Kekeringan dan Karhutla Melanda DMI Serukan Umat Bertaubat dan Salat Istisqa se-Indonesia
Ilham Mulyawan August 23, 2026 10:47 AM

TRIBUN-SULBAR.COM - Kejadian kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Indonesia terjadi di beberapa wilayah, termausak Sulawesi Barat.

Diduga kebakaran hutan dan lahan ini dipicu musim kemarau, dan cuaca panas sehingga tumbuhan mengering dan memicu munculnya api hingga kebakaran terjadi.

Baca juga: Gara-Gara Sapi Masuk Kebun dan Rusaki Tanaman Orang Lain Pemilik Ternak di Polman Bayar Rp1 Juta

Baca juga: 4 Jam Menyusuri Jalan Rusak Relawan UMI Makassar Beri Layanan Kesehatan Warga Terdampak Gempa di NTT

Oleh karena itu, pimpinan Pusat (PP) Dewan Masjid Indonesia (DMI) menyerukan agar setiap masjid melakukan Shalat Istisqa' (shalat minta diturunkan hujan). 

Seruan ini disampaikan PP DMI melalui surat bertanggal 21 Agustus 2026, kepada seluruh Pimpinan Wilayah (PW), daerah, cabang dan ranting DMI. Juga untuk DKM/takmir dan seluruh jamaah masjid Indonesia. 

Surat ini ditandatangani langsung oleh Ketua Umum PP DMI Jusuf Kalla. 

"Periode musim kemarau yang berkepanjangan yang mengakibatkan peningkatan suhu lingkungan, menyebabkan kekeringan, menimbulkan krisis air dan memicu kebakaran hutan yang meluas di beberapa wilayah Indonesia," tulisnya. 

Selain itu, DMI juga menghimbau agar khatib Shalat Istisqa' mengajak seluruh umat untuk bertaubat dan memperbsnyak istighfar agar terhindar dari bencana dan malapetaka. 

"Meminta ampun atas segala dosa (bertaubat), memperbanyak istighfar, dan berdoa sungguh-sungguh agar Allah SWT mengabulkan apa yang menjadi kebutuhan umat Islam dan seluruh bangsa ini, " terang seruan tersebut. 

PP DMI menyarankan Shalat Istisqa' ini digelar di seluruh masjid di Indonesia dalam rentang waktu bulan Agustus hingga awal September 2026. Shalat juga bisa dilaksanakan di lapangan terbuka maupun di halaman-halaman masjid.

Kebakaran di Battoa

Baru-baru ini, personel gabungan Polres Polewali Mandar (Polman) dan Polsek Binuang bergerak cepat menangani kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang terjadi di Pulau Battoa, tepatnya di Dusun Kapejang dan Dusun Lendang, Desa Tonyaman, Kecamatan Binuang, Kabupaten Polewali Mandar, Jumat (21/8/2026) lalu.

Kebakaran diketahui setelah masyarakat melaporkan adanya kobaran api sekitar pukul 15.10 WITA. 

Dari hasil pengecekan di lapangan, api diduga mulai membakar kawasan bukit berupa lahan kosong di Dusun Kapejang sekitar pukul 14.00 WITA sebelum kemudian merambat ke wilayah Dusun Lendang.

Kondisi vegetasi yang didominasi pohon bambu dan rumput ilalang kering membuat api dengan cepat meluas hingga memasuki sejumlah lahan perkebunan milik warga.

Menindaklanjuti laporan tersebut, personel piket Polres Polman bersama personel Polsek Binuang langsung menuju lokasi untuk melakukan pemadaman. 

Tim dipimpin Pamapta III SPKT Polres Polman IPDA Abd. Salam, S.Sos., M.H., didampingi Kanit Binmas Polsek Binuang AIPTU Hariyanto, S.H., dan Kanit Reskrim Polsek Binuang AIPTU Aras.

Personel kepolisian bersama masyarakat setempat melakukan pemadaman menggunakan peralatan seadanya. Berkat upaya bersama tersebut, kobaran api berhasil dikendalikan sekitar pukul 18.00 WITA.

“Setelah menerima informasi dari masyarakat terkait adanya kebakaran lahan di wilayah Pulau Battoa, personel gabungan Polres Polman dan Polsek Binuang langsung mendatangi lokasi untuk melakukan upaya pemadaman bersama warga. Api berhasil dikendalikan sekitar pukul 18.00 WITA,” ujar IPDA Abd. Salam.

Meski kobaran api telah berhasil dikendalikan, petugas masih menemukan sejumlah bara api di beberapa titik. Karena itu, masyarakat diminta tetap melakukan pemantauan untuk mengantisipasi munculnya kembali titik api.

“Kami tetap mengimbau masyarakat untuk bersama-sama melakukan pemantauan karena masih terdapat bara api yang berpotensi kembali menyala,” tambahnya.

Berdasarkan hasil pengumpulan bahan keterangan di lokasi, luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai sekitar 20 hektare. Lahan yang terdampak diketahui merupakan milik Galung (72), Fasya (65), Umar (65), serta lahan milik almarhum Syamsuddin, almarhum Sida, dan almarhum Hambali.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Polman AKP Budi Adi, S.H., S.Sos., M.H., mengatakan pihaknya masih melakukan penyelidikan untuk mengetahui penyebab pasti kebakaran.

“Penyebab kebakaran lahan di Pulau Battoa hingga saat ini masih dalam penyelidikan. Dari hasil pengumpulan bahan keterangan di lapangan, api diduga bermula dari kawasan bukit lahan kosong di Dusun Kapejang, kemudian merambat ke Dusun Lendang hingga memasuki lahan perkebunan milik warga,” jelas AKP Budi Adi.

Dari keterangan masyarakat sekitar, kebakaran di kawasan tersebut disebut kerap terjadi setiap musim kemarau. Warga menduga kondisi lahan yang kering serta gesekan batu yang jatuh dari kawasan perbukitan dapat memunculkan percikan api dan menyambar rumput ilalang.

Namun, dugaan tersebut masih memerlukan pendalaman dan belum dapat dipastikan sebagai penyebab kebakaran. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.