...Bagi saya museum tsunami Aceh sebagai pengingat bahwa bencana akan selalu ada

Banda Aceh (ANTARA) - Direktur Utama Perum LKBN ANTARA, Benny Siga Butarbutar menyatakan bahwa Museum Tsunami Aceh menjadi pengingat, pelajaran sekaligus harapan untuk menciptakan sebuah sistem baik mengurangi potensi hingga kesiapsiagaan menghadapi bencana.

"Bagi saya (museum tsunami Aceh) sebagai pengingat bahwa bencana akan selalu ada, apalagi Indonesia berada dalam ring of fire (cincin api). Dan ini mengingatkan kita untuk selalu memiliki kesiapan," kata Benny Siga Butarbutar, di Banda Aceh, Selasa.

Pernyataan itu disampaikan Benny usai mengunjungi Museum Tsunami Aceh bersama Sekretaris Perusahaan Antara Sella Gareta dan GM SDM Arif Mujayatno, didampingi Kepala Biro Aceh Febrianto Budi Anggoro serta staf lainnya, di Banda Aceh.

Benny menjelaskan, Museum Tsunami menjadi pengingat bahwa manusia tidak akan terlepas dari bencana. Apalagi, banyak cerita di museum tersebut yang mengingatkan bahwa sebenarnya alam sendiri menjadi kesiapan dalam menghadapi bencana, tetapi tak dipelajari.

"Alam memberikan sebuah pengingat, kita yang mengabaikannya. Jadi kita perlu belajar," ujarnya.

Museum ini, kata dia, juga menjadi pelajaran penting kepada manusia dengan anugerah kecerdasan yang telah diberikan Tuhan guna membangun sebuah sistem untuk menyelamatkan banyak orang, sehingga bencana tidak terlalu banyak menelan korban jiwa.

"Karena itu penting untuk menjadi sebuah pelajaran. Dibangun sistem, dibangun sebuah ekosistem yang bisa mengurangi atau memitigasi bencana," katanya.

Melihat Museum Tsunami Aceh, lanjut Benny, terdapat sebuah harapan bahwa harus ada langkah yang lebih baik untuk diciptakan dalam upaya memitigasi bencana, baik melalui sistem informasi, bangunan tahan gempa dan lainnya.

Disisi lain, ia melihat kehadiran Museum Tsunami Aceh juga menghadirkan ikon baru di Tanah Rencong, selain Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh.

"Ini kalau kita bandingkan dengan Jepang yang memiliki museum bencana di Kobe, itu juga menjadi pengingat, pelajaran dan harapan bahwa manusia harus bekerja sama dalam sebuah lingkup global untuk memitigasi, membangun kerja sama dalam mengatasi bencana," tegasnya.

Dalam kesempatan ini, Benny menegaskan bahwa LKBN ANTARA semestinya harus berperan lebih terhadap mitigasi bencana, tidak cukup hanya sekedar menyampaikan berita kepada masyarakat dan dunia. Melainkan, sejak awal harus memberikan early warning system (peringatan dini).

Misalnya, tambah dia, bagaimana ANTARA membangun sebuah cerita mitigasi bencana berbasis kearifan lokal, seperti yang dilakukan masyarakat di kepulauan Simeulue, Aceh.

Di mana, rakyat di Kabupaten Simeulue kerap melantunkan syair Smong (tsunami) pada berbagai momen dan menjadi nyanyian menidurkan anak. Budaya ini kemudian menjadi salah satu langkah mitigasi bencana masyarakat di sana. Sehingga saat tsunami 2004 lalu, meski gelombangnya dahsyat, tetapi hanya menelan tujuh korban jiwa saja.

"Bahwa ada sistem, ada cerita, lagu yang memberi peringatan kepada kita tentang bencana. Di situlah ANTARA membangun, mendesain sebuah informasi yang menjadi pengetahuan, dan kemudian memberikan peringatan kepada dunia, masyarakat, dan pemerintah untuk bisa mengambil keputusan," ujarnya.

Dengan kata lain, tambah Benny, ANTARA tidak hanya sekedar memberikan informasi, tetapi bagaimana membangun ekosistem informasi untuk masyarakat dan pemerintah agar bisa mengambil keputusan cepat dan terbaik kala terjadi bencana.

"Disinilah peran kantor berita. It's not only a news (bukan hanya sekedar berita). Tapi juga sosial kontribusi bahwa ANTARA berperan memberi pengingat, penyebaran dan amplifikasi agar diambil keputusan, menghasilkan kerjasama dan pengingat yang baik," demikian Benny Siga Butarbutar.