TRIBUN-TIMUR.COM - Ribuan peserta Jambore Nasional 2026 asal Sulawesi Selatan meninggalkan Perkemahan Cibubur, Jakarta Timur, menuju Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Sabtu pagi (22/8/2026). Mereka akan mengarungi lautan selama dua hari dua malam menuju Pelabuhan Soekarno-Hatta di Jalan Nusantara, Makassar.
Wakil Ketua KADIN Pusat yang juga Wakil Sekjen HKTI Andi Yuslim Patawari hadir lagi membersamai mereka. Menyaksikan mereka di detik-detik terakhir meninggalkan Bumi Perkemahan dan Graha Wisata Pramuka (Buperta) Cibubur.
Buperta Cibubur adalah kawasan alam terbuka seluas 210 hektar di Jakarta Timur. Tempat ini menjadi pusat kegiatan kepramukaan nasional, fasilitas pelatihan, outbound, serta rekreasi keluarga yang dilengkapi danau, area perkemahan luas, dan penginapan.
Sehari sebelumnya, Jumat malam (21/8/2026), Wakil Ketua KADIN Pusat yang juga Wakil Sekjen HKTI Andi Yuslim Patawari kembali mendatangi tenda kontingen Sulawesi Selatan. AYP, sapaan Andi Yuslim, ikut bakar-bakar ikan bersama seluruh peserta Jamnas 2026 Sulsel sebelum mereka meninggalkan Cibubur.
Kebersamaan itu menjadi bagian terakhir dari rangkaian perjalanan panjang kontingen Sulsel di Jamnas XII 2026. Setelah dua pekan lebih meninggalkan Makassar, para Penggalang bersiap kembali ke rumah dengan membawa pengalaman yang tidak mereka dapatkan setiap hari.
Sebagian peserta bertolak dari Pelabuhan Makassar pada Sabtu pagi, 8 Agustus 2026. Mereka menempuh perjalanan laut menuju Tanjung Perak Surabaya dan tiba pada Minggu pagi, 9 Agustus. Perjalanan kemudian dilanjutkan hingga Tanjung Priok Jakarta dan rombongan bergerak menuju Cibubur.
Kini arah perjalanan berbalik. Dari Cibubur menuju Tanjung Priok. Dari Jakarta menuju Makassar.
Bukan lagi perjalanan menuju Jamnas, tetapi perjalanan pulang setelah menjalani pengalaman di tengah ribuan Pramuka Penggalang dari berbagai penjuru Indonesia.
AYP memilih berada di tengah mereka pada malam terakhir. Ia sebelumnya sudah dua kali menyambangi tenda kontingen Sulsel.
Kunjungan pertama membawa Sop Ubi Phoenampungan, kuliner yang bagi banyak aktivis Sulsel di Jakarta bukan sekadar makanan, tetapi bagian dari ruang perjumpaan dan ingatan kampung halaman.
Kunjungan berikutnya membawa sekitar 300 bungkus nasi Padang dari Rumah Makan Pagi Sore. Mobil berlabel RM Pagi Sore merangsek hingga ke depan tenda Penggalang putra dan putri Makassar di Kempi 4. Anak-anak duduk melingkar dan makan bersama.
Pada malam terakhir di Cibubur, bentuk kebersamaannya berbeda lagi.
Ikan dibakar. Anak-anak berkumpul. Tokoh yang datang tidak hanya berdiri menyaksikan. AYP ikut berada di tengah mereka.
Bagi AYP, kunjungan itu bukan agenda yang rumit.
“Saya datang hanya untuk membesuk anak-anak kita. Saya kebetulan tinggal di Jakarta, dan juga kebetulan Wakil Ketua Umum Kadin, di mana Kadin dan Kwarnas punya kerja sama dalam Jambore ini,” kata AYP kepada Tribun-Timur.com.
Ada hubungan kelembagaan di balik kehadirannya.
KADIN dan Kwarnas memiliki kerja sama dalam penyelenggaraan Jamnas. AYP berada di antara dua ruang itu sebagai Wakil Ketua Umum KADIN dan Wakil Sekjen HKTI.
Namun di depan tenda Sulsel, hubungan kelembagaan itu melebur dalam bentuk yang jauh lebih sederhana. Makan bersama. Bakar ikan bersama. Berbincang dengan anak-anak. Mendengarkan cerita mereka.
Di situlah perjalanan Jamnas 2026 terasa sebagai pengalaman manusia, bukan hanya agenda organisasi.
Sebab dua pekan lebih berada jauh dari rumah mengajarkan banyak hal kepada anak-anak.
Mereka harus mengurus perlengkapan sendiri. Menjaga tenda. Mengikuti jadwal. Bekerja dalam regu. Berbagi tugas. Berinteraksi dengan peserta dari daerah lain. Menghadapi lingkungan baru.
Hal-hal semacam itu adalah bagian dari pendidikan karakter yang tidak selalu bisa diperoleh melalui pelajaran di ruang kelas.
Pramuka memang mengajarkan disiplin dan tanggung jawab. Tetapi nilai itu menjadi lebih nyata ketika anak harus menjalaninya sendiri.
Ketika waktunya bangun, ia harus bangun.
Ketika regu mendapat tugas, ia harus ikut menyelesaikan.
Ketika perlengkapan berantakan, ia harus membereskannya.
Ketika teman membutuhkan bantuan, ia belajar menolong.
Ketika bertemu anak dari daerah lain, ia belajar bahwa Indonesia jauh lebih luas daripada lingkungan tempat ia tumbuh.
Itulah pengalaman yang dibawa pulang.
Bukan hanya seragam dan perlengkapan kemah.
Bukan hanya foto dan video.
Ada keberanian baru. Ada teman baru. Ada pengalaman bekerja bersama. Ada kemampuan mengurus diri sendiri.
Dan mungkin ada cara pandang baru tentang Indonesia.
Jamnas XII 2026 sendiri mengusung tema “Berkreasi, Berinovasi, Terampil dan Mandiri untuk Mendukung Swasembada Pangan.” Tema tersebut memperluas ruang pendidikan Pramuka dari keterampilan perkemahan menuju persoalan yang lebih nyata: pangan, lingkungan, teknologi, kewirausahaan, dan kemandirian.
Di sinilah kerja sama Gerakan Pramuka dengan dunia usaha dan sektor pertanian menjadi relevan.
Kwarnas bersama HKTI, KADIN, Kementerian Pertanian dan kelompok tani sebelumnya telah terlibat dalam kegiatan pengembangan pertanian di Buperta Cibubur. Pada April 2026, dilakukan panen perdana kedelai di kawasan tersebut sebagai bagian dari dukungan terhadap swasembada pangan.
Dalam rangkaian Jamnas XII, HKTI dan Gerakan Pramuka juga meresmikan Center of Excellence for Global Integrated Farming Training and Education atau Kampung Pertanian di Buperta Cibubur.
Ruang semacam itu memperlihatkan bahwa Pramuka dapat menjadi jembatan antara pendidikan generasi muda dan persoalan nyata yang dihadapi bangsa.
Anak-anak tidak hanya diajarkan mencintai alam. Mereka juga diperkenalkan pada pangan. Pada pertanian. Pada teknologi. Pada kerja sama.
Pada dunia yang kelak akan mereka masuki. Di sinilah posisi AYP menjadi menarik.
Ia berada di dunia usaha melalui KADIN dan di sektor pertanian melalui HKTI. Pada saat yang sama, ia memilih hadir langsung di tengah anak-anak Sulsel yang sedang menjalani pendidikan kepramukaan.
Hubungan antara dunia usaha, pertanian dan generasi muda tidak harus selalu hadir dalam ruang konferensi.
Di Cibubur, hubungan itu bisa hadir di depan tenda.
Dalam sepiring nasi. Dalam ikan yang dibakar bersama. Dalam percakapan yang berlangsung santai.
Dan dalam perhatian sederhana kepada anak-anak yang sedang jauh dari rumah.
Pulang Membawa Kisah yang Peduli dan Abai
Sabtu pagi, 22 Agustus 2026, suasana Buperta Cibubur berubah.
Tenda-tenda yang selama berhari-hari menjadi rumah sementara mulai dilipat. Tali-tali dilepas. Tiang diturunkan. Pakaian dimasukkan ke dalam ransel. Barang-barang kecil diperiksa kembali agar tidak ada yang tertinggal.
Bus datang bergantian.
Anak-anak mengangkat ransel mereka. Sebagian masih mengenakan seragam Pramuka. Sebagian berbincang dengan teman di sampingnya. Ada yang menoleh kembali ke arah tenda yang baru saja dibongkar.
Di tengah kesibukan itu, Andi Yuslim Patawari (AYP) masih berada di sana.
AYP menyaksikan mereka membereskan barang. Sesekali mengingatkan agar tidak ada perlengkapan yang tertinggal. Ia berada di antara anak-anak sampai satu per satu naik ke dalam bus.
Mesin bus menyala. Pintu ditutup. Bus bergerak meninggalkan kawasan perkemahan.
Dari balik kaca, wajah-wajah Penggalang itu masih terlihat. Buperta perlahan tertinggal di belakang mereka.
Beberapa hari sebelumnya, mereka datang ke tempat itu membawa ransel, perlengkapan kemah dan rasa ingin tahu tentang Jamnas. Kini mereka meninggalkannya dengan barang yang sama, tetapi membawa sesuatu yang tidak terlihat dari luar.
Cerita. Pengalaman. Persahabatan. Dan kenangan.
Kisah kebersamaan. Kisah tentang mereka yang peduli. Kisah tentang mereka yang abai dan tega.
Mereka pulang membawa selaksa senyum dan peristiwa. Senyum Ketua Kwarda Pramuka Sulsel Adnan Purichta Ichsan. Senyum Wakil Ketua Kwarda Pramuka Sulsel Andi Ian Kurniawan Latanro. Senyum Ketua Kontingan Sulsel Ilhamsyah Azikin. Senyum AYP.
Senyum Ketua Kwarcab Pramuka Makassar Fatmawati Rudi. Senyum Sekretarias Kwarcab Pramuka Makassar Supratman. Para senior yang hadir membersamai mereka di Pelabuhan Makassar. Yang menyambangi mereka di Cibubur.
Dalam ponsel mereka ada yang menyimpan wajah Sir David Robert Baden Powell. Cicit dari Bapak Pandu Dunia Robert Baden Powell ini hadir menyapa anak-anak peserta Jambore Nasional XII 2026 di Cibubur.
Dalam ponsel mereka ada terekam kemesraan gubernur dari Papua. Tersimpan foto dan video Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda Laos. Sop Ubi Phoenampungan. Nasi Padang Pagi Sore. Ikan segar dari Muara Angke. Semuanya kisah yang sulit terabaikan.
Perjalanan selanjutnya adalah Tanjung Priok. Dari sana mereka akan naik kapal dan kembali mengarungi laut selama dua hari dua malam menuju Makassar.
Perjalanan pulang itu akan membawa mereka melewati laut yang sama seperti ketika mereka berangkat.
Tetapi anak-anaknya sudah berbeda.
Mereka telah hidup bersama ribuan Pramuka dari berbagai penjuru Indonesia. Mereka telah belajar mengikuti jadwal, mengurus perlengkapan, bekerja dalam regu, berbagi tugas, menghadapi lingkungan baru, dan menyelesaikan berbagai kegiatan tanpa orang tua berada di dekat mereka.
Mereka juga membawa cerita tentang orang-orang yang datang menjenguk.
Tentang Sop Ubi Phoenampungan yang dibawa AYP.
Tentang 300 bungkus nasi Padang dari Rumah Makan Pagi Sore.
Tentang anak-anak yang duduk melingkar di depan tenda.
Tentang pesan kepada Presiden Prabowo Subianto yang mereka rekam dengan wajah lugu dan senyum tulus.
Dan tentang malam terakhir ketika ikan dibakar bersama sebelum mereka pulang.
AYP kembali datang pada malam itu.
Kali ini tidak membawa mobil berisi ratusan bungkus makanan. Ia berada di tengah mereka ketika ikan dibakar. Anak-anak berkumpul di sekitar api. Percakapan berlangsung di antara tenda yang sudah akan mereka tinggalkan.
Malam itu menjadi malam terakhir mereka di Cibubur.
Pagi harinya, tenda-tenda mulai kosong.
Apa yang beberapa hari sebelumnya terlihat sebagai perkampungan Pramuka perlahan berubah menjadi lapangan luas. Barang-barang diangkut. Tenda menghilang satu per satu. Bus membawa peserta keluar menuju gerbang Buperta.
AYP tetap melihat sampai rombongan bergerak.
Ada sesuatu yang sederhana dalam pemandangan itu.
Seorang anak pergi membawa ranselnya.
Seorang pembina memastikan rombongannya lengkap.
Seorang tokoh berdiri di sisi jalan melihat mereka meninggalkan perkemahan.
Tidak ada lagi kegiatan yang harus diikuti. Tidak ada lagi jadwal apel yang menunggu. Tidak ada lagi tenda yang harus dijaga.
Jamnas 2026 bagi mereka takkan pernah usai: Sayonara sampai berjumpa lagi.
Pendidikan yang mereka jalani selama berada di Cibubur belum selesai.
Justru baru akan terlihat ketika mereka kembali ke rumah.
Apakah mereka menjadi lebih mandiri?
Apakah mereka lebih berani mengambil tanggung jawab?
Apakah mereka lebih mampu bekerja bersama?
Apakah perjumpaan dengan anak-anak dari berbagai daerah membuat mereka melihat Indonesia dengan cara yang berbeda?
Jawabannya tidak akan ditemukan di Buperta.
Jawabannya akan dibawa pulang. Ke rumah. Ke sekolah. Ke lingkungan tempat mereka tumbuh. Ke kehidupan sehari-hari.
Cibubur adalah tempat mereka berkemah. Tetapi rumah adalah tempat mereka membawa pulang apa yang telah mereka pelajari.(*)