Pemkot Kotamobagu Sambut Paskibraka Nasional Gabriel Kamasi, Kaban Kesbangpol: Ini Sebuah Kebanggaan
Indry Panigoro August 24, 2026 02:22 AM

TRIBUNMANADO.CO.ID, KOTAMOBAGU - Bandar Udara Sam Ratulangi, Manado, Sulawesi Utara menjadi saksi sebuah kepulangan yang bukan sekadar rutin. 

Gabriel Gilbert Miller Kamasi, pelajar di Kotamobagu, Sulut turun dari pesawat membawa sesuatu yang lebih besar dari sekadar koper.

Nama daerahnya yang kini bergema hingga panggung nasional.

Gabriel baru saja menuntaskan tugas sebagai anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) tingkat nasional, mewakili Sulawesi Utara dalam upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. 

Kehadirannya di bandara disambut jajaran Pemerintah Kota Kotamobagu.

Sebuah penyambutan yang, d mata pemerintah setempat, merupakan wujud penghormatan atas perjuangan yang telah mengangkat nama kota kecil ini ke tingkat yang lebih luas.

Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kaban Kesbangpol) Kotamobagu Refly Mokoginta hadir dalam penjemputan. 

Refly menyampaikan rasa bangga atas keberhasilan Gabriel menjalankan tugas sebagai Paskibraka tingkat nasional. 

Menurut Refly, prestasi ini sebuah capaian yang tak hanya milik Gabriel dan keluarganya, tetapi juga milik seluruh warga Kotamobagu dan Sulut.

“Ini merupakan sebuah kebanggaan bagi kita semua. Gabriel telah membawa nama Kota Kotamobagu dan Sulawesi Utara hingga ke tingkat nasional,” ucap Refly, Minggu 23 Agustus 2026. 

Ia berharap, pengalaman panjang yang dilalui Gabriel dari proses seleksi ketat hingga bertugas langsung di ibu kota akan menjadi bekal berharga bagi masa depannya. 

Refly juga tak lupa memberi apresiasi kepada pihak-pihak yang selama ini menopang perjalanan Gabriel, keluarga, sekolah, dan pemerintah daerah, yang menurutnya turut memastikan sang remaja mampu menjalankan amanah dengan baik.

“Semoga prestasi ini menjadi motivasi bagi generasi muda di Kota Kotamobagu untuk terus berprestasi, disiplin, memiliki semangat kebangsaan dan tidak takut bermimpi untuk mengharumkan nama daerah,” kata Refly.

Bagi Gabriel sendiri, pelajar SMA Kristen Kotamobagu ini bukan sosok baru di mata Pemkot. 

Jauh sebelum kepulangannya hari itu, ia sudah mendapat perhatian khusus setelah terpilih sebagai salah satu putra terbaik Sulut dalam seleksi Paskibraka Nasional. 

Sebuah proses yang tak mudah dan menuntut kedisiplinan tinggi.

Kini, dengan kepulangannya ke tanah kelahiran, kisah Gabriel diharapkan menjelma inspirasi, bahwa dari kota sekecil Kotamobagu, seorang pelajar bisa berdiri sejajar dengan generasi terbaik bangsa di panggung nasional. 

Sebab, seperti yang tersirat dari perjalanannya, mengibarkan Sang Merah Putih hanyalah satu bagian dari cerita bagian lainnya adalah bagaimana sebuah nama daerah ikut berkibar bersamanya.

PASKIBRAKA NASIONAL - Kolase foto Ibu Gabriel Kamasi saat mengantar Gabriel untuk ikut seleksi Paskibraka Nasional tahun 2026 di Bandara Sam Ratulangi Manado.
PASKIBRAKA NASIONAL - Kolase foto Ibu Gabriel Kamasi saat mengantar Gabriel untuk ikut seleksi Paskibraka Nasional tahun 2026 di Bandara Sam Ratulangi Manado. (Tribun Manado/Kolase Tribun Manado/HO)

 

Sosok Gabriel Kamasi, Anak Petani dari Bolmong yang Wakili Sulut di Paskibraka Nasional 2026

Dari Desa Tonom, Kecamatan Dumoga Timur, Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong), Sulawesi Utara (Sulut) langkah Gabriel Gilbert Miller Kamasi atau Gabriel Kamasi kini sampai ke tingkat nasional.

Siswa SMA Kristen Kotamobagu itu terpilih sebagai salah satu wakil Sulut dalam Paskibraka Nasional 2026.

Nama Gabriel tercatat sebagai wakil putra Sulut bersama Faith Louisa Tabita Maengkom sebagai wakil putri.

Bagi Gabriel, pencapaian ini menjadi sebuah kebanggaan besar.

Namun di balik seragam Paskibraka yang dikenakannya pada hari ini Senin 17 Agustus 2026 lalu, ada cerita tentang seorang anak yang tumbuh dari keluarga sederhana dan mendapat dukungan penuh dari kedua orang tuanya.

Gabriel merupakan putra kedua dari pasangan Revly Kamasi dan Gladys Rantung.

Ia lahir pada 15 April 2010 dan sejak kecil tinggal di Desa Tonom.

Ayahnya bekerja sebagai petani, sedangkan sang ibu merupakan ibu rumah tangga.

Dari lingkungan sederhana itulah Gabriel tumbuh menjadi remaja yang aktif.

Ia mengikuti kegiatan Paskibra di sekolah, aktif dalam kegiatan gereja, serta dikenal memiliki karakter yang baik di lingkungan tempat tinggalnya.

Di luar aktivitas tersebut, Gabriel juga mempunyai hobi bermain voli.

Namun, ada satu perjalanan yang akhirnya membawa namanya jauh keluar dari kampung halaman.

Perjalanan itu adalah seleksi Paskibraka.

Ketika pertama kali mendengar dirinya terpilih sebagai utusan Sulawesi Utara, Gabriel mengaku sempat kaget.

Perasaan senang dan bangga langsung bercampur setelah mengetahui perjuangannya selama proses seleksi akhirnya membuahkan hasil.

"Saat pengumuman pertama saya kaget dan tentunya senang sekali karena saya menjadi perwakilan Sulut untuk bertugas di tingkat nasional," katanya saat dihubungi via WhatsApp.

Bagi remaja yang akrab disapa Biel itu, hasil tersebut menjadi bukti bahwa rasa lelah selama mengikuti proses seleksi tidak berakhir sia-sia.

“Saya juga merasa bangga dengan pencapaian yang saya raih, karena akhirnya perjuangan saya selama ini tidak sia-sia. Semua rasa lelah terbayarkan dengan hasil yang saya terima sebagai utusan Sulut tahun ini,” ujarnya.

Namun, ketika kabar kelulusan itu datang, Gabriel tidak langsung memikirkan dirinya sendiri.

Orang pertama yang ia hubungi adalah mama dan papanya.

Ada alasan sederhana di balik keputusan tersebut.

Selama menjalani proses seleksi, Revly dan Gladys menjadi orang yang terus memberikan dukungan.

Keduanya tidak hanya menyemangati, tetapi juga mengingatkan Gabriel untuk tetap percaya pada proses.

Bagi Gabriel, keberhasilannya tidak terlepas dari doa kedua orang tuanya.

“Mama dan papa, karena selama ini orang tua saya adalah support sistem terbaik. Mereka adalah sosok yang selalu menyemangati dan meyakinkan saya untuk terus maju dalam proses seleksi,” tuturnya.

Pesan yang paling sering ia dengar dari kedua orang tuanya pun terus dipegang hingga sekarang.

Andalkan Tuhan.

Tetap rendah hati.

Dan tepati nazar kepada Tuhan.

Pesan tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan Gabriel.

Salah satu tahapan yang paling membekas baginya adalah ketika menjalani pemeriksaan kesehatan atau MCU.

Saat itu, Gabriel mengaku sempat diliputi rasa khawatir.

Ia tegang menunggu hasil pemeriksaan karena sadar tahapan tersebut menjadi bagian penting dalam proses seleksi.

Namun, kekhawatiran itu akhirnya berubah menjadi rasa syukur.

“Puji Tuhan hasilnya bagus dan sesuai dengan yang saya harapkan,” katanya.

Dari proses tersebut, Gabriel belajar untuk percaya pada kemampuan dirinya sendiri.

Ia mengaku tidak merasa minder ketika harus bersaing dengan peserta lain. Baginya, selama sudah berusaha dan memberikan yang terbaik, tidak ada alasan untuk meragukan diri sendiri.

“Saya tidak merasa insecure karena saya sangat yakin dengan potensi yang ada pada diri saya sendiri. Karena sejauh ini saya sudah sangat berusaha dan mengupayakan yang terbaik demi membawa nama baik daerah di tingkat nasional,” tegasnya.

Di sisi lain, kebahagiaan Gabriel ternyata juga menjadi kebahagiaan besar bagi kedua orang tuanya.

Gladys mengaku sangat bangga melihat perjuangan anak keduanya akhirnya membuahkan hasil.

Sebagai seorang ibu rumah tangga, ia menyaksikan sendiri bagaimana Gabriel menjalani proses tersebut dengan dukungan keluarga.

“Sebagai orang tua kami merasa senang dan sangat bangga atas pencapaian anak kami. Kami selalu mendoakan dan menyemangati anak kami selama proses seleksi berlangsung. Puji Tuhan, apa yang anak kami usahakan selama ini akhirnya membuahkan hasil yang baik dan membanggakan orang tua,” ujar Gladys.

Ada satu bagian dari momen tersebut yang membuat kebahagiaan keluarga Gabriel terasa semakin menyentuh.

Ketika pengumuman berlangsung, kedua orang tua Gabriel tidak berada di lokasi.

Revly dan Gladys saat itu berada di kampung halaman.

Mereka tidak menyaksikan langsung ketika nama Gabriel diumumkan. Namun, kabar kelulusan yang akhirnya sampai ke telinga mereka justru menjadi momen penuh syukur.

“Saya dan ayahnya tidak berangkat. Saat pengumuman kami ada di kampung, namun saat mendengar bahwa Gabriel lolos, hati kami sungguh sangat bersyukur,” kata Gladys.

Kini, tugas keluarga tidak berhenti pada rasa bangga.

Kedua orang tua Gabriel mulai memastikan putra mereka tetap dalam kondisi sehat dan bugar sebelum menjalani rangkaian latihan serta tugas sebagai Paskibraka Nasional.

Asupan makanan bergizi, vitamin, hingga kondisi kesehatan Gabriel menjadi perhatian mereka.

Sementara itu, Gabriel sendiri mulai mempersiapkan mental untuk membawa nama daerah.

Ia tahu bahwa ketika berdiri sebagai Paskibraka Nasional, yang dibawanya bukan hanya nama Gabriel Kamasi.

Ada nama Bolmong.

Ada nama Kotamobagu.

Dan ada nama Sulawesi Utara.

Karena itu, ia ingin menjalankan kepercayaan tersebut dengan sebaik mungkin. (Nie/Tim)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.