BANGKAPOS.COM - Gubernur NTT Melki Laka Lena mengambil langkah diskresi darurat dengan mengizinkan masyarakat terdampak gempa M 7,7 di Pulau Flores mengambil logistik pangan dan tenda di toko atau kios terdekat.
Seluruh biaya barang kebutuhan darurat tersebut dipastikan akan ditanggung oleh Pemerintah Provinsi NTT.
Kebijakan ini diambil guna mempercepat penyaluran bantuan di 7 kabupaten terdampak.
Baca juga: Peringatan Dini Cuaca BMKG 23-24 Agustus 2026: Waspada Hujan Lebat & Angin Kencang di Wilayah Ini
Simak penjelasan lengkap Gubernur NTT, skema pembayaran Pemprov, serta update penanganan tanggap darurat bencana selengkapnya di sini.
Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Melki Laka Lena, mengizinkan masyarakat Flores yang terdampak bencana gempa bumi untuk mengambil kebutuhan logistik darurat di kios atau toko terdekat, dan seluruh biayanya akan ditanggung oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTT.
"Rakyat bisa ambil duluan di kios ataupun di toko, ambil sesuai dengan kebutuhannya khusus makan-minum, tenda, selimut, nanti Pemerintah Provinsi yang bayar," kata Melki saat ditemui di Bandar Udara Frans Seda Maumere, Kabupaten Sikka, Minggu (23/8/2026) pagi.
Melki memastikan bahwa kebijakan tersebut sudah berlaku dan dapat langsung dimanfaatkan oleh masyarakat yang menjadi korban gempa.
"Dan sudah mulai jalan sekarang. Sudah mulai bisa dilakukan oleh masyarakat sekarang, mereka ambil dan kemudian kita bayar sesuai dengan aturan yang ada," ujarnya.
Lebih lanjut, Melki menjelaskan bahwa dampak gempa bumi ini cukup meluas. Dari total delapan kabupaten yang berada di Pulau Flores, tujuh di antaranya terdampak guncangan gempa.
Ketujuh wilayah tersebut meliputi Kabupaten Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, Ngada, Nagekeo, Ende, dan Sikka.
Saat ini, Pemprov NTT bersama seluruh Pemerintah Kabupaten se-daratan Flores, Pemerintah Pusat, dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengerahkan seluruh kekuatan untuk berfokus pada masa tanggap darurat.
Melki menegaskan, ada tiga fokus utama dalam masa tanggap darurat ini. Pertama, memastikan ketersediaan makanan dan minuman. Kedua, penanganan medis. Ketiga, kelayakan tempat bernaung darurat.
"Tanggap darurat untuk memastikan bahwa seluruh warga yang terdampak cukup makan dan minum. Kemudian yang sakit bisa ditangani dengan baik oleh tenaga kesehatan," ungkap Melki.
"Dan yang ketiga itu terkait dengan mereka bisa tidur dengan nyaman. Untuk yang memang harus (tidur) di luar rumah, harus cukup selimut dan tenda," tambahnya.
Melki berharap seluruh langkah tanggap darurat yang dilakukan pemerintah dapat menjangkau seluruh korban tanpa terkecuali.
"Sejauh ini mudah-mudahan sudah tidak ada lagi masyarakat yang belum mendapatkan bantuan ya, semua sudah bisa kita akses," tuturnya.
Sebagai informasi, gempa bumi utama yang mengguncang kawasan Flores, Nusa Tenggara Timur, terjadi pada Sabtu (15/8/2026) lalu dengan kekuatan magnitudo 7,7.
Berdasarkan pemutakhiran data terbaru dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dampak kerusakan dan korban jiwa akibat gempa tersebut cukup masif.
Berikut rinciannya: korban meninggal dunia 83 jiwa, korban luka-luka 986 orang, warga mengungsi 110.785 jiwa, kerusakan bangunan 44.946 unit rumah rusak (17.176 di antaranya berstatus rusak berat).
Selain itu, BNPB juga mencatat aktivitas kegempaan yang masih tinggi di wilayah tersebut. Hingga saat ini, tercatat telah terjadi sebanyak 4.258 kali gempa susulan dengan magnitudo terbesar mencapai 6,2.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan jumlah korban meninggal dunia akibat gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) bertambah menjadi 91 orang, per Minggu (23/8/2026).
"Hingga pukul 16.00 WIB, Minggu, 23 Agustus 2026, jumlah korban meninggal sebanyak 91 jiwa, atau bertambah 4 jiwa dari hari sebelumnya (Sabtu)," kata Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, Minggu.
Dia merincikan, sebanyak 32 korban meninggal dunia di Manggarai, 31 korban jiwa di Manggarai Timur, 6 korban jiwa di Sikka, 2 korban jiwa di Ende, 1 korban jiwa di Manggarai Barat, 14 korban meninggal di Nagekeo, dan 5 korban meninggal di Ngada.
"51 persen korban dinyatakan meninggal disebabkan dampak langsung dari gempa, seperti reruntuhan bangunan. Sedangnkan sisanya 49 persen korban meninggal disebabkan dampak tidak langsung," ujarnya.
Lebih lanjut, Berton menyampaikan dari 91 korban meninggal, terdapat tiga yang masih dalam tahap identifikasi.
Sementara itu, untuk korban luka akibat bencana alam di NTT, ada sebanyak 1.286 jiwa. Sedangkan jumlah pengungsi bertambah menjadi 161.084 jiwa.
"Tiga kabupaten paling tinggi, Manggarai 46.519 jiwa pengungsi, Nagekeo 34.256 jiwa, Manggarai Ttimur 31.372 jiwa," jelas Berton.
Menurut penuturannya, kunjungan tersebut akan dilakukan Kepala Negara dalam waktu dekat.
"Sedang dipersiapkan dalam waktu dekat, Insyaallah akan ke sana," kata Prasetyo dalam keterangannya, Minggu.
Meski demikian dia belum menjelaskan lebih lanjut ihwal jadwal pasti kunjungan Prabowo dimaksud. Menurutnya, informasi tersebut nantinya akan disampaikan lebih lanjut.
(Tribunnews/Kompas)