TRIBUNKALTIM.CO - Kemarau panjang yang dibarengi fenomena El Nino mulai mengancam ketersediaan air baku di sejumlah wilayah Kalimantan Timur (Kaltim).
Di Balikpapan, permukaan Waduk Manggar terus menyusut.
Sementara di Samarinda, surutnya Sungai Mahakam mulai memunculkan ancaman intrusi air laut.
Baca juga: Hadapi Ancaman El Nino, Lanud Dhomber Dukung Operasi Modifikasi Cuaca di IKN dan Kaltim
Kondisi tersebut membuat dua perusahaan daerah penyedia air bersih meningkatkan kewaspadaan dan menyiapkan sejumlah sumber air alternatif untuk menjaga pasokan bagi masyarakat.
Di Balikpapan, Perumda Tirta Manuntung Balikpapan (PTMB) mulai mengambil langkah antisipasi menyusul penurunan permukaan air baku di Waduk Manggar.
Direktur Utama PTMB Yudi Saharuddin mengatakan, pihaknya telah berkoordinasi secara intensif dengan Balai Wilayah Sungai (BWS) untuk memantau kondisi waduk.
Hampir tiga pekan terakhir, kata Yudi, tidak terjadi hujan signifikan di Balikpapan.
Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap elevasi Waduk Manggar yang terus mengalami penurunan.
"Kalau menurut data saya, ketinggian Waduk Manggar saat ini 9,5 meter. Biasanya 10 meter lebih. Artinya sudah ada penurunan permukaan air sekitar setengah meter," kata Yudi kepada Tribun Kaltim, Jumat (21/8/2026).
Penurunan elevasi tersebut membuat pengambilan air baku untuk kebutuhan masyarakat harus disesuaikan.
Saat ini PTMB hanya diperbolehkan mengambil air dari Waduk Manggar sekitar 1.000 liter per detik.
Padahal, berdasarkan izin pengambilan air, kapasitas normal mencapai 1.150 liter per detik.
Kondisi ini menjadi perhatian serius karena kebutuhan air bersih masyarakat tetap harus dipenuhi di tengah semakin terbatasnya sumber air baku.
Untuk mengantisipasi kondisi yang semakin kritis, PTMB bersama BWS mulai membahas pemanfaatan sejumlah sumber air alternatif.
Di antaranya sumber air Pendali dan Bunga-Bunga yang saat ini berada di bawah pengawasan pihak kehutanan.
"Kami sudah berkoordinasi dengan BWS untuk kemudian memanfaatkan air Pendali dan Bunga-Bunga yang saat ini di bawah pengawasan kehutanan," ujarnya.
PTMB juga mulai menjajaki kerja sama dengan sejumlah pemilik sumur warga yang memiliki debit air mencukupi.
Apabila kondisi sumber air baku semakin darurat, sumur-sumur tersebut dapat dimanfaatkan sebagai sumber air alternatif.
PTMB nantinya menyiapkan skema terminal tangki untuk mengambil dan mendistribusikan air dari sumur warga ke wilayah yang membutuhkan.
Namun, sebelum digunakan untuk kebutuhan masyarakat, kualitas air dari sumber tersebut akan diperiksa terlebih dahulu.
"Apabila dibutuhkan pada kondisi darurat, kami akan membuat skop-skopo terminal tangki dengan memanfaatkan sumur warga. Tentu kita lihat kualitas airnya nanti," jelas Yudi.
Berdasarkan informasi BWS yang mengacu pada prakiraan BMKG, fenomena El Nino diharapkan hanya berlangsung hingga Oktober 2026.
Meski demikian, PTMB tetap menyiapkan skenario terburuk apabila kondisi tersebut berlanjut hingga akhir tahun.
Yudi mengatakan, apabila El Nino berlangsung hingga Desember, pengambilan air dari Waduk Manggar diperkirakan kembali dikurangi.
Dalam kondisi tersebut, PTMB diperkirakan hanya dapat mengambil sekitar 70 persen dari kapasitas berdasarkan izin normal.
"Kalau berlanjut sampai Desember, berarti nanti puncaknya di Desember hanya bisa mengambil 70 persen dari surat izin kita. Dari normal. Jadi kita berdoa mudah-mudahan tidak sampai bulan Desember," ungkapnya.
PTMB juga telah berkoordinasi dengan Pemerintah Kota Balikpapan dan sejumlah pihak terkait untuk mencari sumber-sumber air alternatif yang dapat diolah guna menutup kekurangan air baku.
Di tengah kondisi tersebut, masyarakat Balikpapan juga diminta menggunakan air bersih secara bijak.
Yudi mengatakan, pihaknya telah melakukan sosialisasi kepada sejumlah RT dan warga mengenai kondisi sumber air baku saat ini.
"Kami ingin mengimbau kepada seluruh warga untuk betul-betul bijak dalam memanfaatkan air supaya bisa mencukupi," tuturnya.
Menurut Yudi, kemarau panjang dan fenomena El Nino juga mulai berdampak terhadap sejumlah sumber air lainnya.
Beberapa sungai dan sumber air mengalami penyusutan debit.
Karena itu, penghematan air menjadi salah satu langkah sederhana yang dapat dilakukan masyarakat untuk menjaga ketersediaan air bersih.
PTMB juga membuka peluang kerja sama dengan masyarakat yang memiliki sumur atau sumber air dengan debit mencukupi.
Sumber tersebut nantinya akan diperiksa untuk memastikan kelayakan dan kualitas air sebelum dimanfaatkan.
"Untuk kekurangan sumber air baku, kami intens bekerja sama dengan masyarakat yang memiliki sumber yang debit airnya ada. Nanti kita cek bersama-sama apakah sumbernya bisa membantu memenuhi kebutuhan daerah setempat," pungkas Yudi.
Ancaman serupa juga mulai dihadapi Samarinda. Surutnya Sungai Mahakam akibat kemarau panjang membuat Perumda Tirta Kencana Samarinda meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi intrusi air laut.
Manajer Produksi Perumda Tirta Kencana Samarinda Agus Muamar mengatakan, pihaknya telah melakukan peninjauan langsung di lapangan untuk menyusun langkah antisipasi.
Dari hasil pengecekan di kawasan muara Sungai Mahakam, pergerakan air asin terdeteksi mulai merangsek masuk.
"Itu sudah ada memang tanda-tanda sudah masuk intrusi air laut, cuma masih di lokasi pendingin. Dan infonya sudah masuk di muara Sanga-Sanga," jelas Agus.
Meski demikian, sejauh ini seluruh Instalasi Pengolahan Air (IPA) Perumda Tirta Kencana masih beroperasi normal dan belum terdampak langsung oleh intrusi air laut.
Pemantauan debit dan kualitas air sungai dilakukan secara berkala, terutama jika dalam satu hingga dua pekan ke depan hujan belum juga turun.
"Kami selalu melakukan pengecekan di Sungai Mahakam untuk mengantisipasi masuknya intrusi air laut," ujarnya.
Produksi air baku terpaksa dihentikan sementara apabila kadar klorida air sungai mencapai 250 miligram per liter.
Namun, penghentian tersebut dipastikan tidak berlangsung selama 24 jam penuh.
Intrusi air laut umumnya terjadi ketika Sungai Mahakam sedang pasang.
Ketika sungai kembali surut dan kadar klorida berada di bawah ambang batas, proses pengolahan air dapat kembali diaktifkan.
"Mudah-mudahan tidak sampai 24 jam stop mati total," ucapnya.
Jika intrusi air laut merambah lebih jauh, IPA di kawasan Pulau Atas dan Palaran diperkirakan menjadi wilayah yang lebih dahulu terdampak.
Untuk mengantisipasi kelangkaan air di kawasan tersebut, armada mobil tangki air bersih siap dikerahkan dengan melibatkan organisasi perangkat daerah terkait, termasuk BPBD.
Sementara itu, IPA di bagian hulu Sungai Mahakam dipastikan tetap beroperasi normal meski debit air mengalami penurunan saat sungai surut.
Perumda Tirta Kencana juga menyiapkan sumber air alternatif berupa sumur bor di Jalan Pahlawan apabila dampak intrusi semakin meluas.
"Antisipasinya dari Perumda, kalau memang dampak intrusinya melebar atau meluas, kita ada sumur bor, ya, sumur air dalam di Jalan Pahlawan yang biasa kita gunakan untuk alternatif kalau memang dampaknya luas," terangnya.
Agus memperkirakan kondisi intrusi saat ini belum akan memicu kelumpuhan total seperti yang pernah terjadi saat kemarau panjang pada 1988.
Meski demikian, masyarakat tetap diminta menyiapkan penampungan air di rumah sebagai langkah mitigasi apabila sewaktu-waktu terjadi gangguan distribusi.
"Mengantisipasi kepada masyarakat tetap adanya penampungan di rumah, itu semestinya harus ada, karena memang biasa ada gangguan, trouble-trouble itu bisa jadi ada dari intrusi air," pungkas Agus.
Dampak fenomena iklim El Nino mulai dirasakan di wilayah Kalimantan Timur (Kaltim).
Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan IV Samarinda mengungkapkan kondisi tinggi muka air di sejumlah titik vital.
Termasuk Sungai Mahakam dan beberapa bendungan utama, kini berada di bawah normal akibat curah hujan yang minim.
Kepala BWS Kalimantan IV Samarinda, Andri Rachmanto Wibowo, memaparkan bahwa berdasarkan data pos duga air yang tersebar di 38 titik dari Mahakam Hulu hingga muara, tren penurunan muka air sudah terlihat nyata.
Sebagai contoh, posisi muka air di Tenggarong pada 20 Agustus tercatat sudah berada di angka minus 60 sentimeter (-60 cm) dari papan peilskal paling bawah.
Baca juga: El Nino Melanda, Anggota Komisi III DPRD Samarinda Ingatkan Ancaman Krisis Air Bersih dan Karhutla
"Kondisi saat ini sudah di bawah normal. Ini sinkron dengan data BMKG yang sejak April lalu telah memprediksi adanya dampak El Nino yang memicu curah hujan di bawah rata-rata normal," ujar Andri.
Meski demikian, Andri memastikan bahwa untuk kawasan perkotaan seperti Samarinda dan Tenggarong, kondisi tinggi muka air secara umum masih terpantau aman berkat pengaruh siklus pasang surut air laut.
Namun, ia tetap mengingatkan adanya potensi kerawanan di beberapa titik intake air baku milik PDAM.
"Ada dua intake di Samarinda, yakni di Palaran (Bantuas) dan Pulau Atas, yang saat ini berstatus waspada. Kadar air asinnya masih di bawah ambang batas dan masih bisa diolah, tetapi kita harus tetap waspada jika kemarau ini terus berlanjut tanpa ada hujan signifikan," jelasnya.
Selain Sungai Mahakam, penurunan debit air juga terjadi di sejumlah bendungan dan waduk penopang air baku di Kaltim.
Waduk Sepaku Semoi di Penajam Paser Utara (PPU), misalnya, mengalami penyusutan tampungan dari kapasitas normal sekitar 16 juta meter kubik kini tersisa sekitar 13,5 juta meter kubik.
Begitu pula dengan Waduk Manggar di Balikpapan yang selama ini menjadi andalan air bersih warga setempat.
Pihaknya telah berkoordinasi erat dengan PDAM setempat untuk mengatur strategi distribusi agar cadangan air dapat bertahan hingga akhir tahun.
Pihaknya mengimbau masyarakat, khususnya di Balikpapan dan wilayah rawan lainnya, untuk mulai membudayakan penghematan air bersih dalam aktivitas sehari-hari.
"Jangan sampai kita sekarang senang-senang mengguyur air untuk cuci mobil atau menyiram tanaman setiap hari, tahu-tahu Oktober nanti airnya sulit. Lebih baik kita mengantisipasi dan berhemat dari sekarang," tegas Andri.
Sebagai langkah mitigasi jangka panjang dan pendek, BWS Kalimantan IV terus memaksimalkan berbagai upaya.
Di antaranya pembangunan sumur–sumur air dalam (artesis) berkedalaman sekitar 200 meter di beberapa kabupaten/kota untuk mendukung kebutuhan irigasi dan air bersih darurat, serta rutin melakukan penyaluran (dropping) air bersih menggunakan mobil tangki ke desa-desa yang terdampak kekeringan.
Selain itu, upaya teknis melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang dikoordinasikan bersama BMKG juga disiapkan untuk memancing turunnya hujan di kawasan IKN dan sekitarnya apabila formasi awan yang potensial sudah terbentuk.
"Semua upaya teknis hingga spiritual terus kita lakukan bersama. Harapannya, prediksi masuknya musim hujan dengan intensitas ringan hingga sedang pada Oktober mendatang dapat segera meredakan tekanan kekeringan ini," pungkasnya.
Kemarau panjang mulai menekan ketersediaan air baku di sejumlah daerah Kalimantan Timur.
Di Penajam Paser Utara (PPU), debit sumber air Lawe-Lawe turun hampir separuh.
Sementara di Kutai Kartanegara (Kukar), Perumda Tirta Mahakam mulai mewaspadai penurunan debit Sungai Mahakam dan potensi intrusi air laut.
Direktur Perumda Air Minum Danum Taka PPU Abdul Rasyid mengatakan, debit air di Lawe-Lawe sebelumnya mencapai sekitar 200 liter per detik.
Kini, debitnya tersisa sekitar 110 liter per detik.
Kondisi tersebut membuat pengambilan air sebesar 50 liter per detik dihentikan sejak sekitar sepekan terakhir.
"Debitnya turun, jadi yang 50 liter per detik itu sudah kita matikan seminggu yang lalu," kata Abdul, Jumat (21/8).
Meski pasokan masih mencukupi kebutuhan pelanggan, distribusi air berpotensi dilakukan secara bergilir jika debit terus menurun.
Kecamatan Babulu dan Sotek menjadi dua wilayah yang diperkirakan paling cepat terdampak apabila hujan tidak segera turun.
"Kalau tidak turun hujan, Babulu dengan Sotek itu pasti off paling duluan," ujarnya.
Sementara sumber air dari Bendungan Sepaku Semoi, intake Sepaku, dan Waru masih relatif aman.
Perumda memperkirakan sumber-sumber tersebut mampu mendukung pelayanan sekitar satu bulan ke depan, bergantung pada kondisi cuaca.
Di Kukar, kondisi sumber air baku Perumda Tirta Mahakam masih memungkinkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Direktur Utama Perumda Tirta Mahakam Suparno mengatakan, sejumlah intake yang mengandalkan Sungai Mahakam masih dapat beroperasi meski permukaan sungai mengalami penurunan.
"Memang terjadi pendangkalan atau penurunan air di permukaan Sungai Mahakam, tapi masih bisa kami ambil sebagai sumber air baku," ujarnya.
Potensi intrusi air laut tetap menjadi perhatian, terutama di wilayah Anggana dan Sangasanga.
Saat ini kadar garam masih berada di bawah ambang batas 250 ppm sehingga proses pengolahan air tetap berjalan normal.
Perumda juga terus memantau debit Sungai Mahakam dan berharap hujan segera turun di wilayah hulu untuk mengembalikan elevasi sungai.
Selain Sungai Mahakam, sejumlah wilayah seperti Muara Jawa dan Muara Badak mengandalkan sumur dalam.
Sumber air tanah tersebut juga mulai mengalami sedikit penurunan, meski belum sampai mengalami kekeringan.
Sebagai langkah antisipasi, Perumda Tirta Mahakam membuka opsi pemanfaatan void bekas tambang sebagai sumber air baku alternatif.
Beberapa void telah dimanfaatkan, di antaranya di Desa Bukit Pariaman, Kecamatan Tenggarong Seberang, dan kawasan SPN di Jahab.
Namun, kualitas air harus diperiksa terlebih dahulu sebelum digunakan.
"Jika memang kondisi air yang lain tidak memungkinkan, kan banyak void di Kutai Kartanegara ini. Nah, masih mungkin kita ambil itu jadi cadangan air," kata Suparno.
Di tengah kondisi tersebut, masyarakat diimbau menghemat penggunaan air dan menyiapkan tempat penampungan sebagai langkah antisipasi jika kemarau berkepanjangan mulai mengganggu pelayanan.
Fenomena El Nino diprediksi masih berlangsung hingga awal 2027.
Kondisi ini menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai masyarakat Kalimantan Timur karena berpotensi memperpanjang periode kekeringan.
Hal tersebut disampaikan Pengamat Meteorologi dan Geofisika Muda Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan Balikpapan, Carolina Meylita Sibarani, saat menjadi narasumber dalam Podcast Tribun Kaltim bersama Pemimpin Redaksi Tribun Kaltim Sumarsono, Jumat (21/8/2026).
Carolina mewakili Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I SAMS Sepinggan Balikpapan Djoko Sumardiono.
"Diprediksi El Nino ini akan bertahan hingga awal 2027," ujar Carolina.
Menurutnya, fenomena El Nino yang terjadi bersamaan dengan musim kemarau di Kaltim dapat meningkatkan potensi kekeringan meteorologis.
Namun, kondisi tersebut bukan berarti Kaltim tidak akan mengalami hujan hingga 2027.
Masih terdapat sejumlah faktor lokal yang dapat memicu pertumbuhan awan hujan, terutama karena sebagian wilayah Kaltim berada di kawasan pesisir.
"Masih ada potensi hujan yang dipengaruhi faktor lokal, seperti angin laut, angin darat, dan pengaruh perairan Selat Makassar," jelasnya.
Carolina mengatakan Agustus merupakan puncak musim kemarau di Kaltim.
Kondisi tersebut menyebabkan kelembapan udara relatif rendah sehingga peluang pertumbuhan awan hujan menjadi lebih kecil.
Karena itu, masyarakat diminta tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak kekeringan, terutama potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
"Karena ini fenomena alam yang tidak bisa kita halangi, yang bisa dilakukan adalah antisipasi dan kesiapsiagaan berdasarkan informasi prakiraan cuaca," pungkasnya.
Baca juga: Waduk Manggar Balikpapan Menyusut, PTMB Batasi Pengambilan Air, Siapkan Sumur Warga Hadapi El Nino
BALIKPAPAN
SAMARINDA
PPU
KUKAR