Tiba di Dampek, EMT Unismuh Siapkan Layanan Kesehatan untuk Warga Terdampak Gempa
Muh. Abdiwan August 22, 2026 08:22 AM

TRIBUN-TIMUR.COM - Perjalanan panjang dari Makassar hingga pelosok Manggarai Timur tidak menyurutkan langkah Emergency Medical Team (EMT) Universitas Muhammadiyah Makassar untuk segera mendekat ke masyarakat yang terdampak gempa Nusa Tenggara Timur (NTT).

EMT Unismuh memulai misi kemanusiaan di wilayah tersebut pada Kamis, 20 Agustus 2026, dengan mengarahkan sembilan personel menuju Posko Bencana Dampek, Desa Satar Punda, Kecamatan Lambaleda Utara, Kabupaten Manggarai Timur.

Hari pertama penugasan difokuskan pada mobilisasi sekaligus konsolidasi tim agar pelayanan kesehatan yang akan diberikan nantinya dapat terintegrasi dengan sistem penanganan bencana yang sudah berjalan di lapangan.

Tim terlebih dahulu terbang dari Makassar menuju Labuan Bajo sebelum melakukan koordinasi dengan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) dan Posko Bencana Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Manggarai Barat.

Ketua EMT Unismuh Makassar, Dr. Muhammad Ihsan Kitta, Sp.OT(K), mengatakan koordinasi menjadi langkah penting sebelum tim mulai memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat terdampak.

“Hari pertama kami fokus pada mobilisasi dan konsolidasi. Sebelum masuk ke pelayanan, kami harus memastikan koordinasi dengan posko yang sudah ada, memahami situasi lapangan, serta memastikan personel dan logistik siap digunakan,” kata Ihsan.

Setelah koordinasi di Labuan Bajo rampung, tim kemudian melanjutkan perjalanan darat menuju Dampek yang menjadi wilayah penugasan EMT Unismuh.

Perjalanan panjang tersebut baru berakhir pada malam hari setelah tim tiba di Posko Bencana Dampek, Desa Satar Punda, sekitar pukul 23.15 WITA dan diterima oleh dr. Baim dan dr. Alfian.

Ihsan mengatakan keputusan untuk melanjutkan perjalanan hingga wilayah penugasan dilakukan agar tim dapat segera berada sedekat mungkin dengan masyarakat yang membutuhkan dukungan.

“Kami memilih bergerak sampai ke wilayah penugasan agar pada hari berikutnya tim sudah bisa bekerja dari titik yang memang membutuhkan dukungan. Jadi, hari pertama ini menjadi fondasi bagi pelayanan kesehatan selanjutnya,” ujarnya.

Menurut Ihsan, respons kesehatan dalam situasi bencana membutuhkan koordinasi yang kuat karena EMT harus terintegrasi dengan struktur respons yang telah berjalan, termasuk pemerintah daerah, fasilitas kesehatan, dan jejaring kemanusiaan.

“Prinsip kami adalah datang untuk memperkuat, bukan membuat sistem baru yang berjalan sendiri. Tim harus masuk ke dalam koordinasi yang ada agar pelayanan kepada masyarakat lebih efektif dan tidak tumpang tindih,” kata Ihsan.

Di tengah persiapan tersebut, kondisi di wilayah terdampak masih dinamis karena gempa susulan tercatat terjadi pada 20 Agustus 2026, dengan empat di antaranya dirasakan dalam skala relatif besar.

Kondisi tersebut menjadi perhatian EMT Unismuh karena menyangkut keselamatan personel, masyarakat terdampak, serta kesiapan lokasi yang akan digunakan untuk pelayanan kesehatan.

“Keselamatan masyarakat dan petugas tetap menjadi pertimbangan utama. Gempa susulan masih terjadi, sehingga setiap langkah di lapangan harus menyesuaikan dengan perkembangan situasi,” ujar Ihsan.

Karena sebagian besar waktu hari pertama digunakan untuk perjalanan dan koordinasi, EMT Unismuh belum membuka pelayanan kesehatan bagi masyarakat pada Kamis, 20 Agustus 2026.

Laporan situasi atau SITREP EMT Unismuh juga mencatat belum terdapat pelayanan kesehatan, kasus rujukan, pelayanan kesehatan reproduksi, maupun kegiatan promosi kesehatan pada hari pertama penugasan.

Tahap awal tersebut dimanfaatkan untuk memastikan kesiapan personel, logistik, serta pemahaman terhadap kondisi lapangan sebelum tim memasuki fase pelayanan kepada masyarakat.

Berdasarkan Surat Tugas LRB Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 235/TGS/I.18/F/2026, EMT Unismuh yang ditugaskan dalam respons gempa NTT di Posko Dampek diperkuat sembilan personel dari Universitas Muhammadiyah Makassar, RS PKU Muhammadiyah Unismuh Makassar, dan MDMC PWM Sulawesi Selatan.

Tim tersebut memiliki latar belakang tenaga kesehatan dan pendukung medis, mulai dari dokter spesialis, dokter, perawat, bidan, tenaga bantuan medis hingga tenaga teknis kefarmasian.

Personel yang ditugaskan antara lain Dr. dr. Hisbullah Amin, Sp.An., KIC., KAKV dari MDMC PWM Sulawesi Selatan dan dr. Netty Nurnaningtias, Sp.EM, M.M.B., FICEP dari RS PKU Muhammadiyah Unismuh Makassar.

Selain itu terdapat dr. Gheo Sentra Sumakna Asianto, Muhammad Purqan Nur, S.Kep., M.Kes., MTDP, Muhammad Arifullah Tuwo, S.Kep., Ns, Nurhani, S.Keb, Akmal Bantun, M. Rafi Hafidz M, dan Muh. Qowi Abid M., Amd.Farm yang seluruhnya ditempatkan di Posko Bencana Dampek.

Dalam SITREP 20 Agustus, dr. Netty Nurnaningtias, Sp.EM, M.M.B., FICEP tercatat sebagai koordinator tim pada Pos EMT Unismuh di Dampek, Desa Satar Punda, sedangkan secara kelembagaan Dr. Muhammad Ihsan Kitta, Sp.OT(K) merupakan Ketua EMT Unismuh Makassar.

Dokumentasi hari pertama memperlihatkan rangkaian keberangkatan tim dari Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar, koordinasi dengan PDM dan Posko Bencana Manggarai Barat, hingga konsolidasi dengan penanggung jawab posko di wilayah penugasan.

Ihsan mengatakan selesainya tahap mobilisasi dan konsolidasi pada 20 Agustus menjadi pijakan bagi EMT Unismuh untuk memasuki fase pelayanan sekaligus penguatan sistem kesehatan di wilayah terdampak.

“Setelah tim tiba, orientasi dan koordinasi awal selesai, tahap berikutnya adalah bergerak pada pelayanan dan penguatan sistem kesehatan di lokasi terdampak. Semua akan kami sesuaikan dengan kebutuhan masyarakat dan hasil koordinasi dengan pihak setempat,” tutup Ihsan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.