Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya terjadi di kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur.
Baca Juga: Karhutla TNWK Lampung Timur Capai 774 Hektare, OMC Dijadwalkan Mulai Rabu
Dalam beberapa hari terakhir, karhutla juga dilaporkan terjadi di Kabupaten Mesuji dan Tulangbawang.
Total lahan yang terbakar di dua wilayah tersebut mencapai sekitar 35,4 hektare.
Staf Pusdalops BPBD Provinsi Lampung, Faresha Revanza mengatakan, kebakaran di Tulangbawang bahkan terjadi di sekitar infrastruktur kelistrikan milik PLN.
"Memang ada di Mesuji sama di Tulangbawang. Kebakaran-kebakaran yang mengganggu infrastruktur PLN," ujarnya, Selasa (25/8/2026).
Di Tulangbawang, kebakaran terjadi pada 23 Agustus 2026 sekitar pukul 12.28 WIB.
Lokasi kebakaran berada di kawasan PT SIL, Kecamatan Gedung Meneng, tepatnya di sekitar SUTT PLN Tower 229-230, Jalan Raya Lintas Pantai Timur Sumatera.
Berdasarkan laporan Pusdalops BPBD Lampung, lahan yang terbakar diperkirakan mencapai 0,4 hektare atau sekitar 4.000 meter persegi.
Area terdampak mencakup satu span jaringan listrik.
Kebakaran tersebut diduga dipicu puntung rokok yang berada di kawasan PT SIL.
Menurutnya, petugas kemudian melakukan penanganan dan pemadaman hingga api berhasil dipadamkan.
Tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut.
Sementara di Kabupaten Mesuji, karhutla terjadi di dua lokasi pada 23 Agustus 2026.
Kebakaran pertama terjadi sekitar pukul 14.00 WIB di Kelurahan Sriwijaya, Kecamatan Tanjung Raya.
Lahan yang terbakar di lokasi tersebut diperkirakan mencapai 25 hektare.
Kebakaran kedua terjadi sekitar pukul 15.00 WIB di Kelurahan Talang Batu, Kecamatan Mesuji Timur, dengan luas lahan terbakar sekitar 10 hektare.
Dengan demikian, total lahan yang terbakar di dua lokasi di Mesuji mencapai sekitar 35 hektare.
Di Kelurahan Sriwijaya, kebakaran diduga bermula dari aktivitas pembukaan lahan di areal pondok pesantren yang kemudian merembet ke lahan masyarakat.
Sedangkan di Kelurahan Talang Batu, kebakaran diduga disebabkan aktivitas pembukaan lahan.
Petugas gabungan kemudian melakukan penanganan dan pemadaman. Api di kedua lokasi berhasil dipadamkan dan kondisi dinyatakan aman.
Tidak ada korban jiwa, korban hilang maupun warga yang mengalami luka-luka dalam dua kejadian tersebut.
Faresha mengatakan, petugas terus melakukan pemantauan terhadap sejumlah wilayah yang berpotensi terjadi karhutla, termasuk lokasi yang berada di sekitar infrastruktur PLN.
Penanganan karhutla di luar kawasan TNWK juga dilakukan sebagai langkah untuk mencegah api meluas dan mengganggu fasilitas vital.
Meski demikian, TNWK masih menjadi prioritas penanganan karena kebakaran di kawasan tersebut masih menyisakan sejumlah titik api.
Berdasarkan perkembangan terbaru, luasan area terbakar di TNWK mencapai sekitar 774 hektare.
Angka tersebut bertambah sekitar 100,75 hektare dari data sebelumnya yang mencatat sekitar 673 hektare lahan terbakar.
Sementara jumlah titik kebakaran bertambah dari sekitar 13 titik menjadi sekitar 17 titik.
Faresha menegaskan data jumlah titik maupun luas lahan terbakar masih dapat berubah seiring pembaruan informasi dari masing-masing posko di lapangan.
Seluruh peralatan dan personel yang dapat dikerahkan BPBD saat ini diprioritaskan untuk mendukung penanganan karhutla, terutama di kawasan TNWK.
"Yang peralatan-peralatan untuk pemadaman yang bisa kita berikan, semua dikerahkan ke sana. Karena ini bagian prioritas dulu, TNWK," pungkasnya.
(Tribunlampung.co.id/Riyo Pratama)