TRIBUNBRENGKULU.COM - Pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai inovasi ‘ubi bombing’ sebagai alternatif untuk membantu mengatasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi perhatian publik.
Gagasan tersebut muncul saat Prabowo memimpin rapat penanganan karhutla di Palembang, Sumatera Selatan, Senin (24/8/2026).
Dalam rapat tersebut, Prabowo meminta jajaran terkait mencari alternatif bahan yang dinilai lebih efektif untuk membantu memadamkan api dibandingkan hanya mengandalkan air.
Prabowo bahkan meminta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengecek kemungkinan pengembangan maupun pengadaan bahan pemadam berbasis zat kimia.
"Seperti kalau alat pemadam kebakaran yang diitu (APAR) kan yang keluar zat kimia. Bener nggak? Ya coba dicek deh mungkin BRIN," ujar Prabowo dalam rapat yang disiarkan melalui kanal YouTube Sekretariat Presiden.
Baca juga: Ketum Projo Arie Singgung Pemilu Dipercepat, Said Didu Sentil Jokowi Tak Rela Lepas Kuasa
Saat pembahasan berlangsung, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo kemudian mengungkap adanya inovasi berbahan dasar tepung singkong yang telah digunakan untuk menangani kebakaran dalam skala kecil.
Inovasi tersebut kemudian menarik perhatian Prabowo.
"Intinya dia bisa meredam, ya? Menarik sekali itu. Bahan bakunya dari ubi? Dari singkong. Coba diproduksi dalam skala besar ya. Ajukan biaya untuk produksinya," kata Prabowo.
Prabowo kemudian secara spontan menyebut metode tersebut sebagai ‘ubi bombing’, sebagai istilah yang dianalogikan dengan water bombing.
"Berarti yang kita water bomb, bukan water bomb ya, ubi bombing," ujar Prabowo.
Kapolri menjelaskan, inovasi yang disebut ‘ubi bombing’ tersebut menggunakan tepung singkong yang dibentuk menyerupai bola-bola kecil.
Selain itu, bahan tersebut dapat diaplikasikan menggunakan alat semprot seperti alat pemadam api ringan (APAR).
Menurut Listyo Sigit, bahan tersebut bekerja dengan cara membantu memisahkan unsur-unsur yang mendukung terjadinya pembakaran.
"Jadi kalau disemprot dengan alat, dengan zat tersebut, itu dia bisa mencegah agar antara api, O2, dan CO2 itu bisa terpisah," jelas Listyo Sigit.
Inovasi berbasis tepung singkong tersebut sejauh ini disebut telah digunakan untuk menangani kebakaran dalam skala kecil.
Namun, ketika ditanya mengenai kemungkinan penerapannya untuk karhutla dengan area terbakar yang luas, efektivitasnya masih perlu disesuaikan dengan kondisi lapangan.
Listyo menyebut penggunaannya dapat dipertimbangkan untuk skala lebih besar, tetapi sangat bergantung pada luas area, ukuran serta volume bahan yang digunakan.
Selain membantu meredam api, bahan tersebut disebut memiliki potensi untuk mencegah suatu objek lebih mudah terbakar.
Pangdam II/Sriwijaya Mayjen TNI Ujang Darwis menjelaskan inovasi tersebut merupakan hasil temuan anggota Babinsa di Lubuklinggau, Sumatera Selatan.
Meski demikian, kemampuan produksinya saat ini masih terbatas.
"Memang kapasitas produksinya masih kecil, Bapak. Kalau memang ada ini kami akan coba secara besar sehingga nanti ini juga sudah disampaikan kepada BNPB," ujar Ujang Darwis.
Mendengar penjelasan tersebut, Prabowo meminta agar inovasi berbahan dasar tepung singkong itu segera diuji untuk mengetahui tingkat efektivitasnya.
Ia juga membuka kemungkinan bahan tersebut digunakan dalam skala besar melalui helikopter atau pesawat untuk menjangkau wilayah karhutla.
Prabowo bahkan menanyakan kemungkinan penggunaan pesawat Mi-17 yang selama ini dapat membawa sekitar 4 ton air dalam satu kali water bombing.
"Kalau Mi-17 itu 4 ton water bombing. Mungkin ubi serbuk, tepung ini kita uji coba efektif luasnya berapa. Mi-17 cukup efektif?" tanya Prabowo.
Di tengah pembahasan mengenai ‘ubi bombing’, pemerintah masih mengandalkan operasi water bombing untuk menangani karhutla di Sumatera Selatan.
Berdasarkan paparan dalam rapat tersebut, satu helikopter dapat melakukan sekitar dua sorti penerbangan dalam sehari.
Dalam satu sorti, penerbangan berlangsung sekitar 3 hingga 4 jam dan dapat melakukan 30 hingga 40 kali water bombing.
Setiap sekali pengeboman air, helikopter rata-rata membawa sekitar 4 ton air untuk dijatuhkan ke titik api.
Dalam paparan tersebut juga disebutkan lebih dari 300 kali water bombing dilakukan setiap hari selama 90 hari.
Operasi pemadaman antara lain menggunakan helikopter Black Hawk dan Mi-8 yang masing-masing memiliki kemampuan membawa sekitar 4 ton air.
Prabowo meminta seluruh jajaran terus mengevaluasi kebutuhan di lapangan dan segera mengajukan tambahan bantuan apabila operasi pemadaman karhutla masih membutuhkan dukungan.
Dengan demikian, ‘ubi bombing’ saat ini masih berada pada tahap inovasi yang perlu diuji lebih lanjut, khususnya untuk mengetahui seberapa efektif bahan berbasis tepung singkong tersebut jika diterapkan pada karhutla dalam skala luas.