300 Warga NU Sulsel Hadiri Muktamar di Jombang, Diingatkan Jangan Jadi 'Kayu Bakar Politik'
Ansar August 23, 2026 02:22 PM

TRIBUN-TIMUR, MAKASSAR -  Sekira 300 warga Nahdlatul Ulama (NU) asal Sulawesi Selatan (Sulsel) bersiap menuju Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.

Mereka akan mengikuti rangkaian Muktamar ke-35 NU yang dijadwalkan berlangsung selama lima hari, 27-31 Agustus 2026.

Sebagian besar rombongan dari Sulsel akan menempuh perjalanan menggunakan kapal laut. Rombongan jalur laut dijadwalkan mulai berangkat pada Senin (24/8/2026).

Sementara sebagian lainnya memilih jalur udara dan dijadwalkan berangkat sehari sebelum pembukaan muktamar.

Pendiri Sultan Hasanuddin Center sekaligus Aktivis NU, Makmur Idrus, membenarkan mobilisasi warga NU Sulsel tersebut.

Menurutnya, sekitar 300 warga NU dari 24 Pengurus Cabang (PC) NU se-Sulsel akan menghadiri forum tertinggi organisasi tersebut.

"Kurang lebih 300 warga NU di Sulsel akan meramaikan muktamar. Masing-masing PC membawa massanya sendiri karena ini forum tertinggi organisasi," ujar Makmur Idrus saat ditemui di Makassar, Minggu (23/8/2026).

Selain rombongan dari PCNU, Komunitas NU Kultural (Kanuku) Sulsel pimpinan Mustafa Irate juga memboyong sekitar 20 kader.

Mereka berangkat menggunakan dua moda transportasi, yakni kapal laut dan pesawat udara.

Namun, di balik gelombang keberangkatan tersebut, Makmur mengingatkan warga NU Sulsel agar tidak sekadar menjadi pelengkap dalam Muktamar ke-35 NU.

Ia meminta suara Nahdliyin dari Sulsel dan kawasan Indonesia Timur memiliki arah perjuangan yang jelas, terutama dalam menentukan kepemimpinan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Makmur bahkan mengingatkan agar warga NU dari kawasan timur tidak hanya dimanfaatkan untuk memenuhi kepentingan politik pemilihan ketua umum.

Ia menyebut jangan sampai suara Nahdliyin dari Indonesia Timur hanya menjadi "kayu bakar politik" dalam bursa pemilihan Ketua Umum PBNU.

"Suara dari kawasan Timur itu mahal dan haram hukumnya untuk disetir oleh kepentingan politik praktis jangka pendek. Jangan sampai kita datang jauh-jauh hanya membawa angka suara tanpa ada kejelasan komitmen dan agenda organisasi yang diperjuangkan," tegasnya.

Menurut Makmur, suara NU dari kawasan Indonesia Timur memiliki posisi tawar yang penting dalam muktamar.

Karena itu, dukungan kepada calon pimpinan PBNU tidak semestinya diberikan hanya berdasarkan kedekatan personal atau pertemuan sesaat.

Menjelang muktamar, sejumlah nama disebut masuk dalam peta persaingan calon Ketua Umum PBNU, yakni Prof KH Nasaruddin Umar, KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), dan KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin).

Makmur menilai dukungan dari PWNU dan PCNU di kawasan Indonesia Timur harus disertai komitmen yang jelas terhadap pembangunan organisasi dan daerah.

Ia mendorong agar setiap bakal calon pimpinan PBNU memiliki kontrak moral yang konkret dengan wilayah yang memberikan dukungan.

Salah satu agenda yang dinilai penting ialah penguatan kemandirian organisasi melalui program ekonomi bagi PCNU dan PWNU di luar Pulau Jawa.

Pendidikan dan pesantren juga dinilai perlu mendapat perhatian melalui dukungan sarana serta pemerataan mutu pendidikan di kawasan Indonesia Timur.

Selain itu, kaderisasi harus diperkuat dengan membuka ruang kepemimpinan dan kontribusi yang proporsional bagi kader NU dari daerah dalam struktur PBNU.

Makmur mengatakan peta dukungan dalam Muktamar ke-35 NU masih sangat cair hingga Daftar Peserta Tetap (DPT) definitif ditetapkan.

Karena itu, ia meminta warga NU Sulsel dan kawasan Indonesia Timur tidak terburu-buru menentukan dukungan tanpa melihat agenda yang akan diperjuangkan.

"Tugas kita hanya memastikan siapa pun yang terpilih nanti wajib memasukkan agenda pengembangan Indonesia Timur ke dalam arah kebijakan PBNU lima tahun ke depan," katanya.

Dengan demikian, kehadiran ratusan warga NU Sulsel di Jombang tidak hanya menjadi bagian dari kemeriahan Muktamar ke-35 NU.

Mereka diharapkan membawa aspirasi kawasan Indonesia Timur agar memiliki ruang yang lebih besar dalam arah kebijakan PBNU lima tahun mendatang.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.