TKI Sragen Tewas di Jepang Tak Miliki Asuransi, Sang Ayah : Apa yang Menjadi Haknya, Semoga Kembali
Vincentius Jyestha Candraditya August 23, 2026 07:14 PM

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Mardon Widiyanto

TRIBUNSOLO.COM, SRAGEN - Keluarga Galang Satrio Priambodo (27), Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Dusun Karangturi, Desa Padas, Kecamatan Tanon, Kabupaten Sragen, yang tewas tenggelam di sungai Jepang kini menghadapi persoalan baru setelah pemakaman korban selesai dilakukan. 

Selain mengurus pemulangan barang-barang milik Galang dari Jepang, keluarga juga dibayangi ketidakpastian terkait hak-hak yang semestinya diterima korban karena diketahui tidak terdaftar dalam program asuransi saat bekerja di Negeri Sakura.

Galang yang meninggal dunia akibat tenggelam di Sungai Gunkai, Kota Toyota, Prefektur Aichi, Jepang, telah dimakamkan di TPU Dusun Karangturi pada Sabtu (22/8). Namun, proses administrasi terkait hak-hak korban masih terus berjalan.

Ayah korban, Widiatmoko (46), mengatakan seluruh proses pengurusan administrasi dan hak-hak Galang saat ini diserahkan kepada keponakannya.

TEWAS TENGGELAM - Sosok Galang Satrio Priambodo (27), Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Kabupaten Sragen yang tewas tenggelam di salah satu sungai di Jepang, Kamis (20/8/2026). Tubuh korban ditemukan di Sungai Gunkai, Takimawaki-Cho, Kota Toyota, Prefektur Aichi, Jepang, sekitar pukul 16.30 WIB.
TEWAS TENGGELAM - Sosok Galang Satrio Priambodo (27), Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Kabupaten Sragen yang tewas tenggelam di salah satu sungai di Jepang, Kamis (20/8/2026). Tubuh korban ditemukan di Sungai Gunkai, Takimawaki-Cho, Kota Toyota, Prefektur Aichi, Jepang, sekitar pukul 16.30 WIB. (TribunSolo.com/Mardon Widiyanto)

"Katannya begitu (tidak dapat asuransi), ini baru diurus keponakan saya. Kalau saya berharap apa yang menjadi haknya, semoga kembali ke mas Galang," kata Widiatmoko kepada TribunSolo, Minggu (23/8).

Ia berharap seluruh hak yang semestinya diterima putranya tetap dapat diperjuangkan meski korban disebut tidak memiliki perlindungan asuransi.

Menurut Widiatmoko, Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KPPMI) atau BP2MI telah memberikan bantuan berupa santunan untuk biaya pemakaman. Namun hingga kini keluarga belum menerima bantuan serupa dari Pemerintah Kabupaten Sragen.

"Jadi BP2MI memberikan uang untuk pemakaman, sementara dari Pemkab Sragen belum ada, untuk pemakaman sudah dilakukan kemarin abis Dzuhur," ungkap dia.

Saat ini keluarga juga tengah mengupayakan pemulangan barang-barang milik Galang yang masih berada di Jepang. Biaya pengiriman rencananya ditanggung keluarga.

Baca juga: Komunikasi Terakhir TKI Sragen Sebelum Tenggelam di Jepang : Video Call Adik, Titip Motor Kesayangan

"Barang-barang yang dimiliki korban akan dipaketkan ke sini, biayanya dari keluarga," kata dia.

Meski demikian, rekan-rekan korban sesama pekerja migran di Jepang sempat menawarkan bantuan melalui penggalangan dana untuk membiayai pengiriman barang-barang tersebut ke Indonesia.

"Malam Jum'at melalui sambungan telepon ada konfirmasi dari teman-teman korban untuk menggelar donasi untuk biaya pengantaran pulang barang-barang milik anak saya di Jepang ke Indonesia," kata Widiatmoko.

Namun keluarga memilih menunda menerima bantuan tersebut karena saat itu masih berfokus menunggu kepulangan jenazah korban.

"Pihak sana menghubungi kami untuk menyampaikan penggalangan dana, namun kami belum mau terima karena keinginan kami saat itu jenazah sampai di rumah dulu," kata dia.

Tak Terdaftar Asuransi

Di balik duka yang dialami keluarga, terungkap fakta bahwa Galang tidak terdaftar dalam perlindungan asuransi saat bekerja di Jepang.

Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Sragen, Rina Wijaya, membenarkan informasi tersebut. Menurutnya, Galang berstatus Specified Skilled Worker (SSW) atau pemegang Visa Tokutei Ginou dan bukan lagi peserta program magang.

"Dia sudah tahun kelima, dia udah magang kerja selama 3 tahun, kemudian tahun kelima dia memperpanjang lagi jadi statusnya SSW, bukan magang kerja lagi," kata Rina, Kamis (20/8).

Baca juga: TKI Sragen Tewas Tenggelam di Jepang Tak Kantongi Asuransi Selama Bekerja, LPK Penyalur Disorot

Galang diketahui berangkat ke Jepang melalui sebuah Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) asal Wonogiri. Namun dalam perjalanannya, perlindungan asuransi bagi korban disebut tidak didaftarkan.

Rina mengatakan persoalan tersebut menjadi perhatian Disnaker Sragen. Pihaknya telah berkoordinasi dengan BP3MI Semarang dan Jawa Tengah terkait penanganan kasus serta pemulangan jenazah korban.

"Saya terima dari informasi, ternyata perusahaan di Jepang itu, tidak mendaftarkan asuransi, korban itu tidak didaftarkan asuransi oleh perusahaan. Nah, makanya jadi catatan, kami sudah koordinasi dengan BP3MI Semarang dan Jateng, nanti ambulansnya dari dari Adi Soemarmo sampai ke Tanon nanti akan difasilitasi BP3MI Jateng," kata dia.

Pesan Terakhir ke Adik

Galang meninggal dunia pada Jumat (14/8/2026) saat berenang bersama teman-temannya usai melaksanakan Salat Jumat. Rencana melepas penat dengan berenang di sungai itu ternyata justru berujung duka.

"Informasi dari rekan-rekan korban, korban dan teman-temannya ingin refreshing setelah menjalankan Salat Jumat di sana, namun tenggelam dan ditemukan tim pencarian sudah meninggal dunia," ungkap dia.

Keluarga inti yang pertama kali mendengar kabar berpulangnya Galang adalah sang ibunda.

Baca juga: TKI Sragen Tewas Tenggelam di Sungai Jepang Tanpa Asuransi, DPRD ke Calon TKI: Jangan Asal Berangkat

"Yang pertama mendapatkan informasi istri saya, kondisinya syok, saat itu saya sedang nyupir di Jakarta, mendapatkan kabar itu, langsung pulang," kata dia.

Kepergian Galang meninggalkan duka mendalam bagi keluarga. Apalagi Galang yang telah bekerja di Negeri Sakura selama tujuh tahun itu baru satu kali pulang ke Indonesia, yakni pada tahun 2024. 

Terlebih, dua hari sebelum kejadian, korban sempat melakukan video call dengan keluarganya. Saat itu tidak ada tanda-tanda ataupun firasat yang mengarah pada peristiwa yang kemudian menimpa anaknya.

Percakapan berlangsung seperti biasa dan penuh kehangatan keluarga.

Baca juga: TKI Sragen Tewas di Jepang, Keluarga Tak Berkenan Autopsi : Ingin Jenazah Segera Dipulangkan

Meski demikian, ada satu pesan yang kini terus diingat keluarga. Dalam video call tersebut, Galang meminta adiknya untuk menjaga dan merawat sepeda motor miliknya yang berada di kampung halaman.

"Tidak ada pesan yang aneh, hanya berpesan ke adiknya merawat motor milik galang, dan bercerita ingin memperpanjang masa bekerja di Jepang selama 3 tahun di bulan 10," kata dia.

Selain menitipkan motor kesayangannya, Galang juga sempat menceritakan rencananya untuk memperpanjang masa kerja di Jepang selama tiga tahun lagi. Rencana itu sedianya akan diurus pada Oktober 2026.

Namun, rencana tersebut tak pernah terwujud. Dua hari setelah komunikasi terakhir dengan keluarga, Galang dikabarkan meninggal dunia akibat tenggelam di sungai saat berada di Jepang. (mdn)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.