TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, Lampung Selatan - Upaya meningkatkan kapasitas kader Posyandu dalam mencegah dan menangani hipertensi di masyarakat dilakukan Tim Dosen Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Tanjungkarang melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM).
Kegiatan digelar di Balai Desa Hajimena, Senin (24/8/2026), dengan mengusung tema 'Peningkatan Kapasitas Kader Posyandu untuk Pencegahan dan Penatalaksanaan Hipertensi di Desa Hajimena.'
Kegiatan menyasar kader Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP) dengan tujuan meningkatkan pengetahuan sekaligus keterampilan kader dalam memberikan edukasi dan pendampingan kepada masyarakat, khususnya kelompok usia dewasa dan lanjut usia.
Kegiatan dibuka Tim Penggerak PKK Hj. Rosni Abu Bakar yang menekankan pentingnya peran kader Posyandu sebagai salah satu ujung tombak pelayanan kesehatan di tingkat masyarakat.
Kader dinilai memiliki posisi strategis karena berinteraksi langsung dengan masyarakat. Dengan kapasitas yang memadai, kader diharapkan mampu membantu meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya mencegah dan mengendalikan hipertensi sejak dini.
Tim pengabdian terdiri dari Nawasari Indah Putri Sejati, STP., M.Si., Endang Sri Wahyuni, SST., MPH., dan Yulia Novika J, SP., MKM. Para dosen memberikan edukasi mengenai hipertensi, faktor risiko, langkah pencegahan hingga penatalaksanaan melalui penerapan pola hidup sehat dan pengaturan pola makan.
Tidak hanya memberikan materi, kegiatan dirancang secara praktis. Para kader diajak menyusun contoh menu bagi penderita hipertensi dengan memperhatikan pemilihan bahan makanan, cara pengolahan, pembatasan garam serta keseimbangan zat gizi.
Praktik tersebut diharapkan dapat membuat kader lebih mudah menyampaikan edukasi gizi kepada masyarakat.
Dengan demikian, informasi mengenai pola makan sehat tidak berhenti pada kegiatan Posyandu, tetapi dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Selain pengaturan pola makan, tim pengabdian juga memperkenalkan pentingnya pemantauan kekuatan otot pada kelompok lanjut usia.
Tim menyerahkan alat handgrip yang dapat digunakan untuk mengukur kekuatan genggam tangan sebagai salah satu indikator kondisi kekuatan otot lansia.
Alat handgrip ini diharapkan dapat dimanfaatkan oleh kader dalam kegiatan Posyandu ILP sebagai bagian dari pemantauan kondisi lansia secara lebih komprehensif.
Untuk mengukur efektivitas edukasi yang diberikan, para kader juga mengikuti evaluasi melalui pretest dan posttest terkait pengaturan makan bagi penderita hipertensi.
Pretest dilakukan sebelum materi diberikan untuk mengetahui tingkat pengetahuan awal kader. Selanjutnya, posttest dilakukan setelah rangkaian edukasi dan pelatihan untuk melihat perubahan pengetahuan yang diperoleh.
Hasil evaluasi menunjukkan seluruh kader mengalami peningkatan pengetahuan terkait pencegahan dan tata laksana pengaturan makan bagi penderita hipertensi.
Kegiatan berlangsung interaktif. Para kader tidak hanya menerima materi, tetapi juga aktif berdiskusi, menyusun menu serta mengikuti demonstrasi penggunaan alat handgrip.
Pendekatan tersebut diharapkan semakin meningkatkan kesiapan kader dalam menjalankan perannya sebagai edukator di tengah masyarakat, terutama ketika memberikan penyuluhan pada setiap penyelenggaraan Posyandu ILP.
Tim Dosen Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Tanjungkarang berharap kegiatan tersebut dapat memperkuat kapasitas kader sebagai mitra tenaga kesehatan dalam menjalankan upaya promotif dan preventif.
Dengan pengetahuan dan keterampilan yang semakin baik, kader diharapkan mampu memberikan edukasi mengenai pencegahan hipertensi, pengaturan makan serta pemantauan kondisi lansia secara berkelanjutan di tingkat masyarakat.
Kegiatan pengabdian ini sekaligus menjadi bagian dari kontribusi perguruan tinggi dalam memperkuat pelayanan kesehatan berbasis masyarakat melalui kolaborasi antara institusi pendidikan, pemerintah desa, kader Posyandu ILP dan masyarakat.
(TRIBUNLAMPUNG.CO.ID/rls)