Inilah Sosok Wafa, Lolos Seleksi Kedokteran Unhan tapi Pilih Mundur Gegara Aturan Lepas Jilbab
Rita Lismini August 23, 2026 02:54 PM

TRIBUNBENGKULU.COM - Asma Wafa Ahdina telah melewati rangkaian panjang seleksi Program S-1 Kedokteran Fakultas Kedokteran Militer Universitas Pertahanan (Unhan) RI.

Wafa bahkan dinyatakan lolos seleksi tingkat pusat setelah mengikuti proses seleksi sejak Maret hingga Juni 2026.

Namun, kelulusan tersebut tidak membuat Wafa melanjutkan ke tahap pendidikan.

Ia justru memilih mundur pada 24 Juni 2026 setelah mengaku mendapat informasi mengenai aturan wajib melepas jilbab bagi peserta didik perempuan yang sedang menjalani pendidikan. 

Pengalaman itulah yang kemudian dibagikan Wafa melalui akun Instagram pribadinya, @wafaahdina, Selasa (18/8/2026).

Dalam unggahannya, Wafa menceritakan sejumlah kejadian yang ia alami selama mengikuti proses seleksi.

Menurut Wafa, informasi mengenai keharusan melepas jilbab mulai ia dengar secara lisan saat wawancara akademik pada 7 Juni 2026.

Dengar Ada Aturan Lepas Jilbab

Salah satu kejadian yang diceritakan Wafa terjadi saat tes kesehatan umum di Aula Merah Putih pada 8 Juni 2026.

Wafa mengaku seorang pengawas nonmuslim dari Cakadet Kelompok 2 sempat membahas adanya peserta perempuan yang mengundurkan diri karena belum siap melepas jilbab.

Menurut Wafa, pengawas tersebut menyampaikan bahwa peserta yang diterima nantinya tidak diperbolehkan mengenakan jilbab.

“Hari ini ada tuh, 'kan, temen kelompok kalian? mengundurkan diri gara-gara ga siap lepas jilbab. Emangnya kalian ga tau? Harusnya udah tahu dari awal kan? Nanti, kalau udah diterima, ga boleh pakai jilbab. Jadi, kl udah di sini harus siap lepas jilbab. Sayang, udah nyampe sini. Tapi kalau memang belum siap, mending mengundurkan diri dari sekarang,” ujar pengawas tersebut, seperti dikutip Wafa dalam unggahannya.

Wafa kemudian menuliskan bahwa pada hari tersebut memang ada seorang peserta perempuan berjilbab dari jurusan Kedokteran yang mengundurkan diri karena alasan tersebut.

Informasi serupa kembali ia dengar pada 24 Juni 2026.

Saat apel pagi di Lapangan Mess Srikandi, Wafa mengaku seorang pengawas dari Kadet Putri Cohort 7 menyampaikan bahwa peserta perempuan yang mengenakan jilbab akan diminta melepasnya karena rambut mereka akan dipotong.

“Untuk yang berjilbab, berarti mulai sore nanti kalian sudah tidak memakai jilbab lagi karena rambut kalian akan dipotong. Nggak apa-apa ya, insyaAllah, Allah Maha Tahu niat kita di sini untuk belajar,” ujar pengawas tersebut, menurut Wafa.

Wafa Pertanyakan Aturan yang Disebut Tak Tertulis

Pada hari yang sama, Wafa kembali mengaku mendengar pembahasan mengenai jilbab saat pengarahan di Aula Merah Putih.

Ia menyebut Ketua Pengawas PMB mengatakan beberapa peserta perempuan sudah memilih melepas jilbab dan memotong rambut.

“Semalam, beberapa kadet putri sudah ada yang memilih melepas jilbabnya dan langsung memotong rambutnya. Ya, itu pilihan mereka ya,” ujar Ketua Pengawas PMB tersebut, seperti ditulis Wafa.

Wafa kemudian mengaku mempertanyakan aturan tersebut saat penandatanganan kontrak.

Ia ingin memastikan apakah kewajiban melepas jilbab memang tercantum dalam surat perjanjian.

“Mengenai aturan lepas jilbab, apakah ada aturan tertulisnya? Karena saya lihat di surat perjanjian tidak ada poin spesifik yang menyebutkan,” tanya Wafa.

Menurut Wafa, perempuan yang ia sebut dengan inisial Ibu D menjawab bahwa aturan tersebut memang tidak tercantum.

“Iya, nggak ada,” jawab Ibu D, menurut Wafa.

Wafa kemudian mempertanyakan alasan di balik aturan tersebut.

“Lantas, kalau boleh tau, kenapa harus lepas jilbab ya, Bu?” tanyanya.

Menurut Wafa, ia mendapat jawaban bahwa aturan tersebut merupakan arahan seseorang yang pernah menjabat sebagai menteri pertahanan.

“Itu arahan xxx saat jadi menteri pertahanan,” jawab Ibu D, menurut Wafa.

Wafa kemudian bertanya mengenai konsekuensinya jika ia tetap mengenakan jilbab.

“Tapi, kalau saya tetap pakai jilbab, bagaimana?” tanya Wafa.

Menurut Wafa, ia mendapat jawaban:

“Ya, nggak boleh. Nggak bisa. Dari cohort 1 sampai sekarang nggak ada kadet putri yang pakai jilbab,” jawab Ibu D, menurut Wafa.

Pertanyakan Kadet Palestina

Wafa juga mengaku mempertanyakan mengapa peserta dari Palestina disebut tetap diperbolehkan mengenakan jilbab.

“Tapi, kenapa kadet dari Palestina boleh memakai jilbab?” tanya Wafa.

Menurut Wafa, ia mendapat jawaban bahwa peserta dari Palestina merupakan pengecualian karena tidak terikat dengan aturan negara Indonesia.

“Mereka pengecualian. Ga terikat dengan aturan negara kita,” jawab Ibu D, menurut Wafa.

Hal tersebut kemudian membuat Wafa mempertanyakan aturan yang ia dengar selama proses seleksi.

Ia mengaitkannya dengan sila pertama Pancasila, Pasal 29 Ayat (2) UUD 1945, serta Peraturan Panglima TNI Nomor 11 Tahun 2019 tentang Seragam Dinas Tentara Nasional Indonesia.

“Kenapa ya, UNHAN?” tulis Wafa.

Ia kemudian mempertanyakan mengapa peserta didik perempuan disebut tidak diperbolehkan mengenakan jilbab.

“Kenapa mahasiswanya justru dilarang mengenakan jilbab?” tulis Wafa.

Lolos Seleksi, Wafa Tetap Pilih Mundur

Setelah mengetahui informasi tersebut, Wafa akhirnya memilih mundur dari proses penerimaan pada 24 Juni 2026.

Keputusan itu diambil meski sebelumnya ia telah melewati berbagai tahapan seleksi dan dinyatakan lolos seleksi tingkat pusat Program S-1 Kedokteran Unhan.

Wafa mengatakan dirinya memiliki prinsip yang cukup kuat mengenai penggunaan jilbab.

Namun, ia menegaskan unggahannya bukan untuk memaksakan pandangan kepada peserta lain.

“Perlu digarisbawahi, saya menulis ini sebagai seseorang yang cukup strict dengan jilbab. Tidak ada paksaan bagi teman-teman yang berbeda pandangan dengan saya,” tulisnya.

Menurut Wafa, ia justru ingin memberikan gambaran kepada calon pendaftar lain yang memiliki pandangan serupa.

“Akan tetapi, untuk teman-teman yang memiliki pandangan sama terkait jilbab dan tertarik mendaftar ke UNHAN, begitulah kenyataannya saat ini. Sekali lagi, ini hanya preferensi, keputusan tetap ada di tangan masing-masing,” ujarnya.

Wafa juga menegaskan dirinya tidak bermaksud mengubah aturan yang berlaku di Unhan.

Ia hanya berharap ketentuan mengenai jilbab dapat dijelaskan secara resmi sejak awal proses pendaftaran.

“Sementara itu, saya menulis ini bukan ingin mencampuri apalagi mengubah aturan yang telah ada di UNHAN, melainkan ingin memberi saran supaya aturan keharusan melepas jilbab selama masa pendidikan ini dapat diperjelas oleh pihak terkait,” tulis Wafa.

Menurutnya, informasi tersebut sebaiknya tidak hanya disampaikan secara lisan ketika peserta sudah menjalani berbagai tahapan seleksi.

Dengan demikian, calon peserta dapat mengetahui ketentuan tersebut sejak awal sebelum memutuskan mengikuti seleksi.

Sosok Wafa

Asma Wafa Ahdina diketahui berasal dari Kota Depok, Jawa Barat.

Ia merupakan lulusan homeschooling Kelas 12 Paket C dari PKBM Generasi Juara di Kota Depok.

Pendidikan di PKBM tersebut berfokus pada pendidikan karakter berbasis agama.

Dalam unggahannya, Wafa juga mengenang proses seleksi yang telah dilaluinya bersama peserta lain.

Meski akhirnya memilih mundur, ia mengaku masih merindukan teman-temannya yang sama-sama berjuang dalam proses seleksi.

“Mengingat momen-momen kecil ini, jujur saja aku rindu dengan teman-temanku. Aku bangga dengan mereka yang sudah berjuang, juga dengan mereka yang akhirnya mendapatkan hasil yang memuaskan. I miss them and so proud of them,” tulis Wafa.

Ia menganggap pengalaman tersebut tetap memberikan pelajaran meski dirinya tidak melanjutkan pendidikan di Unhan.

“Selain banyaknya perasaan yang kurasakan saat itu, banyak juga pelajaran yang dapat kuambil dari pengalaman ini. Aku percaya, skenario inilah yang terbaik menurut-Nya,” tulisnya.

Kini Wafa berharap dapat melanjutkan pendidikan kedokterannya di kampus lain.

“Mohon doanya untuk kelancaran studi kedokteranku di kampus yang nggak kalah keren ya, semua,” tulis Wafa.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.