Laporan Reporter TribunBengkulu.com, M. Bima Kurniawan
TRIBUNBENGKULU.COM, KEPAHIANG - Kisah perjuangan Puspita (36), guru Pendidikan Agama Islam (PAI) di SMP Negeri 1 Ujan Mas, Kabupaten Kepahiang, Bengkulu, menggambarkan panjangnya perjalanan seorang tenaga pendidik dalam mengabdi di dunia pendidikan.
Sejak 2013, Puspita telah mengabdikan diri di sekolah tersebut. Selama bertahun-tahun, ia menjalani profesi sebagai guru honorer dengan penghasilan yang terbatas.
Kini, statusnya telah berubah. Sejak 2025, Puspita resmi menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Paruh Waktu.
Namun, perubahan status kepegawaian tersebut belum sepenuhnya mengubah kondisi ekonominya.
"Waktu honor dapatnya Rp500-600 ribu, semenjak PPPK Paruh Waktu ini dapatnya satu juta," kata Puspita, Selasa (25/8/2026).
Dengan penghasilan sekitar Rp1 juta per bulan, Puspita harus pintar mengatur kebutuhan sehari-hari.
Ia mengaku berusaha menyesuaikan pengeluaran dengan pendapatan yang diterima.
Baca juga: Nasib 2.032 PPPK Guru Bengkulu, BKD: Masih Tunggu Petunjuk Pemerintah Pusat
"Iya cukup tidak cukup di cukup-cukupkan, menyesuaikan kebutuhan," ujarnya sembari tersenyum.
Salah satu hal yang sedikit meringankan pengeluarannya adalah jarak rumah dengan sekolah yang tidak terlalu jauh.
Puspita masih dapat menggunakan sepeda motor untuk berangkat dan pulang mengajar sehingga biaya transportasi dapat ditekan.
"Untungnya operasional saya ke sekolah tidak terlalu jauh ditempuh dengan motor," tuturnya.
Di luar kesibukannya mengajar, Puspita menjalani kehidupan seorang diri.
Suaminya meninggal dunia sekitar lima tahun lalu. Sejak saat itu, ia tinggal sendirian di sebuah rumah kayu peninggalan mertuanya di Dusun 6, Desa Pekalongan, Kecamatan Ujan Mas.
"Saya saat ini tinggal sendiri karena suami memang sudah lima tahun meninggal," ungkapnya.
Kehidupan Puspita sehari-hari dijalani secara sederhana.
Di tengah meningkatnya harga berbagai kebutuhan, persoalan ekonomi menjadi salah satu tantangan yang paling ia rasakan.
"Keluhannya di kebutuhan ekonomi saja karena kita bekerja ada keinginan untuk mendapatkan yang lebih di tengah kebutuhan ini serba naik, namun kalau memang dapatnya segitu iya alhamdulillah," katanya.
Meski kondisi ekonomi masih terbatas, Puspita tetap bertahan menjalankan profesinya sebagai guru.
Bagi dirinya, mengajar bukan hanya sekadar pekerjaan. Lebih dari 13 tahun, ia terus berada di ruang kelas untuk mendampingi dan memberikan pendidikan kepada para siswa.
Puspita sebenarnya telah berupaya mendapatkan status kepegawaian yang lebih pasti.
Ia mengaku beberapa kali mengikuti seleksi CPNS, tetapi belum berhasil mendapatkan kesempatan tersebut.
"Kalau ikut seleksi CPNS kita selalu ikut namun memang belum rezeki," ujarnya.
Tidak berhenti di situ, Puspita juga pernah mengikuti seleksi PPPK penuh waktu.
Namun, ia harus kembali menerima kenyataan setelah gugur pada tahap pemeringkatan karena keterbatasan kuota untuk guru PAI.
"Sempat ikut seleksi PPPK penuh waktu namun gugur di perengkingan karena kuotanya yang juga terbatas untuk guru PAI," jelasnya.
Kini, status PPPK Paruh Waktu menjadi bagian baru dalam perjalanan pengabdiannya.
Puspita berharap status tersebut dapat menjadi jalan menuju pengangkatan sebagai PPPK penuh waktu atau bahkan PNS.
"Harapannya bisa sama seperti yang lain, kalau sekarang masih paruh waktu, mudah-mudahan ke depan dapat diangkat penuh waktu atau PNS untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari," harap Puspita.
Selama harapan tersebut belum terwujud, Puspita tetap memilih berada di kelas.
Setiap hari ia terus menjalankan tugasnya sebagai guru, meski harus menghadapi berbagai keterbatasan.
Baginya, pendidikan anak-anak tidak boleh berhenti hanya karena kondisi ekonomi yang belum ideal.
Di balik penghasilan yang masih terbatas, Puspita terus mempertahankan pengabdiannya.
Ia berharap perjuangan selama lebih dari satu dekade sebagai guru akhirnya membawa perubahan bagi kehidupan dirinya di masa mendatang.