Bukan Hutan Kosong, Tapi Ribuan Tanaman Produktif Warga Wailulu dan UPT SP2-Malteng Terbakar
Ode Alfin Risanto August 24, 2026 02:52 PM

Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Maula M Pelu

MALTENG,TRIBUNAMBON.COM - Kebakaran hutan dan lahan di Desa Wailulu dan UPT SP2 (Unit Pelaksana Teknis Satuan Pemukiman 2) Waitihisa yang masuk wilayah administrasi Desa Horale, Kecamatan Seram Utara Barat, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku belum juga benar-benar padam hingga Senin (24/8/2026).

Kebakaran ini tidak hanya menyisakan lahan hangus, tapi kebun warga yang menanam ribuan tanaman produktif ikut menjadi korban.

Cengkeh, kelapa hingga cokelat yang selama ini menjadi sumber penghasilan masyarakat ikut terbakar.

Baca juga: Dua Putri Terbaik Maluku Ukir Prestasi di Paskibraka Nasional 2026, Jadi Inspirasi Generasi Muda

Baca juga: Lapangan Kerja Formal Masih Minim, 623 Ribu Pekerja Maluku di Sektor Informal

Kepala Pemerintah Desa Wailulu, Muslim Tounussa, saat dikonfirmasi Reporter TribunAmbon.com mengatakan kebakaran sudah berlangsung sejak sebelum 17 Agustus 2026.

Hingga siang ini, warga masih berusaha mengendalikan api yang beberapa kali kembali muncul.

"Sudah terbakar, kita kasih padam. Habis itu terbakar lai, kita padamkan lai," kata Muslim.

Ia mengatakan kerugian belum dapat dihitung secara pasti.

Namun, dampak kebakaran cukup besar.

Misalnya salah satu warga bernama Farhan Attamimy yang terdampak dikabarkan ratusan tanaman cengkehnya hangus terbakar.

"Kalau mau hitung cengkeh, kelapa, coklat yang terbakar habis seluruhnya ribuan pohon, karena ini hitung dua negeri," ujarnya.

Selain cengkeh, tanaman kelapa dan cokelat milik masyarakat juga mengalami nasib yang sama.

Bagi warga, kehilangan tanaman bukan sekadar kehilangan pohon.

Tanaman tersebut merupakan sumber penghasilan yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk kembali produktif.

Karena itu, Muslim berharap pemerintah tidak hanya melihat persoalan dari sisi kebakaran.

Warga yang kebunnya terdampak juga membutuhkan bantuan pemulihan.

"Harapan besar ada perhatian pemerintah, kasihan masyarakat juga karena itu sumber penghasilan masyarakat," katanya.

Salah satu bantuan yang diharapkan adalah bibit tanaman produktif.

Mulai dari cengkeh, pala, cokelat hingga kelapa.

"Barangkali yang terkena dampak, pemerintah bisa kasih bibit-bibit cengkeh, pala, coklat dan kelapa terutama yang terdampak," ujarnya.

Di sisi lain, proses pemadaman hingga kini masih dilakukan warga secara mandiri.

Salah satu kendala terbesar adalah air.

Lokasi sumber air disebut berada sekitar satu kilometer dari titik kebakaran.

Warga harus membawa air menggunakan jerigen.

Ada yang membawa hingga 20 liter dengan cara dipikul menuju lokasi api.

Kondisi tersebut membuat proses pemadaman semakin berat.

Sementara penyebab kebakaran sampai sekarang belum diketahui secara pasti.  (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.