TRIBUNJOGJA.COM – Tribunners mungkin sering mendengar istiah Senin Pon, Selasa Kliwon, Rabu Wage.
Namun, satu kelahiran ternyata masih bisa dibaca lebih jauh dalam tradisi pawukon.
Ada 30 wuku yang masing-masing berlangsung selama tujuh hari.
Setiap wuku pun memiliki nama, simbol, dewa pelindung, serta gambaran watak yang berbeda.
Misalnya, seseorang yang lahir pada Senin Pon dalam buku Primbon Pawukon Bayi Lahir disebut berada dalam Wuku Prang Brakat.
Dari sini muncul berbagai gambaran tentang karakter, ketahanan menghadapi masalah, hingga hal-hal yang dipercaya berkaitan dengan perjalanan hidupnya.
Lantas, seperti apa gambaran Wuku Prang Brakat menurut primbon Jawa?
Lahir Senin Pon, Wukunya Prang Brakat
Dalam buku Primbon Pawukon Bayi Lahir yang diterbitkan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, disebutkan bahwa seseorang yang lahir tepat pada Senin Pon memiliki Wuku Prang Brakat.
Menurut primbon, wuku ini memiliki dewa pelindung yakni Batara Bisma.
Wuku ini juga memiliki beberapa simbol, yakni burung Kencaka dan batang kerisan sebagai lambang kayu.
Dalam kepercayaan pawukon, simbol-simbol tersebut kemudian digunakan untuk menggambarkan karakter seseorang yang lahir pada wuku tersebut.
Seperti Apa Watak Wuku Prang Brakat?
Menurut sumber tersebut, orang yang memiliki Wuku Prang Brakat digambarkan sebagai sosok yang tidak suka menerima perkataan yang tidak baik.
Gambaran tersebut kemudian diperkuat melalui karakter Batara Bisma yang disebut memiliki watak pemarah tetapi peramah.
Ada sisi lain yang juga menarik.
Sosok ini disebut mudah tersinggung, tetapi memiliki kesabaran dalam menghadapi persoalan.
Ketika menghadapi usaha yang belum berhasil, ia juga digambarkan tidak mudah menyerah.
Jadi, di balik sifat yang cukup sensitif terhadap perkataan orang lain, terdapat karakter yang dianggap tahan menghadapi ujian dan tidak gampang putus asa.
Baca juga: Rusia Siap Damai dengan Ukraina Asalkan Ada “Ide Sejalan”
Dilambangkan dengan Batang Kerisan
Dalam pawukon, gambaran seseorang tidak hanya dijelaskan melalui watak.
Ada pula simbol-simbol yang dipercaya memiliki makna tertentu.
Wuku Prang Brakat dilambangkan dengan batang kerisan yang menggambarkan sifat kokoh dan kuat.
Karena itu, karakter manusia yang dikaitkan dengan wuku ini juga digambarkan memiliki sifat tahan uji.
Namun, terdapat sisi lain yang disebut dalam sumber.
Orang dengan Wuku Prang Brakat disebut kurang suka menjadi pelindung sanak kerabat apabila tidak memiliki kedekatan dengan mereka.
Artinya, hubungan keluarga tetap dipandang penting, tetapi kedekatan menjadi salah satu hal yang berpengaruh dalam hubungan tersebut.
Ada Sifat Tegas, tetapi Bisa Melunak
Masih dalam gambaran simbolik Wuku Prang Brakat, terdapat pula lambang Batara Bisma yang digambarkan membelakangi air dalam jambangan atau belanga besar.
Simbol tersebut dikaitkan dengan kebiasaan memberikan perintah secara keras pada awalnya, tetapi kemudian menjadi lebih lunak dalam proses pembinaan.
Gambaran tersebut membuat karakter Wuku Prang Brakat terlihat cukup menarik.
Di satu sisi ada sifat tegas, mudah tersinggung, dan pemarah, tetapi di sisi lain terdapat sifat ramah, sabar, dan mampu bertahan ketika menghadapi persoalan.
Dalam sumber tersebut, perwatakannya juga disebut memiliki kecenderungan angkuh.
Bagaimana dengan Rezeki dan Usaha?
Primbon Pawukon juga tidak hanya membahas watak.
Ada pula bagian yang memberikan gambaran mengenai usaha dan penghasilan.
Untuk orang yang dikaitkan dengan Wuku Prang Brakat, sumber tersebut menyebut berjualan minuman dhawet dan ketupat sebagai salah satu usaha yang dianggap baik.
Namun, bagian ini merupakan tafsir dalam tradisi primbon, sehingga tidak dapat dipahami sebagai jaminan bahwa jenis usaha tertentu pasti membawa keberuntungan.
Begitu pula berbagai pantangan dan penangkal yang dicantumkan dalam sumber merupakan bagian dari praktik kepercayaan masyarakat pada masa tersebut.
Jadi, Apa Itu Wuku Kelahiran?
Dari contoh Senin Pon tadi, bisa terlihat bahwa wuku kelahiran merupakan bagian dari sistem pawukon yang menghubungkan waktu kelahiran dengan gambaran tertentu mengenai watak dan kehidupan seseorang.
Dalam sistem pawukon sendiri terdapat 30 wuku, mulai dari Sinta hingga Watugunung. Setiap wuku berlangsung selama tujuh hari sehingga satu siklus pawukon berlangsung selama 210 hari.
Karena itu, wuku tidak sama dengan weton.
Weton merupakan gabungan antara hari dan pasaran, sedangkan wuku merupakan bagian dari siklus pawukon yang memiliki nama, simbol, dan tafsir tersendiri.
Berbagai gambaran mengenai watak, keberuntungan, usaha, maupun pantangan dalam primbon merupakan kepercayaan dan pengetahuan tradisional.
Bukan patokan ilmiah yang menentukan kehidupan seseorang.
Karakter seseorang terbentuk dari banyak hal, mulai dari lingkungan, pengalaman, pendidikan, hingga pilihan hidupnya sendiri.
Tribunners, setiap wuku punya gambaran watak dan simbol yang berbeda.
Lantas, seperti apa gambaran wuku kelahiran lainnya?
Wuku mana yang paling menarik untuk dibahas berikutnya?
Tulis di kolom komentar ya!
(MG Natasya Aulia)