Tribunlampung.co.id, Lombok Tengah - Kebakaran hebat yang melanda kawasan permukiman tradisional Suku Sasak di Desa Adat Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), meninggalkan kerugian material yang sangat fantastis.
Baca juga: Anak Main Korek, Rumah Ustaz di Kaliawi Bandar Lampung Terbakar
Berdasarkan pendataan resmi pemerintah daerah, total kerugian akibat musibah tersebut ditaksir mencapai Rp34 miliar.
"Total kerugian pernah kita hitung bersama Pak Bupati, Kepala Dusun, Kepala Desa, Kapolresta, dengan data yang ada total Rp 34 miliar," ungkap Lalu Sungkul, Staf Ahli Bupati Bidang Pemerintahan Hukum dan Politik Kabupaten Lombok Tengah, Senin (24/8/2026), dilansir kompas.com.
Angka kerugian yang masif tersebut merupakan akumulasi dari kerusakan parah seluruh bangunan fisik yang ludes dilalap si jago merah pada Sabtu (22/8/2026) malam.
Berdasarkan data takasi sementara pascabencana, tercatat ada sebanyak 75 unit rumah adat tradisional serta 69 bangunan art shop (toko cinderamata) milik warga yang hancur rata dengan tanah akibat amukan api.
Selain permukiman dan lapak pedagang, kobaran api juga turut meludeskan sejumlah fasilitas penting dan ikonik di desa wisata tersebut, di antaranya empat unit berugak sekenem, bangunan Masjid Sade, pintu gerbang kawasan, menara pandang, serta satu gedung museum yang sebelumnya dibangun oleh Dinas Pariwisata Provinsi NTB.
Kendati demikian, pihak pemerintah daerah memastikan bahwa nominal Rp34 miliar tersebut murni menghitung kerugian bangunan fisik saja.
Nilai itu belum termasuk harta benda berharga milik warga yang ikut terbakar, seperti perhiasan maupun barang berharga pribadi lainnya.
"Rata-rata pemilik rumah ada perhiasan, ini yang kita belum tanyai dulu, belum didata karena mereka masih trauma," jelas Lalu Sungkul.
Sebelumnya, musibah kebakaran ini terjadi secara tiba-tiba dan langsung meluluhlantakkan kawasan living museum Suku Sasak tersebut.
Kombinasi tiupan angin kencang serta material bangunan yang mudah terbakar seperti kayu, bambu, dan atap rumbia membuat api merembet dengan sangat cepat.
Akibat kejadian ini, seluruh warga Desa Adat Sade yang kehilangan tempat tinggal, terpaksa mengungsi sementara ke rumah-rumah kerabat atau sanak saudara yang tinggal di sekitar kawasan adat tersebut, sembari menunggu uluran tangan dan langkah pemulihan dari pemerintah daerah.