelayanan kesehatan dasar. Lalu, tiga pasien lainnya menjalani tindakan operasi. Untuk kasus operasi pada hari pertama, tepatnya 19 Agustus 2026, dokter Basuki SpOT dan tim melakukan operasi pada kasus patah tulang anak 11 tahun di ruang surgery RS Lapangan.
Lalu, pada 20 Agustus 2026, tim medis melakukan operasi pada dua pasien. Pertama, Anjelus Jemarut (66 tahun) mengalami patah tulang pada lengan bawah akibat gempa. Ia menjalani operasi untuk memperbaiki posisi tulang yang patah.
"Pasien berikutnya, Febronia Patrisia Plate (43 tahun), menjalani operasi pada tungkai kanan setelah mengalami cedera akibat gempa. Pasien juga mengalami trauma pada bagian perut dan diduga mengalami patah tulang pada tulang belikat,” kata Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan Kementerian Kesehatan, Sumarjaya.
Kehadiran RS Lapangan merupakan bagian dari respons terhadap dampak gempa yang menyebabkan sejumlah fasilitas kesehatan di wilayah Flores mengalami kerusakan.
“Kalau bicara tentang bencana gempa pasti akan terjadi masalah kesehatan seperti fraktur, patah tulang, luka robek dan lain sebagainya. Setelah kita lakukan risk assessment, ternyata ada dua rumah sakit yang membutuhkan rumah sakit lapangan karena gedungnya sudah rusak dan tidak layak untuk dilakukan pelayanan,” lanjut Sumarjaya.
Sumarjaya mengatakan RS Lapangan disiapkan untuk mendukung pelayanan kesehatan rujukan, termasuk tindakan operasi, sekaligus memperkuat pelayanan kesehatan dasar di wilayah terdampak.
“Rumah sakit lapangan ini bisa untuk ruang operasi, perawatan, IGD dan yang lainnya," tuturnya.
"Kita juga memberikan bantuan logistik lainnya, seperti masker dan obat-obatan dasar di puskesmas-puskesmas terdampak. Jadi pelayanan ini selain untuk pelayanan kesehatan rujukan juga untuk pelayanan kesehatan dasar,” lanjutnya.