Gubernur Kepri Ansar Ahmad Dampingi JAM-Intel Kejagung Jelajahi Sejarah Pulau Penyengat
Agus Tri Harsanto August 26, 2026 10:07 AM

TRIBUNBATAM.id - Gubernur Kepulauan Riau Ansar Ahmad mendampingi Jaksa Agung Muda Bidang Intelijen (JAM-Intel) Kejaksaan Agung RI Reda Manthovani melakukan kunjungan ke Pulau Penyengat, Kota Tanjungpinang, Selasa (25/8/2026).

Pulau Penyengat merupakan pulau bersejarah di Kota Tanjungpinang, ibu kota Provinsi Kepulauan Riau.

Akses menuju ke sana bisa ditempuh dalam 15 menit menggunakan perahu pompong dari Pelabuhan.

Pulau ini merupakan hadiah pernikahan atau mas kawin oleh Sultan Mahmud Syah kepada permaisurinya, Engku Putri Raja Hamidah, pada tahun 1803 atau 1805.

Kini Pulau Penyengat terkenal sebagai pusat budaya Melayu dan lokasi Masjid Raya Sultan Riau yang ikonik. 

Kunjungan tersebut menjadi momentum untuk memperkenalkan kekayaan sejarah, budaya Melayu, serta potensi pariwisata Pulau Penyengat yang menjadi bagian penting dari identitas Kepulauan Riau.

Rangkaian kunjungan diawali di Balai Adat Indera Perkasa.

Di lokasi tersebut, Ansar Ahmad memperkenalkan sejarah Kesultanan Riau-Lingga, termasuk silsilah Raja Ali Haji, salah satu tokoh penting dalam perkembangan intelektual dan kebudayaan Melayu.

Kunjungan ke Pulau Penyengat
Foto bersama saat Kunjungan ke Pulau Penyengat

Pria kelahiran Bintan Timur 10 April 1964 itu juga memperlihatkan maket museum dan Monumen Tugu Bahasa Pulau Penyengat.

Ansar yang juga sebagai Mantan Ketua DPD Partai Golkar Kepri ini menjelaskan warisan pemikiran Raja Ali Haji melalui karya monumentalnya, Gurindam Dua Belas, yang menjadi salah satu peninggalan penting dalam perkembangan bahasa dan kebudayaan Melayu.

Ansar Ahmad menjabat Gubernur Kepri dua periode. Sebelumnya ia menjabat Bupati Bintan dan Anggota DPR RI dari Partai Golkar.

Perjalanan kemudian dilanjutkan dengan ziarah ke kompleks makam Raja Hamidah atau Engku Putri dan makam Pahlawan Nasional Raja Ali Haji. 

Rombongan memanjatkan doa sekaligus mendapatkan penjelasan mengenai sejarah dan perjuangan Raja Ali Haji dalam membangun peradaban serta menjaga identitas budaya Melayu.

Rangkaian kunjungan ditutup di Masjid Raya Sultan Riau Penyengat.

Masjid ini pertama kali dibangun pada tahun 1803 seiring dengan dibukanya Pulau Penyengat.

Pada masa itu masjid ini diperkirakan terbuat dari kayu. Hingga pada tahun 1832, Raja Abdurrahman yang pada masa itu menjabat sebagai Yang Dipertuan Muda ke – 7 Kerajaan Riau-Lingga melakukan renovasi dengan cara bergotong royong dengan semua lapisan masyarakat di Pulau Penyengat kala itu.

Keunikan mesjid ini adalah konon digunakannya putih telur sebagai campuran bahan bangunan untuk membuat masjid.

Arsitekturnya juga sangat unik dan sarat dengan simbol – simbol ajaran agama Islam.

Di sana, Ansar menjelaskan sejarah pembangunan masjid yang menjadi salah satu ikon Pulau Penyengat, termasuk keunikan arsitektur dan ornamen yang menghiasi bangunan tersebut.

Ansar mengatakan, Pulau Penyengat tidak hanya memiliki nilai sejarah yang tinggi, tetapi juga merupakan bagian penting dari kekayaan budaya dan destinasi wisata Kepulauan Riau.

“Pulau Penyengat ini merupakan salah satu jejak penting kejayaan Kerajaan Melayu Riau-Lingga. Kita ingin memperkenalkan bahwa Kepri memiliki kekayaan sejarah, budaya Melayu, dan warisan Islam yang sangat kuat, sekaligus memiliki potensi pariwisata yang terus dapat dikembangkan,” ujar Ansar.

Menurut Ansar, pengenalan sejarah dan budaya Pulau Penyengat menjadi bagian dari upaya memperkuat citranya sebagai destinasi wisata sejarah dan budaya.

Pada saat yang sama, upaya tersebut penting untuk menjaga warisan leluhur agar tetap dikenal dan dipahami oleh generasi mendatang.

Sementara itu, Reda Manthovani menyampaikan kekagumannya terhadap kekayaan sejarah dan budaya Melayu yang terdapat di Pulau Penyengat.

Menurutnya, berbagai peninggalan yang masih terjaga menunjukkan besarnya peran Pulau Penyengat dalam perjalanan sejarah Melayu dan perkembangan peradaban di kawasan tersebut.

Reda Manthovani adalah seorang jaksa, dosen, guru besar, sekaligus akademisi di bidang penegakan hukum.

Ia menjabat  Jamintel Kejagung RI sejak Noveber 2023. Sebelumnya pernah menjabat Kepala Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta.

Kunjungan ini sekaligus menjadi momentum untuk memperkenalkan Pulau Penyengat secara lebih luas sebagai destinasi yang menawarkan perpaduan sejarah Kerajaan Melayu, kebudayaan, tradisi intelektual, dan warisan Islam dalam satu kawasan. (zah)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.