Situasi Lalu Lintas di Batulicin Tanahbumbu Lancar Tanpa Gangguan Asap
Ratino Taufik August 26, 2026 10:51 AM

BANJARMASINPOST.CO.ID, BATULICIN — Aktivitas masyarakat dan arus lalu lintas di jalan Ahmad Yani, Kelurahan Batulicin Kecamatan Batulicin di Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan, atau tepatnya di pertigaan pelabuhan ferry Batulicin, tetap berjalan normal pada Rabu (26/8/2026). 

Meskipun kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sempat melanda sejumlah wilayah, kabut asap tidak sampai mengganggu jalanan maupun kawasan perkotaan di Batulicin dan Simpang Empat.

Denyut perekonomian warga di pasar harian, seperti Pasar Ampera dan Pasar Minggu, terpantau ramai seperti biasa. 

Begitu pula dengan kegiatan belajar mengajar di sekolah-sekolah yang tetap berlangsung tanpa hambatan, di mana para orang tua masih leluasa mengantarkan anak-anak mereka.

Kondisi kondusif ini relatif berbeda dengan dinamika di wilayah tetangga seperti Banjarbaru yang sempat terpapar kabut asap. 

Pasalnya, Tanah Bumbu sendiri sebenarnya tak luput dari ancaman karhutla sejak penetapan status siaga pada 1 Juli 2026 lalu.

Baca juga: Kabut Asap di Jalan Gubernur Syarkawi Banjar Mulai Menipis, Pekan Lalu Jarak Pandang Hanya 5 Meter

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tanah Bumbu, tercatat ada 24 peristiwa karhutla hingga pertengahan Agustus. 

Kebakaran tersebut menghanguskan total luasan lahan mencapai 74,8 hektar yang tersebar di lima kecamatan, yakni Batulicin, Simpang Empat, Kusan Tengah, Kusan Hulu, dan Mantewe.

Tim satgas gabungan di lapangan sejauh ini baru berhasil mengendalikan sekitar setengah dari total area terdampak. Musibah terparah melanda Desa Saring Sungai Binjai di Kecamatan Kusan Tengah, di mana kobaran api melalap sekitar 20 hektar lahan.

Para petugas darat harus berjuang ekstra keras lantaran medan menuju titik api utama terbilang sulit dijangkau. "Total luasan lahan yang terbakar 74,8 hektar, dan yang tertangani 38,8 hektar," ujar Kepala BPBD Kabupaten Tanah Bumbu, Sulhadi, Rabu (19/8/2026) saat merilis data penanganan karhutla.

Sulhadi membeberkan bahwa akses lokasi yang terisolasi dan krisis pasokan air menjadi kendala utama personel di lapangan. Panjang selang pemadam sering kali tidak sanggup menjangkau pusat kebakaran.

Meski begitu, proses pemadaman di beberapa titik masih terbantu oleh kondisi alam setempat. Keberadaan parit yang menampung debit air di wilayah Gunung Tinggi, misalnya, menjadi tumpuan penting pasokan air bagi armada pemadam yang bertugas.

(Banjarmasinpost.co.id/Muhammad Fikri Syahrin)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.