TRIBUNNEWS.COM - Ahmad Zaki Ali (38), pendiri Relawan Gerak Bareng, meninggal dunia saat menjalankan misi kemanusiaan untuk membantu masyarakat terdampak gempa bumi Magnitudo 7,7 yang mengguncang Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (15/8/2026).
Ahmad Zaki atau yang akrab disapa Bang Jek dilaporkan meninggal dunia akibat kelelahan saat menjalankan misi pendistribusian bantuan dari Reo, Kabupaten Manggarai, menuju Desa Satar Padut, Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur, Jumat (21/8/2026).
Ahmad Zaki bersama sejumlah relawan berangkat ke wilayah terdampak pada Minggu (16/8/2026), sehari setelah gempa Magnitudo 7,7 mengguncang Flores.
Ia datang untuk membantu mendistribusikan kebutuhan bagi masyarakat yang terdampak bencana.
Dalam unggahan di akun Instagram pribadinya, @ahmadzaki_ali, pada 16 Agustus 2026, Zaki menyampaikan harapannya agar misi kemanusiaan yang dijalankan dapat memberikan manfaat bagi warga.
"Bismillah, berharap keridhaan Allah, semoga hadirnya kita memberi manfaat kepada masyarakat," tulis Zaki pada unggahan Instagram, 16 Agustus 2026.
Selama berada di lokasi bencana, Zaki juga rutin membagikan perkembangan aktivitasnya melalui media sosial.
Pada Jumat (21/8/2026), beberapa waktu sebelum dikabarkan meninggal dunia, Zaki masih sempat membagikan kabar terbaru mengenai aktivitasnya di NTT.
Dalam unggahan tersebut, ia mengatakan telah enam hari berada di lokasi bencana.
"Alhamdulillah, sekarang Jumat tanggal 21 Agustus 2026, saya sudah enam hari berada di NTT, dan alhamdulillah sebagian besar amanah kawan-kawan baik telah tersampaikan, tersalurkan ke ratusan keluarga yang terdampak gempa," ucapnya.
Ia juga menyebut kondisi di wilayah terdampak masih mengkhawatirkan, terlebih dengan adanya gempa susulan.
"Kondisi saat ini masih mengkhawatirkan, ditambah gempa susulan yang terjadi," lanjutnya.
Dalam caption video tersebut, Zaki juga mengungkapkan bahwa persediaan logistik yang dibawa relawan mulai menipis.
"Logistik kita menipis, semoga Jumat ini bisa bertambah lagi. Agar makin banyak dan luas jangkauan bantuan yang bisa kita salurkan."
"Di Fase Tanggap darurat kita akan Fokus pada Kebutuhan dasar, oleh karenanya kita butuh support orang orang baik," tulisnya.
Unggahan tersebut menjadi salah satu kabar terakhir yang disampaikan Zaki dari lokasi penanganan bencana.
Baca juga: Jenazah Ahmad Zaki Relawan Gempa NTT Diterbangkan ke Jakarta
Setelah Zaki meninggal dunia, proses evakuasi dilakukan oleh Kantor SAR Maumere bersama potensi SAR.
Deputi Operasi dan Siaga Basarnas, Mayjen TNI (Mar) Edy Prakoso, mengatakan proses evakuasi dilakukan dengan cepat agar jenazah dapat segera dibawa keluar dari lokasi bencana dan dipulangkan ke Jakarta.
“Pukul 07.04 WITA, Tim Heli Dauphin Basarnas telah mendarat di Helipad Kampung Ronting, Desa Satar Kampas, Kabupaten Manggarai Timur, dan langsung memproses evakuasi jenazah almarhum Ahmad Zaki Ali,” ujar Edy.
Setelah dievakuasi dari lokasi penanganan bencana, Helikopter Dauphin Basarnas membawa jenazah Zaki menuju Bandara Komodo, Labuan Bajo.
Setibanya di Labuan Bajo, jenazah kemudian dibawa ke RSUD Pratama Komodo untuk menjalani proses pemulasaraan.
Setelah proses tersebut selesai, jenazah akan melanjutkan perjalanan menuju rumah duka di Jakarta.
Baca juga: Ahmad Zaki, Relawan Gempa NTT Gugur saat Bertugas, Unggahan Terakhir Sebut Logistik Menipis
Kantor SAR Maumere bersama seluruh potensi SAR menyampaikan duka cita mendalam atas berpulangnya Ahmad Zaki Ali.
Zaki dikenang sebagai relawan yang mendedikasikan tenaga dan kepeduliannya untuk membantu masyarakat terdampak bencana di Nusa Tenggara Timur.
Dedikasinya dalam mendistribusikan bantuan kepada warga terdampak gempa menjadi bagian dari perjuangan kemanusiaan di tengah kondisi bencana yang masih berlangsung.
Kepergian Zaki menambah duka di tengah upaya berbagai pihak membantu masyarakat Flores yang terdampak gempa Magnitudo 7,7 beserta gempa susulan yang terjadi.