Kekeringan Banyuwangi Meluas, 17 Kecamatan Berisiko Terdampak
Titis Jati Permata August 25, 2026 03:32 PM

 

SURYA.co.id, BANYUWANGI - Musim kemarau mulai menguji ketersediaan air bersih di sejumlah wilayah Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.

Hingga Senin (24/8/2026), sebanyak 11 desa di empat kecamatan mulai terdampak kekeringan dan mendapat suplai air bersih secara rutin.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyuwangi bersama sejumlah instansi terus mengirimkan bantuan air untuk memenuhi kebutuhan warga di wilayah terdampak.

Kalaksa BPBD Banyuwangi Partana mengatakan, 11 desa tersebut tersebar di Kecamatan Tegaldlimo, Cluring, Pesanggaran, dan Bangorejo.

Tegaldlimo Jadi Wilayah Paling Terdampak

Kecamatan Tegaldlimo menjadi wilayah dengan jumlah desa terdampak paling banyak.

Ada tujuh desa yang mulai mengalami krisis air, yakni Kendalrejo, Kedungwungu, Kaliwungu, Purwoagung, Kedungasri, Wringinpitu, Tegaldlimo, dan Kalipait.

Baca juga: Tradisi Endog-Endogan Kembiritan Banyuwangi Jaga Gotong Royong Selama 28 Tahun

Sementara di Kecamatan Cluring, kekeringan terjadi di Desa Tamanagung dan Sarimulyo.

Dua desa lainnya masing-masing berada di Kecamatan Pesanggaran dan Bangorejo, yakni Desa Sumberagung dan Kebondalem.

Kondisi tersebut membuat distribusi air bersih dilakukan secara berkala untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat.

343 Ribu Liter Air Sudah Dikirim

Hingga 24 Agustus 2026, BPBD Banyuwangi mencatat sekitar 343 ribu liter air bersih telah disalurkan ke desa-desa terdampak.

Jumlah tersebut setara dengan sekitar 69 tangki air.

Distribusi dilakukan secara kolaboratif dengan melibatkan sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) dan instansi lainnya.

"Pengiriman air bersih dilakukan secara kolaborasi antar OPD (organisasi perangkat daerah) dan jajaran lain. Antara lain oleh BPBD, PUDAM, Damkarmat, PMI, Kodim, dan Bank Jatim," kata Partana, Selasa (25/8/2026).

Kolaborasi tersebut dilakukan untuk memastikan kebutuhan air warga tetap terpenuhi selama kondisi kemarau berlangsung.

BPBD Bantu Warga Manfaatkan Sumur

Penanganan kekeringan tidak hanya dilakukan dengan mengirimkan air menggunakan tangki.

BPBD juga membantu masyarakat menyiapkan sarana pendukung agar sumber air yang masih tersedia dapat dimanfaatkan secara optimal.

Salah satunya dilakukan dengan membantu warga menyiapkan prasarana untuk mengalirkan air dari sebuah sumur warga yang kondisinya masih baik.

Air dari sumur tersebut kemudian dialirkan menuju sejumlah tandon sehingga dapat digunakan bersama.

"Air dari sumur tersebut kemudian disalurkan ke tandon-tandon yang ada sehingga bisa dimanfaatkan oleh lebih dari 40 kepala keluarga di sana," imbuh Partana.

Langkah tersebut menjadi salah satu cara untuk mengurangi ketergantungan warga terhadap distribusi air tangki.

17 Kecamatan Berisiko Kekeringan

BPBD Banyuwangi memperkirakan wilayah terdampak kekeringan masih berpotensi bertambah.

Pemetaan BPBD menunjukkan terdapat 17 kecamatan di Banyuwangi yang memiliki risiko kekeringan selama musim kemarau 2026. Saat ini, dampaknya mulai terlihat di empat kecamatan.

"Peta BPBD memang di musim kemarau 2026 ini terpetakan berisiko ada 17 wilayah kecamatan. Dari 17 kecamatan, ini sudah mulai 4 kecamatan ini," ujar Partana.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena musim kemarau tahun ini diperkirakan berlangsung lebih panjang akibat pengaruh El Nino.

BPBD Banyuwangi memastikan kesiapan distribusi air bersih akan terus dilakukan apabila jumlah desa terdampak kembali bertambah.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.