BERSYUKUR adalah kata yang sederhana.
Mudah diucapkan, tetapi tak selalu mudah dilakukan.
Pada Selasa (25/8/2026) siang, saya menuju perkebunan yang ada Kelurahan Kumelembuay, Kecamatan Tomohon Timur, Kota Tomohon, Sulawesi Utara.
Dari pusat Kota Tomohon, perjalanan sekitar 15 menit menggunakan sepeda motor.
Cuaca saat itu panas terik.
Di kawasan Rurukan dan Kumelembuay, hamparan kebun sayur sudah terlihat dari dataran rendah hingga di perbukitan.
Sudah sekitar dua bulan hujan belum turun.
Sejumlah lahan terlihat kering, belum ada tanaman sayuran baru.
Meski begitu, aktivitas di kebun tetap berjalan.
Sejumlah petani bekerja di lokasi masing-masing.
Saya kemudian bertemu dengan seorang petani bernama Robert yang usianya sudah 50 tahun.
Saat itu ia baru selesai menyiram tanamannya.
Rambutnya sudah memutih.
Ia mengenakan baju partai calon wali kota, celana pendek dan sepatu lars.
Robert tak ingin dirinya didokumentasikan, tapi mau berbagi cerita.
Wajahnya terlihat lelah, bahkan napasnya sedikit terengah-engah.
Sesekali ia mengusap keringat di dahinya.
Hari itu, sekitar tiga tong air sudah ia gunakan untuk menyiram tanaman.
“Kurang lebih 1,5 jam saya semprot,” kata Robert saat diajak bicara.
Untuk mendapatkan air, harus bolak-balik dari rumah ke kebun.
Untungnya, Robert punya mobil pickup sendiri untuk mengangkut air.
"Cuman kalau persediaan air tidak cukup, harus beli. Sekali pengantaran kalau yang truk, biayanya bisa mencapai Rp 350 ribu," sambungnya.
Robert mengaku tidak memiliki penghasilan tetap.
Kebun itu menjadi tempatnya bertahan hidup bersama keluarga, yaitu seorang istri dan dua anak.
Anaknya tertuanya sudah bekerja, sementara satu lainnya masih di bangku perkuliahan.
“Masih ada tanggung jawab,” katanya.
Di kebunnya, Robert menanam kol dan wortel.
Kol sudah siap dipanen, sedangkan wortel masih sekitar tiga minggu lagi.
Saya mendengarkan ceritanya tentang kemarau, air, dan bagaimana ia harus bekerja lebih keras agar tanaman tetap hidup.
"Jadi petani itu harus rajin, kalau nda, susah nanti. Sama dengan ini saja, baru mo semprot sayur saja musti kerja ekstra," ujarnya.
"Ini baru setengah yang sudah disiram, yang sebelah sana belum," sambung dia sembari menunjuk lokasi lain.
Usai berbincang, Robert berdiam diri sejenak.
Ia menghela napas panjang sambil melihat ke arah langit.
Baca juga: Kemarau Panjang, Krisis Air Bikin Warga Paniki Dua Manado Tak Bisa Rayakan Pengucapan Syukur
Baca juga: Jadwal Kapal Pelni dari Pelabuhan Bitung, Mulai 26-31 Agustus 2026, Berikut Harga Tiketnya
“Terima kasih Tuhan Yesus buat hari ini,” ucapnya.
Saya terdiam sekaligus kagum.
Di tengah banyaknya kebutuhan dan beratnya pekerjaan, bersyukur rupanya menjadi cara Robert menghadapi keadaan.
Mungkin bagi sebagian orang, kalimat tersebut terdengar biasa.
Tetapi setelah melihat sendiri bagaimana petani harus bekerja di tengah panas dan keterbatasan air, kalimat itu terasa berbeda.
Sebab, bagi mereka, setiap hari di kebun adalah perjuangan.
Ada tanaman yang harus diselamatkan, ada biaya yang harus dikeluarkan.
Serta ada harapan agar hasil panen tetap maksimal.(*)