TRIBUN-TIMUR.COM - Prof Dr Eko Hadi Sujiono maju menjadi calon Rektor Universitas Negeri Makassar (UNM) dengan pengalaman konsep kaleng-kaleng.
Prof Eko mendaftar lagi jadi calon rektor UNM periode 2026-2030. Pada pemilihan Rektor UNM sebelumnya, 2024-2028, Prof Eko pendaftar keempat.
Pemilihan Rektor UNM dipercepat karena Prof Dr Karta Jayadi yang terpilih dalam pemilihan Rektor Periode 2024-2026 hanya menjabat hingga November 2025. Prof Dr Farida Patittingi kemudian dilantik menjadi peniabat Rektor UNM.
Dalam dinamika Pemilihan Rektor Universitas Negeri Makassar periode 2026–2030, rekam jejak penelitian internasional Prof Eko menjadi salah satu modal yang dapat dibaca warga kampus.
Namun, pengalaman internasional bagi Prof Eko bukan tujuan akhir.
Pertanyaan yang lebih penting adalah bagaimana modal tersebut diterjemahkan menjadi kapasitas kelembagaan.
Apakah mahasiswa dapat memperoleh kesempatan lebih besar masuk ke dalam kelompok riset?
Apakah dosen muda dapat membangun jejaring dan kelompok penelitian sejak awal karier?
Apakah laboratorium dapat dikembangkan menjadi ruang produksi pengetahuan, bukan sekadar fasilitas praktikum?
Apakah jejaring internasional dapat menghasilkan penelitian bersama yang berkelanjutan?
Dan yang tidak kalah penting, apakah hasil penelitian dapat bergerak dari jurnal menuju teknologi atau solusi yang dibutuhkan masyarakat?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pengalaman akademik seseorang memiliki nilai yang lebih besar ketika dapat ditransformasikan menjadi kapasitas bersama.
Dua puluh dua tahun setelah menyelesaikan penelitian pascadoktoralnya di University of Twente, Belanda, Prof Eko Hadi Sujiono masih membawa konsekuensi akademik dari pengalaman tersebut ke Makassar.
Prof Eko berada di University of Twente pada 2002–2004, setelah menyelesaikan pendidikan doktor bidang fisika di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 2001. Di Belanda, ia bergabung dengan Mesa+ Research Institute, Department of Applied Physics, Low Temperature Division.
Di lingkungan penelitian itu, Eko bekerja pada bidang yang mempertemukan fisika, material, elektronika dan teknologi. Salah satu bidang yang dipelajarinya adalah superkonduktor, termasuk superconducting analog-to-digital converter atau Super ADC serta pembuatan dan karakterisasi lapisan tipis superkonduktor.
Pengalaman tersebut penting karena penelitian yang dilakukan tidak berhenti pada pertanyaan tentang sifat suatu material. Material harus dipahami sampai pada bagaimana ia bekerja dalam sebuah perangkat.
ADC, misalnya, merupakan perangkat yang mengubah sinyal analog menjadi data digital. Teknologi ini digunakan dalam berbagai sistem elektronik, termasuk sensor, kamera, perangkat kesehatan dan sistem komunikasi.
Dalam penelitian superkonduktor, persoalannya menjadi lebih kompleks. Material harus dibuat dalam kondisi tertentu, termasuk pengendalian suhu, komposisi dan waktu proses. Lapisan yang sangat tipis pun harus memiliki karakteristik yang sesuai agar dapat digunakan pada perangkat yang dirancang.
Proses itu membuat penelitian tidak berlangsung melalui satu percobaan. Peneliti harus membuat material, mengukur hasilnya, menemukan kekurangan, memperbaiki proses dan mengujinya kembali.
Pengalaman di Twente juga mempertemukan Eko dengan teknologi terahertz, wilayah gelombang elektromagnetik berfrekuensi sangat tinggi yang memiliki potensi untuk pencitraan, pemeriksaan material, sensor hingga sistem komunikasi.
Dengan demikian, pengalaman riset Eko di Belanda berada pada pertemuan beberapa bidang sekaligus: fisika dasar, material, elektronika dan rekayasa perangkat.
Jejaring yang Tidak Berhenti di Belanda
Pengalaman pascadoktoral itu juga menghasilkan jaringan akademik yang kemudian terus berkembang.
Di University of Twente, Eko berinteraksi dengan peneliti dari berbagai negara. Di antaranya Prof Khartikeyan dari India, Prof Ariando dari National University of Singapore, dan Prof Darminto dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember.
Hubungan akademik tersebut tidak berhenti ketika masa penelitian di Belanda selesai. Komunikasi dan kerja sama yang dibangun kemudian berkembang menjadi kolaborasi penelitian.
Pada 2026, Eko bersama Prof Khartikeyan terlibat dalam penelitian mengenai zinc-air battery atau baterai seng-udara.
Penelitian tersebut berada dalam bidang penyimpanan energi, salah satu persoalan penting dalam pengembangan sistem energi yang lebih bersih dan pemanfaatan energi terbarukan.
Rentang waktunya menunjukkan bagaimana sebuah jejaring penelitian dapat bertahan jauh melampaui masa tinggal seorang peneliti di luar negeri. Hubungan yang bermula dari lingkungan laboratorium pada awal 2000-an kembali menghasilkan kerja sama penelitian lebih dari dua dekade kemudian.
Dari Twente ke Laboratorium UNM
Yang kemudian menjadi penting bagi Makassar adalah apa yang dilakukan setelah pengalaman tersebut dibawa kembali ke Indonesia.
Eko meneruskan aktivitas akademiknya melalui pendidikan, penulisan buku, pembinaan kelompok riset dan pengembangan perangkat penelitian. Salah satunya adalah pengembangan alat deposisi lapisan tipis di Universitas Negeri Makassar.
Di titik ini, pengalaman internasional berubah menjadi kapasitas institusi.
Pengetahuan mengenai pembuatan dan karakterisasi material tidak lagi hanya menjadi pengalaman pribadi seorang peneliti. Pengetahuan tersebut dapat diterjemahkan menjadi perangkat, kelompok penelitian, kegiatan pembelajaran dan kesempatan bagi mahasiswa untuk mengenal proses penelitian secara langsung.
Hubungan itu juga memperlihatkan bahwa manfaat penelitian luar negeri tidak selalu harus diukur dari teknologi yang langsung dibawa pulang.
Yang lebih penting adalah apakah cara bekerja, jaringan akademik dan kemampuan membangun penelitian dapat ditransfer ke lingkungan kampus sendiri.
Tantangan Berikutnya Ada di Kampus
Dalam konteks Universitas Negeri Makassar, pengalaman tersebut menjadi relevan ketika perguruan tinggi menghadapi tuntutan untuk memperkuat kapasitas penelitian.
Mahasiswa membutuhkan ruang untuk terlibat dalam penelitian. Dosen muda membutuhkan kesempatan membangun kelompok riset. Laboratorium membutuhkan peralatan dan kegiatan penelitian yang berkelanjutan. Sementara jejaring internasional perlu diarahkan menjadi kolaborasi yang menghasilkan penelitian bersama, bukan berhenti pada kunjungan atau seremoni.
Di sisi lain, hasil penelitian juga menghadapi tuntutan yang semakin besar untuk berhubungan dengan persoalan masyarakat.
Sulawesi Selatan memiliki berbagai persoalan yang dapat menjadi ruang penelitian, mulai dari energi, lingkungan, air, pendidikan, teknologi tepat guna hingga penguatan ekonomi masyarakat.
Karena itu, pengalaman seorang akademisi di laboratorium internasional baru menemukan arti yang lebih luas ketika pengetahuan tersebut dapat dipertemukan dengan kebutuhan di daerah.
Modal untuk UNM 2026–2030
Dalam dinamika Pemilihan Rektor Universitas Negeri Makassar periode 2026–2030, rekam jejak penelitian internasional Eko menjadi salah satu modal yang dapat dibaca warga kampus.
Namun, pengalaman internasional sendiri bukan tujuan akhir.
Pertanyaan yang lebih penting adalah bagaimana modal tersebut diterjemahkan menjadi kapasitas kelembagaan.
Apakah mahasiswa dapat memperoleh kesempatan lebih besar masuk ke dalam kelompok riset?
Apakah dosen muda dapat membangun jejaring dan kelompok penelitian sejak awal karier?
Apakah laboratorium dapat dikembangkan menjadi ruang produksi pengetahuan, bukan sekadar fasilitas praktikum?
Apakah jejaring internasional dapat menghasilkan penelitian bersama yang berkelanjutan?
Dan yang tidak kalah penting, apakah hasil penelitian dapat bergerak dari jurnal menuju teknologi atau solusi yang dibutuhkan masyarakat?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pengalaman akademik seseorang memiliki nilai yang lebih besar ketika dapat ditransformasikan menjadi kapasitas bersama.
Perjalanan Eko dari ITB ke University of Twente, kemudian kembali ke Indonesia dan melanjutkan aktivitas riset di UNM, memperlihatkan satu rantai yang panjang: pendidikan, penelitian, jejaring, kolaborasi, laboratorium dan transfer pengetahuan.
Rantai itulah yang membuat pengalaman di luar negeri tidak berhenti sebagai riwayat perjalanan seorang akademisi.
Ilmu yang berjalan jauh pada akhirnya diuji bukan ketika berada di laboratorium asing, tetapi ketika kembali dan ditanyakan: apa yang bisa dibangun di tempat sendiri?(*)