Rusia Siap Damai dengan Ukraina Asalkan Ada “Ide Sejalan”
Joko Widiyarso August 22, 2026 08:14 AM

TRIBUNJOGJA.COM, MOSKWA - Pemerintah Rusia menyatakan terbuka untuk mendengarkan usulan baru terkait penyelesaian perang di Ukraina. 

Meski demikian, Moskwa menegaskan bahwa setiap usul yang diajukan harus mencerminkan realitas di lapangan. 
                            
Sikap tersebut disampaikan Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Ryabkov dalam wawancara dengan media News.ru yang diterbitkan pada Jumat (21/8/2026). 

Menurut Ryabkov, Amerika Serikat (AS) telah menunjukkan kesiapan untuk melakukan dialog konstruktif serta menunjukkan pemahaman terhadap posisi Rusia. 

Namun, Ryabkov menekankan bahwa efektivitas dialog tersebut sangat bergantung pada peran aktif Washington terhadap sekutunya, sebagaimana dilansir Reuters. 

"Pada tahap ini, hal yang lebih penting adalah sejauh mana Washington mampu memengaruhi keputusan rezim Kyiv dan para sponsor Eropanya, yang masih memimpikan 'kekalahan strategis' Rusia," ujar Ryabkov. 

Dia menambahkan, Istana Kepresidenan Rusia alias Kremlin siap mempertimbangkan berbagai masukan, termasuk ide-ide baru dari Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, selama memenuhi syarat tertentu. 

"Federasi Rusia siap mendengarkan setiap proposal dan ide masuk akal yang sejalan dengan tujuan yang ditetapkan oleh Presiden Rusia serta memenuhi 'realitas di lapangan'," tegasnya. 

Selain pembahasan terkait Ukraina, Ryabkov mengisyaratkan keinginan Moskwa untuk tetap melanjutkan diskusi dengan Washington mengenai persenjataan nuklir. 

Perjanjian pengendalian nuklir antara AS dan Rusia bernama New START tersebut telah berakhir pada Februari.

Berakhirnya kesepakatan tersebut membuat kedua negara tidak lagi terikat batasan resmi pada persenjataan strategis mereka untuk pertama kalinya dalam lebih dari setengah abad. 

Pasukan Moskwa menyatakan akan tetap mematuhi batas rudal dan hulu ledak yang diatur dalam perjanjian tersebut selama Washington juga melakukan hal yang sama. 

"Kami tetap terbuka di masa mendatang untuk menemukan cara-cara politik dan diplomatik guna menstabilkan bidang ini," kata Ryabkov. 

Setelah hampir empat setengah tahun perang berlangsung, Rusia kini menguasai sekitar seperlima dari wilayah Ukraina yang diakui secara internasional. 

Moskwa berulang kali menyatakan terbuka untuk berunding, tetapi menegaskan negosiasi harus mengakui realitas baru di lapangan. 

Di sisi lain, proses negosiasi antara Rusia dan AS untuk mengakhiri konflik di Ukraina sebagian besar mengalami kebuntuan di tengah kecamuk perang di Iran. 

Bulan lalu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan komitmen Washington untuk membantu mengakhiri perang usai bertemu Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov di Manila, Filipina. 
 
Namun, Rubio memberi peringatan bahwa tidak ada kesepakatan cepat yang bisa dicapai dan AS sedang berupaya mencari titik tengah. 

Sementara itu, Kremlin pada Kamis (20/8/2026) menyatakan belum memiliki informasi terkait kemungkinan kunjungan lanjutan ke Moskwa oleh utusan khusus presiden AS, Jared Kushner dan Steve Witkoff, yang sebelumnya memimpin negosiasi dengan Rusia. (kpc)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.