1.842 Titik Panas Membara di Kalimantan, BNPB Pakai Operasi Udara dan Darat Tekan Karhutla
Facundo Chrysnha Pradipha August 22, 2026 02:35 AM

 

TRIBUNNEWS.COM - Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan kembali menunjukkan intensitas tinggi.

Sebanyak 1.842 titik panas terpantau di lima provinsi di Kalimantan berdasarkan data SiPongi melalui pemantauan satelit NASA-NOAA 20 pada Jumat (21/8/2026) per pukul 14.14 WIB dalam data yang dihimpun dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Dari jumlah tersebut, 1.832 titik memiliki tingkat kepercayaan sedang (medium confidence) dan 10 titik memiliki tingkat kepercayaan tinggi (high confidence).

Kalimantan Tengah menjadi wilayah dengan konsentrasi titik panas paling tinggi, yakni 976 titik.

Sebanyak 968 di antaranya berada pada tingkat kepercayaan sedang dan delapan titik memiliki tingkat kepercayaan tinggi.

Kalimantan Barat menyusul dengan 489 titik panas, terdiri atas 487 titik dengan tingkat kepercayaan sedang dan dua titik dengan tingkat kepercayaan tinggi.

Sementara itu, Kalimantan Timur mencatat 237 titik, Kalimantan Selatan 125 titik, dan Kalimantan Utara 15 titik. Seluruh titik panas di tiga provinsi tersebut berada pada tingkat kepercayaan sedang.

Data hotspot tersebut menjadi salah satu rujukan pemerintah untuk membaca perkembangan potensi karhutla dan menentukan kebutuhan penanganan di lapangan.

BNPB Kerahkan 39 Unsur Udara

Meningkatnya pemantauan titik panas di sejumlah wilayah diikuti penguatan operasi penanganan karhutla.

Baca juga: Investigasi Insiden Karhutla di Kalimantan, Kapolri: Beberapa Nama Sudah Kita Amankan

BNPB menggelar operasi udara dan darat di enam provinsi prioritas, yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat.

Sebanyak 39 unsur udara dikerahkan untuk mendukung operasi tersebut. Kekuatan itu terdiri atas helikopter patroli, armada operasi modifikasi cuaca (OMC), serta helikopter water bombing.

Di Riau, BNPB mengerahkan satu helikopter patroli, satu armada OMC, dan lima helikopter water bombing.

Jambi diperkuat satu helikopter patroli, satu armada OMC, dan dua water bombing.

Sumatera Selatan mendapat dukungan satu helikopter patroli, satu armada OMC, serta tujuh water bombing.

Sementara Kalimantan Selatan diperkuat satu helikopter patroli, satu armada OMC, dan tiga water bombing.

Di Kalimantan Tengah, operasi udara terdiri atas satu helikopter patroli, satu armada OMC, dan empat water bombing.

Adapun Kalimantan Barat mendapat dua helikopter patroli, satu armada OMC, dan lima water bombing.

Pengerahan tersebut ditujukan untuk memperkuat pemantauan dari udara, mendeteksi perkembangan titik panas, membantu pemadaman, serta memberikan intervensi pada wilayah yang sulit dijangkau melalui jalur darat.

Water Bombing hingga Modifikasi Cuaca

Patroli udara digunakan untuk memperoleh gambaran kondisi lapangan sekaligus membantu mendeteksi perkembangan titik api.

Ketika kebakaran membutuhkan intervensi dari udara, helikopter water bombing dikerahkan untuk membantu pemadaman.

Sementara itu, OMC dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi pertumbuhan awan dan kebutuhan penanganan di wilayah prioritas.

Di Kalimantan Selatan, salah satu unsur patroli udara menggunakan pesawat Cessna Caravan 208 dengan registrasi PK-SNK. Adapun operasi water bombing didukung helikopter Sikorsky Black Hawk dengan registrasi N711BF.

Penanganan karhutla tidak berhenti di udara. BNPB juga memperkuat operasi darat melalui pengaktifan posko dan satuan tugas penanganan karhutla di daerah.

Posko menjadi pusat koordinasi untuk memantau perkembangan situasi, mengerahkan personel dan peralatan, serta menentukan langkah penanganan berdasarkan kondisi lapangan.

Pemerintah daerah juga didorong meningkatkan kesiapsiagaan dan menetapkan status siaga maupun tanggap darurat sesuai perkembangan ancaman di wilayah masing-masing.

Dukungan sumber daya dan peralatan diberikan sesuai kebutuhan untuk memperkuat kemampuan daerah dalam memadamkan titik api, memantau kawasan rawan, dan mencegah kebakaran meluas.

Kombinasi penanganan udara dan darat menjadi penting, terutama pada wilayah dengan karakteristik lahan yang memungkinkan api atau bara kembali muncul.

Water bombing membantu menekan api dari udara, sedangkan personel di darat memastikan bara dan titik api yang tersisa benar-benar dikendalikan.

Masyarakat Diminta Tak Bakar Lahan

Di tengah meningkatnya pemantauan titik panas, BNPB juga menekankan pencegahan.

Pemerintah daerah, BPBD, TNI, Polri, dan unsur terkait diminta memperkuat edukasi serta pemberdayaan masyarakat di kawasan rawan karhutla.

Masyarakat didorong tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar. Kewaspadaan juga perlu ditingkatkan selama periode rawan karhutla.

BNPB mengimbau masyarakat segera melaporkan apabila menemukan indikasi kebakaran kepada petugas atau pemerintah daerah agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.

"Seluruh sumber daya terus dioptimalkan untuk menangani karhutla melalui pemantauan, pencegahan, kesiapsiagaan, pemadaman, hingga penanganan pascakebakaran," tegas Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.