Kampung Adat Sade Akan Dibangun Kembali, Pemerintah Siapkan Rekonstruksi dan Mitigasi Kebakaran
Idham Khalid August 26, 2026 10:07 AM

 

TRIBUNLOMBOK.COM, LOMBOK TENGAH - Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan NTB Ahmad Hariri mengatakan, pembangunan kembali Kampung Adat Sade nantinya akan melibatkan berbagai pemangku kepentingan.

Pihaknya akan berkoordinasi dengan Direktorat Jenderal Kebudayaan dan Tradisi serta Dinas Kebudayaan NTB agar proses rekonstruksi Kampung Adat Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, dapat berjalan terarah.

"Karena kita akan membuat desainnya dulu, kemudian kita akan berkoordinasi dengan dinas PUPR untuk menghitung anggaran kebutuhan," kata Hariri.

Namun, Hariri menegaskan proses rekonstruksi belum dapat dilakukan dalam waktu dekat. Pemerintah terlebih dahulu harus menyusun desain pembangunan kembali sekaligus menghitung kebutuhan anggaran.

Hariri meminta masyarakat maupun pihak lain tidak sembarangan membersihkan atau mengambil barang dari reruntuhan bangunan yang terbakar. Sebab, masih ada kemungkinan benda pusaka dan peninggalan bersejarah yang tersisa di lokasi.

Baca juga: Pemprov NTB Bentuk Satgas Pemulihan Desa Adat Sade untuk Percepat Rehabilitasi

Ia menyayangkan adanya orang yang mengambil barang dari lokasi sebelum pendataan dilakukan secara utuh.

"Barangkali itu sisa-sisa benda pusaka, segala macam, sementara kita belum melakukan pendataan secara utuh," ujarnya.

Menurut Hariri, proses pembangunan kembali nantinya tidak hanya berorientasi pada pemulihan fisik bangunan. Aspek mitigasi bencana, khususnya kebakaran, juga akan menjadi bagian penting dalam desain Kampung Adat Sade.

Ia mengatakan sistem peringatan tradisional yang pernah digunakan masyarakat adat dapat kembali digali untuk mendukung sistem mitigasi bencana.

"Apakah itu dengan kentongan, atau dengan siulan tertentu, atau dengan tepuk tangan tertentu. Secara tradisi biasanya ada," ujarnya.

Sistem tradisional tersebut, kata Hariri, dapat dipadukan dengan teknologi dan sarana mitigasi modern, seperti jaringan air, alat pemadam api ringan (APAR), serta hidran.

"Barangkali kalau kita padukan lagi kita akan menerapkan mitigasi lebih modern, saya rasa itu juga diperlukan," katanya.

Selain sarana pemadam, kesiapsiagaan masyarakat juga dinilai penting. APAR akan diupayakan tersedia di titik-titik strategis dan penggunaannya perlu diikuti dengan pelatihan bagi masyarakat.

"Kemudian kita menyediakan APAR di titik-titik strategis sehingga bisa dimanfaatkan oleh masyarakat dan juga diiringi dari pemahaman masyarakat sendiri, harus ada pelatihannya," ujar Hariri.

Sebelumnya, ebakaran melanda Kampung Adat Sade pada Sabtu (22/8/2026) sekitar pukul 22.00 WITA. Kobaran api dengan cepat menjalar di antara rumah-rumah adat yang selama ratusan tahun menjadi ruang hidup masyarakat Sasak.

Berdasarkan data Posko di lokasi, sedikitnya 75 kepala keluarga atau sekitar 300 jiwa terdampak. Sebanyak 75 rumah adat terbakar, disusul satu masjid, empat berugak seknem, enam berugak sekempat, delapan lumbung padi, 69 artshop, satu Bele Beleq, satu gerbang adat, serta satu lumbung gamelan.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.