Mujiburrahman
Direktur Pascasarjana UIN Antasari Banjarmasin
Di sisi lain, sebagai penulis rutin di koran ini, saya sering merasa terpanggil untuk menanggapi berbagai peristiwa aktual yang tengah terjadi di masyarakat, termasuk karhutla. Karena itu, saya menelusuri apa saja yang pernah saya tulis terkait karhutla selama ini. Saya akhirnya menemukan, paling kurang ada lima esai yang pernah saya tulis. Esai-esai itu adalah “Melawan Asap”, 1 Oktober 2012; “Melawan Asap, Melawan Siapa?”, 12 Oktober 2015; “Asap Lenyap, Lalu Apa?”, 2 November 2015; “Asap, Setan, dan Malaikat”, 27 Agustus 2018; “Takdir Asap”, 16 September 2019.
Namun, jika kita renungkan lebih dalam, yang paling utama adalah, seperti disitir Al-Qur’an, akibat ulah tangan-tangan manusia (QS 30:41). Pemanasan global akibat penggunaan energi fosil yang melampaui batas dan penggundulan hutan habis-habisan telah memicu perubahan iklim. Ketika panas, panas sekali, dan ketika dingin, dingin sekali. Ketika panas kebakaran, ketika hujan kebanjiran. Anehnya lagi, di sini panas-kering, di sana hujan-banjir, padahal di bulan yang sama, di kawasan tropis yang sama pula. Keseimbangan alam sudah goyah. Alam sakit akibat perbuatan manusia.
Orang bijak tidak akan terjerumus dua kali di lubang yang sama. “Seorang mukmin tak akan digigit ular di lubang yang sama dua kali,” kata Nabi. Sungguh menarik kata yang dipakai oleh Nabi di sini adalah “mukmin” yang berarti orang yang beriman atau orang yang percaya. Percaya di sini bukan percaya buta, tetapi berdasarkan nalar dan bukti. Secara nalar, sains modern sudah menjelaskan dan meramalkan akibat-akibat buruk yang akan terjadi jika kita merusak alam, dan selama tiga dasawarsa terakhir kita pun sudah membuktikannya. Lantas, masihkah kita tak percaya, tak beriman?
Lawan dari “mukmin” adalah “kafir”, yang artinya orang yang menolak atau menutup diri dari kebenaran. Salah satu sebab dibalik kekufuran, yakni menutup diri dari kebenaran, adalah enggan bersyukur, bergembira dan berterima kasih atas karunia yang diberikan Tuhan. Alam nan indah dengan segala kekayaan yang dikandungnya ini, wajib dikelola dengan penuh kehati-hatian dan tanggungjawab. Itulah bentuk syukur. Sebaliknya, karena didorong oleh nafsu serakah yang tak pernah puas, manusia menolak untuk bersyukur, lalu bertindak kejam terhadap alam.
Sabtu kemarin, 22 Agustus 2026, Presiden Prabowo Subianto berserta jajarannya telah berkunjung ke Kalimantan Barat dan Tengah untuk melihat langsung dan berkoordinasi dengan pejabat setempat di dua provinsi yang karhutlanya paling parah itu. Selain itu, beberapa pejabat lain juga diutus ke Kalimantan Selatan dan Timur. Kita berharap, pemerintah memang benar-benar serius menangani karhutla ini sehingga dampak buruk kabut asap seperti ISPA, penundaan pembelajaran di sekolah dan kampus, penundaan penerbangan hingga kecelakaan di jalan akan dapat dihindari.
Namun, penanganan karhutla di atas bersifat jangka pendek belaka, yang berada di hilir. Dalam jangka panjang, pemerintah dan masyarakat harus merancang langkah-langkah strategis dari hulu. Kita punya banyak ilmuwan yang ahli tanah gambut dan ahli lingkungan. Mereka tentu bisa memberi saran-saran pencegahan. Selain itu, jika peralatan pemadaman dan tenaga lapangan kurang, maka kita harus siapkan dan latih mereka sejak dini. Anggaran juga wajib disediakan. Jangan sampai, karhutla sudah merajalela, anggaran cekak, peralatan kurang, dan tenaga lapangan tak cukup.
Yang paling hulu dari hulu adalah kesungguhan kita semua untuk menjaga lingkungan. Kebiasaan masyarakat membakar sampah hingga lahan, harus dihentikan. Industri yang merusak lingkungan, wajib bertanggung jawab memperbaiki kerusakan itu. Setiap izin industri yang berpotensi merusak alam harus ditelaah dengan jujur dan hati-hati. Penggunaan energi non-fosil harus digalakkan. Sebagai orang yang beragama, kita juga harus menyadari bahwa merusak alam akan menimbulkan kualat, sebagaimana kita takut kualat jika menginjak kitab suci. Alam adalah juga ayat-ayat Tuhan!
Kita punya banyak ilmuwan yang ahli tanah gambut dan ahli lingkungan. Mereka tentu bisa memberi saran-saran pencegahan. Selain itu, jika peralatan pemadaman dan tenaga lapangan kurang, maka kita harus siapkan dan latih mereka sejak dini. Anggaran juga wajib disediakan. Jangan sampai, karhutla sudah merajalela, anggaran cekak, peralatan kurang, dan tenaga lapangan tak cukup.