TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Sumur warga Jering di Sleman mengering. Warga dusun yang lokasinya berada di perbukitan bagian utara Kalurahan Sidorejo tersebut mulai merasakan dampak kemarau panjang.
Di dusun tersebut, debit sumur warga menyusut dan keruh sehingga tidak bisa digunakan untuk kebutuhan minum dan memasak.
Kepala Pelaksana BPBD Sleman, Bambang Kuntoro mengatakan warga Dusun Jering yang meminta bantuan dropping air bersih terletak di kawasan perbukitan.
"Warga Jering, Sidorejo (yang meminta dropping air) itu berada di area perbukitkan. Sumurnya (warga di sana) asat (kering)," katanya, Sabtu (22/8/2026).
Ia mengungkap bahwa dampak kemarau panjang dan kering tahun ini meluas di sejumlah wilayah Kabupaten Sleman.
Dibanding tahun sebelumnya, pada tahun ini banyak warga yang meminta bantuan dropping air bersih.
Permintaan dropping air dari warga Dusun Jering adalah yang terbaru. Sumur-sumur warga di dusun itu mengering.
Sebagai langkah penanganan darurat, BPBD Sleman telah menempatkan fasilitas hidran umum di lokasi tersebut. Namun, pasokan air dari hidran umum saat ini dibatasi penggunaannya khusus untuk kebutuhan esensial. Misalnya kebutuhan minum dan memasak.
Sedangkan untuk kebutuhan yang lain, warga Dusun Jering masih harus mengandalkan sumber air dari tempat umum lain yang berada di wilayah perkampungan bawah atau kampung sebelah. Hal ini dikarenakan kondisi sumur milik warga saat ini sudah tidak layak pakai dan keruh.
"Mereka dropping hanya untuk kebutuhan minum, masak saja. Sedangkan untuk yang lainnya, masih cukup mengandalkan mengambil di tempat umum lain yang ada di bawahnya. Di kampung sebelah. Tapi kalau untuk makan dan minum ngambil di hidran umum, karena sumurnya keruh,"ujar dia.
Berdasarkan data Pusdalops BPBD Sleman per 21 Agustus 2026, penanganan darurat kekeringan dan krisis air bersih telah dilaksanakan di berbagai kapanewon terdampak sejak April lalu. Penyaluran pertama di Kapanewon Turi, tepatnya Kalurahan Girikerto akibat tebing longsor.
Di bulan Juli dropping air diberikan untuk warga Moyudan, tepatnya di Kalurahan Sumbersari akibat pompa dan pipa tersumbat lumpur.
Sementara di bulan Agustus ini, wilayah Girikerto, Turi dan Kalurahan Merdikorejo, Tempel meminta bantuan dropping air bersih akibat penurunan debit air Sungai Krasak.
Dropping terbaru disalurkan kepada warga di Kapanewon Godean, tepatnya di Dusun Jering, Kalurahan Sidorejo. Jumlah terdampak 11 Kepala Keluarga akibat penurunan debit air sumur warga.
Jika ditotal akumulasi penyaluran air bersih sepanjang periode April hingga Agustus 2026 ini, telah didistribusikan untuk 521 Kepala Keluarga (KK) dengan total 38 ritase atau setara 208.000 liter.
Jumlah tersebut didistribusikan ke wilayah-wilayah terdampak krisis air di Kabupaten Sleman.