BANJARMASINPOST.CO.ID – Duta Besar Republik Indonesia untuk Kazakhstan merangkap Tajikistan,Dr. Mochammad Fadjroel Rachman, secara resmi membuka ASEAN Summer Festival 2026 dan Tahun Kunjungan Kazakhstan - Indonesia 2026 - 2027 di Indonesia Cultural Centre, Astana, pada Sabtu (22/8/2026).
Festival yang digelar untuk kedua kalinya secara berturut-turut ini menjadi wujud komitmen ASEAN dalam mempererat hubungan dengan Kazakhstan melalui pendekatan diplomasi budaya.
Dalam sambutannya, Dubes Fadjroel menyampaikan apresiasi atas kehadiran para duta
besar negara-negara ASEAN, perwakilan pemerintah Kazakhstan, korps diplomatik, dan
masyarakat Astana yang memadati pusat budaya Indonesia tersebut.
Sebelum memasuki acara inti, Dubes Fadjroel menyampaikan duka cita mendalam atas
bencana gempa bumi dahsyat yang melanda Nusa Tenggara Timur, Indonesia, yang
menelan banyak korban jiwa.
Atas nama pemerintah dan rakyat Indonesia, ia mengucapkan terima kasih kepada keluarga besar ASEAN, Kazakhstan, dan masyarakat Astana atas solidaritas serta doa yang diberikan.
“Solidaritas saudara sekalian mengingatkan kita bahwa persahabatan akan terasa paling
bermakna ketika kita saling berdiri bersama, tidak hanya dalam suka cita, tetapi juga
dalam masa duka,” ujar Dubes Fadjroel.
Dubes Fadjroel menegaskan bahwa ASEAN dan Kazakhstan merupakan dua kawasan
paling dinamis di Asia. ASEAN saat ini mewakili lebih dari 680 juta penduduk dengan
ekonomi gabungan melebihi USD 3,9 triliun, menjadikannya ekonomi terbesar kelima di
dunia.
Sementara Kazakhstan, sebagai ekonomi terbesar di Asia Tengah dengan
pertumbuhan ekonomi 6,5 persen pada 2025, berada di posisi strategis di jantung
Eurasia.
“Ketika ASEAN dan Kazakhstan semakin dekat, kita menghubungkan dua kawasan
paling dinamis di Asia, jembatan emas penghubung dua kekuatan ekonomi, demografi
dan dua peradaban besar," tegasnya.
Dalam bidang ekonomi, hubungan Indonesia-Kazakhstan memasuki babak baru yang
menjanjikan. Pada Desember 2025, Indonesia resmi menandatangani Perjanjian
Perdagangan Bebas dengan Uni Ekonomi Eurasia (EAEU) di Saint Petersburg, Rusia,
yang mencakup Kazakhstan sebagai salah satu anggota EAEU.
Kesepakatan ini membuka akses pasar bagi lebih dari 90 persen produk ekspor Indonesia ke kawasan Eurasia yang berpenduduk sekitar 182,8 juta jiwa.
Momentum positif ini telah terlihat nyata. Dalam enam bulan pertama 2026, perdagangan bilateral Indonesia-Kazakhstan mencapai sekitar USD 211 juta. Perkembangan terbaru perdagangan mulai mencakup produk utama seperti minyak mentah, mineral, gandum dan minyak kelapa sawit dalam skala ratusan juta dolar AS. Pemerintah Indonesia menargetkan peningkatan nilai perdagangan hingga mencapai USD 1,5 hingga 2 miliar dalam beberapa tahun ke depan.
Di sektor pariwisata dan mobilitas manusia, Pemerintah Indonesia secara resmi
memberlakukan fasilitas bebas visa kunjungan bagi warga Kazakhstan mulai 9 Juli 2026.
Kebijakan ini merupakan tonggak sejarah dalam hubungan bilateral kedua negara. Dubes Fadjroel juga mengumumkan penetapan tahun 2026-2027 sebagai Tahun Kunjungan Indonesia-Kazakhstan, yang bertujuan mendorong pariwisata, bisnis, investasi,pendidikan, dan hubungan antarmanusia yang lebih erat.
"Tahun 2025 sudah tembus 25.000 pengunjung Kazakhstan ke Indonesia, tahun 2026 ditargetkan 50.000 pengunjung melalui bebas visa. Target tertinggi bila ditopang penerbangan langsung bisa menembus 100.000 lebih. Jangan lupa target 100 mahasiswa/i Indonesia kuliah S1, S2 dan S3 di Kazakhstan, sudah tercapai tahun 2026," ujar Dubes Fadjroel bangga.
“Saya meyakini bebas visa ini akan mendorong pariwisata, perdagangan, dan investasi
antar kedua negara terkaya dan terbesar di Asia Tengah dan Asia Tenggara ini,” ujar
Dubes Fadjroel.
Mengusung tema “Menavigasi Masa Depan Kita, Bersama-sama” (Navigating Our
Future, Together), festival tahun ini menghadirkan beragam atraksi budaya dari negara-
negara ASEAN.
Pengunjung dapat menyaksikan pertunjukan tari tradisional, mengikuti
kelas memasak kuliner khas ASEAN, mengenal batik Indonesia, serta menyaksikan
kolaborasi istimewa antara angklung dari Indonesia dan dombra dari Kazakhstan—dua
alat musik yang mencerminkan kekayaan budaya kedua bangsa.
Tahun ini, ASEAN Summer Festival juga menyambut partisipasi Singapura yang diwakili
oleh Konsul Kehormatannya di Astana, semakin memperkaya keragaman keluarga besar
ASEAN dalam festival tersebut.
Di akhir sambutannya, Dubes Fadjroel menyampaikan doa dan harapan terbaik kepada
pemerintah dan rakyat Kazakhstan menjelang pemilihan Kurultai yang bersejarah pada
23 Agustus 2026—pemilihan pertama bagi badan legislatif unikameral baru Kazakhstan
pasca reformasi konstitusi.
“Di tengah dunia yang penuh konflik dan ketidakpastian, marilah kita tidak menavigasi
masa depan masing-masing, tetapi menavigasinya bersama-sama—dalam kedamaian
dan kolaborasi,” pungkas Dubes Fadjroel.
ASEAN Summer Festival 2026 menjadi bukti nyata komitmen Indonesia dan negara-
negara ASEAN dalam mempererat kemitraan strategis dengan Kazakhstan, tidak hanya
melalui kerja sama ekonomi, tetapi juga melalui pemahaman budaya dan persahabatan
antarbangsa.
Tentang ASEAN Summer Festival
ASEAN Summer Festival digagas sejak 2025 yang merupakan inisiatif kolaboratif Komite
ASEAN di Astana (Astana ASEAN Committee – AAC) dan melibatkan negara-negara
anggota ASEAN di Kazakhstan. Festival ini bertujuan mempromosikan kekayaan budaya,
pariwisata, dan kuliner negara-negara ASEAN kepada masyarakat Kazakhstan serta
memperkuat kesadaran akan ASEAN sebagai organisasi kawasan.
"Kami menargetkan,suatu hari nanti ASEAN Summer Festival ini menjadi Festival terbesar di Kazakhstandengan melibatkan kedutaan, lembaga internasional, dan perwakilan semua negara ASEAN juga lembaga bisnis dan ekonomi. Insya Allah menjadi ASEAN Summer Festival and Expo," harap Dubes Fadjroel. (*)