Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Nur Rahma Sagita
TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU SELATAN – Sebanyak 31 tim pelaksana pembangunan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) wilayah Manna-Kaur mengeluhkan pembayaran pekerjaan pembangunan 144 unit KDMP yang hingga kini belum direalisasikan sesuai dengan progres pekerjaan.
Pantauan TribunBengkulu.com, salah satu pembangunan KDMP yang berada di Desa Batu Kuning, Kecamatan Pasar Manna, Kabupaten Bengkulu Selatan, tampak terhenti.
Bangunan KDMP tersebut baru terlihat berupa pondasi dinding.
Pada bagian depan bangunan terdapat tulisan Koperasi Merah Putih Batu Kuning.
Namun, tidak terlihat aktivitas pekerja di lokasi.
Pembangunan bangunan tersebut tampak terhenti meskipun belum selesai dikerjakan.
Para pelaksana mengaku pembangunan KDMP telah dikerjakan sesuai dengan program yang ditetapkan.
Namun, pembayaran yang seharusnya diterima berdasarkan progres pekerjaan disebut mengalami kemacetan hampir satu bulan.
31 Tim Pelaksana Tuntut Pembayaran Sesuai Progres
Salah seorang pelaksana KDMP Bengkulu Selatan, Julius, mengatakan pihaknya mendukung penuh program pembangunan KDMP yang telah dilaksanakan.
Namun, saat ini para pelaksana hanya meminta hak mereka berupa pembayaran sesuai dengan progres pekerjaan yang telah dikerjakan dan diperiksa.
“Adanya program KDMP ini kami sangat mendukung dan telah kami laksanakan. Namun sampai sekarang tidak lain dan tidak bukan, kami hanya menuntut hak kami, yaitu pembayaran sesuai dengan progres yang telah kami laksanakan,” ujar Julius saat diwawancarai TribunBengkulu.com, Selasa (25/8/2026).
Menurut Julius, persoalan pembayaran tersebut tidak hanya menyangkut satu pelaksana, tetapi juga pembangunan KDMP di wilayah Bengkulu Selatan dan Kaur.
Ia menjelaskan, sebelumnya mekanisme pembayaran berjalan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Namun, dalam hampir satu bulan terakhir, pembayaran tersebut disebut mengalami kendala.
“Awalnya sistem pembayaran berjalan, tetapi sekarang sudah hampir satu bulan macet. Makanya kami sebagai pelaksana ingin menagih uang kami sesuai dengan progres yang telah diperiksa,” katanya.
Julius menyebutkan, untuk salah satu pembangunan KDMP yang dikerjakannya, khusus untuk yang dipegangnya, progres pekerjaan saat ini telah mencapai sekitar 99 persen dan hanya menyisakan tahap finishing.
Pembangunan Terhenti karena Pembayaran Terkendala
Menurut Julius, terhentinya pekerjaan berdampak pada pembayaran tenaga kerja dan pembelian material.
Para pelaksana harus membayar tukang, membeli material, membayar galian C, serta memenuhi kewajiban kepada toko dan depot kayu.
“Bangunan ini sudah hampir selesai, tinggal finishing. Tapi pekerjaan mandek karena tukang harus digaji, material harus dibeli, toko tidak mau mengutang lagi, galian C harus dibayar dan depot kayu juga harus dibayar. Bagaimana kami membayar mereka kalau tagihan saja belum keluar?” ungkapnya.
Julius mengatakan, pihaknya telah mendatangi pihak terkait untuk mempertanyakan persoalan pembayaran tersebut.
Namun, hingga kini belum mendapatkan kepastian mengenai pencairan dana.
Ia juga mengaku mendapat informasi bahwa pembangunan KDMP akan diambil alih.
Hal tersebut membuat para pelaksana mempertanyakan nasib pembayaran terhadap pekerjaan yang telah mereka selesaikan.
“Kami sudah mendatangi pihak terkait, tetapi hasilnya tetap begitu. Bahkan ada informasi seluruh pekerjaan KDMP akan diambil alih dan akan dinolkan. Saya kira yang lainnya juga tidak menerima, tetapi saya tidak tahu bagaimana dengan pelaksana yang lain,” tegas Julius.
Pelaksana KDMP Berharap Dana Segera Dicairkan
Terpisah, pelaksana KDMP lainnya, Delon, mengatakan pembayaran pembangunan KDMP dilakukan berdasarkan progres pekerjaan.
Namun, hingga saat ini pihaknya belum menerima pembayaran sesuai dengan progres yang telah dikerjakan.
“Pembayaran KDMP sesuai permen dan berdasarkan progres yang telah dilakukan. Saat ini sudah hampir satu bulan kami tidak melakukan pekerjaan di lapangan karena terkendala pembayaran tukang. Sampai saat ini pembayaran sesuai progres yang kami kerjakan belum kami terima,” kata Delon.
Sementara itu, pelaksana KDMP lainnya, Wadimin, berharap pihak yang bertanggung jawab terhadap pendanaan segera merealisasikan pembayaran agar pembangunan dapat kembali berjalan.
Ia menyebutkan, pekerjaan yang terhenti lebih dari satu bulan tersebut turut menimbulkan persepsi di tengah masyarakat terhadap para pelaksana.
“Harapan kami kepada pihak yang memegang keuangan agar dalam waktu dekat bisa merealisasikan dana. Supaya pembangunan kami bisa berjalan kembali. Karena sudah lebih dari satu bulan kami off, akhirnya pekerjaan terhenti dan masyarakat seolah-olah menilai kami sebagai pelaksana tidak benar,” ungkap Wadimin.
Pelaksana Minta Hak atas Pekerjaan yang Telah Diselesaikan
Senada, pelaksana KDMP Ujang mengatakan pihaknya telah menunggu pencairan dana selama hampir satu bulan.
Ia berharap pihak terkait segera memberikan kepastian mengenai pembayaran tersebut.
Menurutnya, apabila pembangunan tidak dapat dilanjutkan, pihak pelaksana tetap meminta pembayaran atas pekerjaan yang telah dilaksanakan sesuai dengan progres di lapangan.
“Kami sudah satu bulan berharap pihak terkait segera mencairkan dana. Seandainya memang pembangunan ini tidak bisa dilanjutkan, kami sudah melaksanakan kewajiban sebagai pelaksana. Jadi, kami menuntut hak kami untuk pekerjaan yang telah kami laksanakan agar dibayarkan,” tegas Ujang.
Para pelaksana berharap persoalan pembayaran tersebut segera mendapatkan penyelesaian sehingga pembangunan KDMP yang masih tersisa dapat dilanjutkan.
Mereka juga berharap pembayaran kepada para pekerja, pemasok material, serta pihak lainnya yang berkaitan dengan proses pembangunan dapat segera diselesaikan.
Gabung grup Facebook TribunBengkulu.com untuk informasi terkini