Berada di Tempat yang Sama untuk Rakyat Indonesia
Rizali Posumah August 26, 2026 11:22 AM

Penulis: Olly Dondokambey, Politikus PDIP.

Politik membutuhkan keberanian untuk berbeda, tetapi juga membutuhkan kebesaran hati untuk bersatu. Yang utama adalah Indonesia.

*

Ada foto-foto yang hanya merekam sebuah peristiwa. Namun, ada pula foto yang menyimpan cerita jauh lebih panjang daripada apa yang tampak padanya. 

Dua foto ini misalkan. (tampil foto 1 dan 2 tahun 2015)

BERTEMU - Dokumentasi pertemuan politik pada 2015. Nampak mantan Gubernur Sulawesi Utara Olly Dondokambey dengan sejumlah tokoh politik nasional.
BERTEMU - Dokumentasi pertemuan politik pada 2015. Nampak mantan Gubernur.lo-8r
BERTEMU - Dokumentasi pertemuan politik pada 2015. Nampak mantan Gubernur Sulawesi Utara Olly Dondokambey dengan sejumlah tokoh politik nasional.

Di dalamnya tampak sejumlah tokoh politik berdiri bersama. Ada yang tersenyum, ada yang tertawa, dan ada pula yang berjabat tangan. Tidak ada kesan ketegangan. Tidak ada sekat yang terlihat. Yang tampak justru suasana akrab, seolah perbedaan yang pernah ada untuk sementara diletakkan di luar bingkai.

Bagi saya, foto ini bukan sekadar dokumentasi pertemuan politik pada 2015. Ia adalah potongan kecil dari sebuah perjalanan demokrasi Indonesia. Perjalanan ketika perbedaan politik yang sempat begitu tajam perlahan menemukan ruang untuk berdialog.

Tahun 2015 bukanlah masa yang sederhana dalam politik Indonesia.

Setahun sebelumnya, Pemilihan Presiden 2014 menghasilkan pertarungan politik yang sangat kuat. Dua kekuatan besar terbentuk: Koalisi Indonesia Hebat (KIH) di sekitar pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla dan Koalisi Merah Putih (KMP) yang berada di luar pemerintahan. Konstelasi tersebut tidak hanya terasa dalam kontestasi eksekutif, tetapi juga terbawa ke parlemen.

DPR periode 2014–2019 pada awalnya bahkan menghadapi ketegangan serius antara KIH dan KMP. Perebutan posisi dalam alat kelengkapan dewan dan perbedaan konfigurasi politik membuat parlemen berada dalam suasana yang cukup gaduh. Konflik itu kemudian melahirkan kesepakatan untuk mengakhiri pertentangan kelembagaan antara kedua kubu pada November 2014. 

Karena itu, foto yang memperlihatkan tokoh-tokoh dari latar politik berbeda berdiri bersama memiliki makna yang lebih besar jika dibaca dalam konteks tersebut. Ia memperlihatkan bahwa politik tidak selalu harus berakhir pada pertentangan. 

Ada saatnya kita berkompetisi. Ada saatnya kita berdebat. Tetapi ada pula saatnya kita duduk bersama.

Itulah salah satu hal penting yang sering terlupakan dalam demokrasi.

Demokrasi memang membutuhkan perbedaan. Tanpa perbedaan, tidak ada kompetisi gagasan. Tidak ada kritik. Tidak ada mekanisme untuk saling mengoreksi. Pemerintah membutuhkan oposisi, sementara oposisi membutuhkan ruang untuk mengawasi pemerintah. 

Hanya saja, demokrasi juga membutuhkan kemampuan untuk menemukan titik temu. Sebab negara tidak mungkin berjalan dengan logika bahwa setiap orang yang berbeda pilihan politik harus diperlakukan sebagai lawan selamanya.

Foto ini mengingatkan pada satu fase penting ketika komunikasi antara dua kekuatan politik mulai dibangun kembali.

Pada Mei 2015, tokoh-tokoh KIH dan KMP hadir dalam satu forum di Jakarta. Pertemuan tersebut menunjukkan bahwa garis pemisah antara dua koalisi tidak selalu harus menjadi tembok yang tidak bisa dilewati. Bahkan dari kalangan politik sendiri muncul gagasan bahwa kompetisi dan kebersamaan seharusnya memiliki ruang masing-masing.

Kita boleh berbeda pilihan ketika berada di arena politik. Tetapi silaturahmi tidak seharusnya putus hanya karena pilihan politik. Pandangan seperti itu penting karena politik pada dasarnya adalah ruang negosiasi. 

Tidak semua kepentingan bisa dimenangkan. Tidak semua gagasan dapat diterima seluruhnya. Tidak semua perbedaan harus dihilangkan. Yang dibutuhkan adalah kemampuan mengelola perbedaan.

Dalam konteks itulah, berjabat tangan dalam sebuah foto dapat memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar gestur seremonial. Jabat tangan menunjukkan kesediaan untuk mengakui keberadaan pihak lain. Ia tidak selalu berarti setuju terhadap semua hal. Ia juga tidak berarti perbedaan telah hilang.

Jabat tangan adalah tanda bahwa dialog masih mungkin dilakukan. Dan selama dialog masih mungkin dilakukan, demokrasi masih memiliki ruang untuk bekerja.

Saya melihat foto ini sebagai pengingat bahwa perjalanan politik seseorang tidak pernah berdiri sendiri. Di balik sebuah posisi terdapat proses panjang. Ada rapat, perdebatan, negosiasi, keputusan, tekanan, kritik, bahkan kesalahpahaman. Ada pula tanggung jawab kepada konstituen dan masyarakat yang memilih.

Berada di parlemen bukan semata-mata tentang menduduki sebuah kursi. Di sana terdapat amanah. Setiap keputusan memiliki konsekuensi. Setiap pilihan politik dapat memengaruhi kehidupan masyarakat. Karena itu, perbedaan pendapat seharusnya tidak berhenti pada perebutan pengaruh, tetapi harus berujung pada pertanyaan yang lebih penting, keputusan seperti apa yang paling bermanfaat bagi rakyat?

Pertanyaan itulah yang seharusnya mengembalikan politik kepada tujuan awalnya.

Bukan siapa yang menang. Bukan siapa yang paling kuat. Bukan pula siapa yang berhasil menundukkan lawan. Melainkan apa yang dapat dihasilkan dari seluruh proses politik itu untuk masyarakat. Di masyarakat, muncul kesadaran bahwa dukungan politik dapat berubah mengikuti kepentingan dan tantangan yang dihadapi bangsa.

Politik memang seperti itu. Kawan politik hari ini belum tentu menjadi kawan politik selamanya. Lawan politik hari ini juga belum tentu akan menjadi lawan selamanya.

Konstelasi berubah. Kepentingan berubah. Tantangan berubah. Orang-orang yang berada dalam satu barisan dapat mengambil jalan berbeda, sementara mereka yang pernah berseberangan dapat kembali duduk dalam satu meja.

Karena itu, politik seharusnya tidak dibaca hanya melalui siapa bersama siapa pada satu waktu tertentu. Yang lebih penting adalah bagaimana para pelaku politik menjaga agar perubahan konstelasi tersebut tidak mengorbankan kepentingan publik.

Di sinilah makna rekonsiliasi menjadi penting. Rekonsiliasi bukan berarti semua orang harus memiliki pandangan yang sama. Rekonsiliasi juga bukan berarti kritik harus dihentikan. Dan rekonsiliasi bukan berarti oposisi harus kehilangan fungsi pengawasannya.

Sebaliknya, rekonsiliasi adalah kemampuan untuk membedakan antara perbedaan gagasan dan permusuhan pribadi. Kita dapat berbeda pendapat mengenai kebijakan, tetapi tetap saling menghormati. Kita dapat mengkritik pemerintah tanpa membenci orang-orang di dalamnya. Kita dapat berada di luar pemerintahan tanpa menganggap seluruh kebijakan pemerintah pasti salah.

Begitu pula mereka yang berada di pemerintahan harus mampu menerima kritik tanpa menganggap semua kritik sebagai ancaman. Demokrasi yang matang membutuhkan kemampuan semacam itu. Sebab jika setiap perbedaan politik berubah menjadi permusuhan, maka energi bangsa akan habis untuk mempertahankan sekat-sekat politik. 

Sebaliknya, jika perbedaan dapat dikelola, energi politik dapat diarahkan kepada persoalan yang lebih besar, yakni ekonomi, pendidikan, kesehatan, kemiskinan, lapangan kerja, ketahanan pangan, pembangunan daerah, dan kesejahteraan masyarakat. Karena itu, ketika melihat kembali foto ini bertahun-tahun kemudian, yang terasa bukan hanya nostalgia. Ada pelajaran politik di dalamnya.

Foto tersebut mengingatkan bahwa manusia politik pada akhirnya tetap manusia yang dapat bertemu, berbicara, tertawa, dan berjabat tangan, meskipun pernah berada dalam barisan yang berbeda. Di ruang politik, perbedaan adalah keniscayaan. Tetapi bangsa membutuhkan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar kemenangan satu kelompok.

Indonesia membutuhkan kemampuan untuk mempertemukan berbagai kepentingan dalam satu tujuan bersama. Itulah sebabnya rekonsiliasi politik tidak seharusnya dimaknai sebagai penghapusan perbedaan. Justru sebaliknya, rekonsiliasi merupakan cara untuk menjaga agar perbedaan tidak berubah menjadi perpecahan.

Kita membutuhkan oposisi. Kita membutuhkan kritik. Kita membutuhkan perdebatan. Tetapi kita juga membutuhkan kesediaan untuk duduk bersama ketika kepentingan bangsa mengharuskannya. Dalam pengertian itu, foto ini menjadi semacam pengingat visual tentang kedewasaan demokrasi.

Bahwa ada waktu untuk berkompetisi dan ada waktu untuk bekerja sama. Ada waktu untuk mempertahankan pendirian dan ada waktu untuk berkompromi. Ada waktu untuk berdiri di sisi yang berbeda dan ada waktu ketika kepentingan yang lebih besar memanggil kita untuk berdiri di tempat yang sama.

Waktu telah berjalan jauh sejak foto ini diambil. Wajah-wajah di dalamnya mungkin telah menjalani perjalanan politik masing-masing. Jabatan berubah. Partai dan koalisi mengalami pergeseran. Sebagian orang mungkin telah meninggalkan posisi yang dahulu mereka tempati. Sebagian lainnya menempuh jalan politik yang sama sekali berbeda.

Ada satu hal tetap relevan: tidak ada jabatan yang berlangsung selamanya. Yang tersisa pada akhirnya adalah jejak. Jejak keputusan. Jejak perjuangan. Jejak keberanian mengambil sikap. Dan, yang tidak kalah penting, jejak bagaimana seseorang menggunakan kekuasaan dan kepercayaan yang pernah diberikan kepadanya.

Foto tahun 2015 ini layak dibaca lebih dari sekadar kenangan. Ia mengingatkan bahwa perjalanan politik bukan hanya tentang memenangkan kontestasi, melainkan tentang bagaimana setelah kontestasi selesai kita tetap mampu bekerja untuk kepentingan yang lebih besar.

Pemilu akan datang dan pergi. Koalisi akan terbentuk dan berubah. Kekuasaan berpindah tangan. Tetapi Indonesia tetap ada. Dan karena Indonesia tetap ada, kepentingan bangsa harus selalu lebih besar daripada kepentingan koalisi.

Pada akhirnya, politik membutuhkan keberanian untuk berbeda, tetapi juga membutuhkan kebesaran hati untuk bersatu. Dua koalisi boleh berjalan melalui jalan yang berbeda. Dua kelompok politik boleh memiliki strategi yang tidak sama. Bahkan perdebatan keras pun merupakan bagian dari demokrasi. Namun ketika kepentingan rakyat berada di hadapan kita, seharusnya tidak ada lagi KIH atau KMP, tidak ada lagi kubu pemerintah atau kubu oposisi.

Yang ada adalah Indonesia. Mungkin itulah pesan paling sederhana yang dapat dibaca dari sebuah foto lama. Bahwa pernah ada masa ketika orang-orang yang berada di sisi berbeda memilih untuk berdiri bersama. Dan bertahun-tahun kemudian, foto itu kembali mengingatkan kita: demokrasi bukan hanya tentang kemampuan untuk berbeda, tetapi juga tentang kemampuan untuk menemukan alasan yang lebih besar untuk tetap bersama.

Jauh lebih penting adalah apa yang kita lakukan selama dipercaya berada di dalam perjalanan itu, serta jejak apa yang kita tinggalkan ketika waktunya berlalu. (Ord)

WhatsApp Tribun Manado: Klik di Sini

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.