Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Irfan Budiman
POS-KUPANG.COM, WAINGAPU- Even Pacuan Kuda Humba Cup IV di Lapangan Pacuan Kuda Rihi Eti, Prailiu, Sumba Timur, tidak hanya menyuguhkan hiburan dan bagian dari upaya pemertahanan budaya serta promosi wisata. Namun, kegiatan ini juga membawa berkah bagi pelaku UMKM.
Pacuan kuda ini dimulai pada Selasa (18/8/2026). Sebanyak 683 ekor kuda bersaing menguji kecepatan di lapangan tersebut.
Selain dari empat kabupaten di Pulau Sumba, kuda-kuda tersebut juga berasal dari Kabupaten Nagekeo, Flores, NTT, NTB, Jawa Timur dan Jawa Barat.
Hampir ribuan penonton memadati Lapangan Rihi Eti setiap harinya. Kesempatan tersebut pun dimanfaatkan oleh pelaku usaha makanan dan minuman untuk meningkatkan pendapatan.
Baca juga: Pacuan Kuda Humba Cup IV Diharapkan Jadi Ajang Pemersatu
Salah satunya adalah Maryati Abdurahman (44). Ia mengaku senang pemerintah kabupaten menggelar kegiatan yang berada tidak jauh dari rumahnya itu.
“Saya senang sekali karena dengan ini ada keramaian dan kita bisa berjualan,” ujarnya saat ditemui di lapak berukuran 2 kali 3 meter itu, Selasa (25/8/2026).
Ia mengatakan, selama pacuan kuda dibuka, ia memiliki pendapatan. Sebab, hanya saat itulah ia berjualan. Ia tidak memiliki kios maupun usaha lain.
“Alhamdulillan ramai. Ada lah untuk memenuhi kebutuhan keluarga di rumah,” kata ibu yang berusia 44 tahun ini.
Kalau ramai, kata Maryati, ia memperoleh keuntungan sebanyak Rp150.000 per hari. Jika sepi, ia mendapatkan Rp100.000 per hari.
Baca juga: 683 Ekor Kuda Ramaikan Lomba Pacuan Kuda Humba Cup IV di Sumba Timur NTT
Di lapaknya, Maryati menjual berbagai jenis minuman, kopi panas dan rokok. Ia juga menjual nasi bungkus dengan harga Rp10.000.
“Kami berharap kegiatan ini diadakan lagi. Biar kita yang buka usaha kecil bisa mendapatkan uang Rp10.000... apalagi sekarang harga barang-barang sudah mulai naik,” ungkap Maryati yang tengah menderita tumor otak itu.
Hal yang sama disampaikan Astuti Lestari Tamu Ina (26). Astuti, begitu ia disapa, adalah seorang guru.
Di hari libur sekolah, ia berdagang di sekitar lapangan pacuan tersebut. Ia membuka lapaknya mulai pukul 07.00 Wita hingga kegiatan pacuan selesai.
Ia mengaku mendapat berkah selama pacuan kuda berlangsung. Setiap hari, jika ramai, ia mendapat keuntungan sebanyak Rp400.000.
“Per hari paling banyak Rp400.000, paling sedikit Rp100.000,” katanya.
Seperti Maryati, ia pun berharap kegiatan serupa sesering mungkin diadakan.
Selain untuk melestarikan budaya, kegiatan ini bisa mendorong ekonomi masyarakat kecil dan bahkan, ekonomi daerah itu ke depan. (dim)